marriage without love

marriage without love
Episode 14


Ah, Devan ingat sekarang meskipun tak semuanya apa yang sudah ia lakukan semalam, semalam ia begitu bersenang-senang setelah sekian lama.


"Jangan ikut campur urusan ku! "Tegasnya, meskipun Devan mengingat kejadian semalam, ia enggan untuk memberitahu wanita yang sedang menangis di depannya.


Toh, tidak ada untung ruginya juga bagi Devan jika tidak memberitahunya.


"Bagaimana jika kita bercerai saja ...? "Lirihnya yang sudah merasa tak sanggup menjalankan rumah tangganya bersama Devan.


"Terserah saja, jika kau ingin membuat orang tuamu malu. Kita menikah mendadak dan sekarang kau ingin bercerai mendadak juga. "


Anaya terdiam, apa yang dikatakan Devan memang benar. Apalagi, dirinya sedang hamil dan pernikahannya juga masih tergolong baru. Pasti orang-orang akan mulai memandang rendah dirinya dan juga keluarganya kalau sampai melakukan hal seperti itu, sedangkan Devan terlihat biasa saja. Ia tak terlalu memikirkan reputasi keluarganya.


"Jika kau mengerti, lebih baik jangan ikut campur dengan urusanku lagi! " Devan sudah tahu. Orang seperti Anaya tak akan mau mengorbankan keluarganya, benar-benar wanita yang mudah ditebak.


Devan tak mau ada orang lain yang mengurusi dan ikut campur mengenai urusan pribadinya, sekalipun Anaya yang sudah berstatus istrinya.


Anaya hanya mampu tertunduk lemas, tenaganya seperti habis terkuras. Seharusnya sedari awal memang dirinya tak usah ikut campur dengan masalah Devan.


Selama ini hanya dirinya saja yang menganggap Devan sebagai suami, namun tidak sebaliknya. Sepertinya Devan hanya menganggap dirinya sebagai wanita pemuas nafsu ketika sedang bersama di rumah, sungguh manusia yang tak punya hati.


Setelah kepalanya terasa agak mendingan, Devan segera bangkit mengenakan pakaiannya. Mendengar suara wanita yang menangis itu hanya membuat perasaannya menjadi buruk. Lebih baik ia keluar, mencari udara segar sekaligus cuci mata.


Anaya menatap punggung Devan yang mulai menghilang di balik pintu dengan tatapan yang menyiratkan berjuta luka.


Anaya berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan dirinya, setelah napasnya mulai teratur. Anaya memutuskan untuk memindahkan semua barang-barangnya yang ada disini menuju kamar yang ada dilantai bawah.


Rasanya sudah tak mungkin baginya untuk tetap tinggal satu ruangan dengan Devan, sebisa mungkin Anaya memindahkan barang-barangnya sebelum Devan kembali.


.


"Apa yang kau lakukan disini?! " Dengan ciri khas orang baru bangun tidur, Arvin menyipitkan matanya pada Devan yang sudah ada di apartemennya.


"Aku merasa bosan di rumah. "Ucapnya yang duduk mengadah dengan posisi kaki yang berada di atas meja, yang terdapat banyak sampah bekas sisa makanan Arvin.


Arvin menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu sesekali menguap, penampilannya masih terlihat begitu berantakan dengan pakaian yang masih sama persih seperti tadi malam.


"Kejam sekali, masa kau meninggalkanku! "Protes Arvin.


"Salahmu sendiri. "


Diantara ketiganya Arvin lah yang paling lemah dengan alkohol, tapi ia juga yang selalu paling banyak meminumnya.


"Ternyata kau disini juga? "Devan baru tau kalau Robby juga ada di apartemen Arvin, ketika melihatnya keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambutnya yang agak basah.


"Kau pikir siapa yang membawanya pulang? "Robby melirik Arvin yang sedang duduk dengan malas di sebelah Devan.


Tadi malam ketika Robby pergi, tak lama kemudian dirinya kembali lagi. Ketika kembali Robby sudah tak menemukan Devan disitu, dan hanya melihat Arvin yang sedang meracau tak jelas seorang diri, dengan beberapa botol minuman yang sudah kosong.


Robby memang sengaja kembali untuk menjemput Arvin, karena dirinya yakin kalau Devan akan meninggalkan sahabat mereka yang selalu berlebihan dalam hal minum-minum itu.


Robby hanya khawatir, takutnya Arvin akan menjalankan mobilnya sembarang arah dalam keadaan tak sadar. Sehingga menyebabkan kecelakaan karena menabrak atau tertabrak sesuatu.


"Kau benar-benar gila, Dev? " ucap Robby membuat Devan menaikkan salah satu alis tebalnya.


"Apa yang kau katakan?? "Bingungnya.


"Kau tetap melakukannya dengan wanita itukan?! "Wanita yang dimaksud Robby adalah wanita yang ada di club tadi malam.


Ternyata wanita itu, "tentu saja. "Sahutnya tak bersalah, mana mungkin Devan tak melakukannya. Sedangkan dirinya sudah membooking sebuah kamar di sebuah hotel.


"Kau menyakiti Anaya, Dev! "Ia selalu merasa kasihan dengan wanita yang tak bersalah itu.


"Berhentilah, Robb!! Kau selalu membawa-bawa nama wanita itu! "Devan sudah muak dengan nama wanita yang selalu keluar dari mulut Robby.


"Aku hanya ingin mengingatkan mu! Kau sudah beristri, Dev!! Kau juga akan segera memiliki seorang anak! "


"Berisik! Aku tak butuh keduanya ...! Aku tak membutuhkan seorang istri, apalagi sorang anak! "


"Sekarang kau memang tak membutuhkannya, tapi lihat saja nanti. Kau pasti menyesalinya! "Geram Robby, bisa-bisanya Devan mengatakan hal yang begitu keterlaluan dengan begitu mudahnya.


Arvin hanya menatap bingung keduanya yang terlihat adu mulut, ia tak tahu menahu dengan masalah yang mereka berdua ributkan. Karena ia tak dapat mengingat semua yang terjadi tadi malam.


"Kalian berdua berhentilah! "Arvin mencoba melerai keduanya yang sama sekali tak terlihat akan berhenti.


Robby menatap sinis Arvin, "Kau juga bersalah karena tidak membantuku melarangnya! "


"Kau kira Devan akan mendengarkan apa yang kita katakan, "Arvin melirik Devan yang sudah terlihat emosi, tak jauh berbeda dengan Robby yang berdiri tak jauh darinya dan juga Devan.


Melarang Devan hanya membuang-buang waktu saja, Arvin sudah tau bagaimana keras kepalanya seorang Devan, karena bukan baru setahun atau dua tahun mereka berteman.


"Sudah lah, Robb! "Arvin menyela begitu cepat ketika melihat Robby ingin kembali membuka mulutnya.


"Biarkan saja, lagian itu rumahnya tangganya. Kita tak berhak ikut campur. "Ikut campur juga percuma saja.


Bukannya Arvin membela atau membenarkan perilaku Devan, hanya saja mau dikatakan seperti apapun kalau orang yang bersangkutan tak menerima masukan , ya mau bagaimana lagi.


"Apa kau tak merasa bersalah? Bukankah kau yang memberikan ide pada Devan untuk melakukan sesuatu yang buruk pada Anaya! "Ucap Robby panjang lebar, mengungkit kejadian yang sudah lalu.


"Gara-gara ide bodoh mu itulah sampai membuat Anaya harus berakhir dengan lelaki macam Devan!! "


Robby tampak begitu frustasi, dirinya selalu merasa bersalah ketika mengingat kejadian yang terjadi saat di villa beberapa bulan lalu. Andai saja ia berusaha lebih keras untuk menghentikan rencana gila itu, pasti semuanya akan baik-baik saja. Dan Anaya tak perlu menikah dengan Devan, karena mengandung benihnya.


Arvin terdiam ia tak mampu menjawab perkataan Robby. Jika ditanya menyesal atau tidak, tentu saja dirinya menyesal. Andai tau akan seperti ini mana mungkin ia mau memberi saran gilanya pada Devan.


"Kau begitu membela wanita itu, jangan-jangan kau menyukainya? "Devan membuat senyum simpul di bibirnya.


"Aku tidak menyukainya, tapi aku kasihan dengannya. Wanita sebaik dirinya tak pantas dengan pria sepertimu! "Robby terang-terangan menghina Devan di depannya.


"Apa kau merasa dirimu pantas! Kau tak lebih baik dariku!! Dasar kau sialan! "


Devan yang sudah termakan emosi bangkit ingin memukul Robby, untungnya Arvin dengan sigap menahan tubuh Devan yang sudah ingin melayangkan tinjunya.


"Robb, berhentilah! "Ucap Arvin yang masih menahan Devan.


Robby tersenyum kepada Devan dengan mata yang menatap sinis, sebelum mengambil jaketnya yang tergantung di dekat pintu. Dan setelah itu segera pergi meninggalkan apartemen Arvin tanpa mengucapkan sepatah katapun.


.


.


.


.


Terimakasih untuk para readers sekalian, yang sudah berkenan membaca ceritaku😊