marriage without love

marriage without love
Episode 32


Anaya menghampiri Devan yang sedang duduk di balkon, dengan sebilah rokok yang menemaninya.


Anaya menyuguhkan teh hangat yang baru ia buat untuk Devan, "Dev, ponselku apakah kau bisa mengembalikannya? "Pintanya pada Devan yang sedang menghisap rokoknya.


Devan menaruh puntung rokoknya pada sebuah asbak yang ada diatas meja, "untuk apa? "Tanyanya pada Anaya yang duduk di berhadapan dengannya.


"Pasti kau ingin menelpon mantan mu itukan?! "Tuduhnya.


"Tidak, aku hanya ingin melihat koleksi film yang ada di ponsel ku. "Jelas Anaya pada Devan yang selalu menuduhnya.


Dan jujur saja, Anaya merasa sedikit aneh karena sudah beberapa hari ini ia tidak memegang ponselnya.


"Dev? "Panggilnya lagi.


"Apa?! Dasar berisik! "Ketus Devan pada Anaya yang belum juga menyerah.


" ... Ponselku, bisakah kau mengembalikannya?? "Anaya masih mencoba memohon pada Devan, meskipun wajah Devan sudah terlihat cukup kesal.


Devan diam saja, ia menyeruput teh yang tadi Anaya bawa sebelum mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam yang tadi dipakai olehnya, kemudian memberikannya pada wanita itu.


"Dev, ini bukan punyaku? "Anaya menatap bingung Devan, jelas-jelas itu bukan ponsel miliknya.


"Ponsel mu masih ku sita! Kau bilang hanya ingin menonton film kan?! Jadi pakai saja itu!! "Devan masih tidak mau mengembalikannya, jadi Devan meminjamkan ponsel pribadi miliknya pada Anaya.


"Kalau tidak mau yasudah! Kembalikan saja!! "Ucapnya lagi, padahal Anaya tak mengatakan apapun.


"T-tidak aku akan memakainya! "Anaya membawa ponsel Devan ke tempat tidur. Seperti kata Devan, untuk sementara ia akan memakai ponsel milik pria itu.


Devan yang baru selesai merokok masuk ke dalam kamar. Ia menemukan Anaya yang tidur duduk bersandar, dengan ponsel yang masih menyala. Sepertinya, wanita itu ketiduran.


Devan mematikan ponselnya yang masih menyala, menaruhnya diatas nakas.


"Heh! "Devan menepuk pipi Anaya, membuat wanita itu merasa terganggu, lalu mulai mengerjapkan matanya.


"Apa kau akan tidur dengan posisi seperti itu? "Ucap Devan pada Anaya yang setengah sadar. Jika wanita itu tidur begitu, Devan akan kesulitan memeluknya saat tidur.


Anaya merebahkan tubuhnya, setelah itu kembali tidur dengan posisi menyamping, membelakangi Devan.


Devan yang sudah ikut berbaring melingkarkan tangannya pada Anaya yang tidur membelakanginya. Tidak lama kemudian Devan menarik kembali tangannya dengan gerakan yang begitu cepat, ia terkejut karena merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam perut wanita yang sedang ia peluk.


"Heh! Anaya!! "


"Ada apa, Dev ...? "Anaya yang merasa tubuhnya berguncang menjadi terbangun kembali, dan selah membuka mata, ternyata Devan yang sudah mengganggu tidurnya.


"Perutmu! Ada yang bergerak didalamnya!! "Devan terlihat begitu terkejut setelah mendapati pergerakan itu.


"Apa maksudmu, Dev? "Anaya yang masih mengantuk tidak terlalu menangkap maksud dari ucapan Devan.


"Kubilang ada yang bergerak di perutmu!! "Jelasnya lagi.


Ah, sekarang Anaya mengerti, "itu karena pergerakan bayinya, Dev ..., "jelasnya dengan senyum yang mengambang di bibirnya.


"Akhir-akhir ini, bayinya sangat aktif bergerak. "Ucap Anaya.


Devan terlihat bingung, meskipun pernah belajar waktu sekolah dulu. Tetapi, sekarang ia sudah tak ingat. Apalagi Devan bukan murid yang pintar, ia saja dengan kedua sahabatnya Robby dan juga Arvin pernah tidak naik kelas sebanyak tiga kali, karena terlalu sering bolos dan membuat keributan sewaktu masih sekolah.


Devan kembali meletakkan tangannya diperut Anaya, sudut bibirnya sedikit terangkat ketika kembali mendapat pergerakan yang membuatnya terkejut tadi.


Devan sama sekali tak tahu-menahu mengenai wanita hamil, ia juga baru tahu jika bayi yang berada didalam perut bisa membuat pergerakan seperti itu.


Entah mengapa hatinya menjadi terasa agak senang, "kau hamil sudah berapa bulan? " Tanya Devan yang merasa sedikit penasaran.


"Enam bulan, "jelasnya, yang berarti sudah selama lima bulan mereka menikah dan hidup satu atap.


'Perasaan apa ini? 'Batinnya.


Tangan besar Devan mengusap lembut perut Anaya, Devan merasa hatinya menghangat ketika melakukan itu. Anaya juga merasa sangat senang ketika Devan menyentuh perutnya.


"Dev, "Anaya merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Devan. Matanya terlihat berkaca-kaca, ia begitu terharu karena mendapat perhatian kecil dari pria itu, yang tak lain ayah dari bayi yang saat ini sedang ia kandung.


"Ada apa lagi dengan mu?! "Heran Devan, mendapati Anaya yang seperti ingin menangis.


"Tidak ada, sepertinya bayinya merasa senang. "Anaya mendekati Devan, menenggelamkan wajahnya di dada telanjang milik Devan yang begitu bidang.


"Apa kau sedang menginginkan ku berada dalam milikmu. "Bisik Devan pada Anaya yang berprilaku tak seperti biasanya.


"T-tidak ..., "Anaya semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Devan, ia merasa malu karena pria itu selalu mengatakan kata-kata yang begitu vulgar.


Devan membelai punggung Anaya, membuat wanita itu merasa nyaman, lalu kembali tidur. Sebelum tidur, Anaya berharap semoga saja Devan bisa selalu berlaku hangat seperti ini sampai seterusnya.


.


Drttt..


Drttt...


Anaya mengambil ponselnya yang berjejer dengan milik Devan diatas nakas, lalu menggeser tombol berwarna hijau.


Orang yang menelpon adalah ibunya, Norma. Norma menelpon hanya sekedar untuk memberitahu, jika besok siang mereka akan mengadakan acara makan keluarga disebuah restauran untuk merayakan ulang tahun ayahnya, Bowo. Dan setelah itu, Norma menutup telponnya.


Anaya melirik Devan, rupanya pria itu masih tidur nyenyak. Anaya memeriksa ponselnya diam-diam, sebelum Devan terbangun. Ia penasaran dengan isi pesan ataupun panggilan yang masuk di ponselnya.


Ketika Anaya mulai memeriksa ternyata semua pesan maupun panggilan yang masuk sudah dihapus oleh Devan. Isi ponselnya benar-benar bersih, tak ada apapun.


Anaya membelalakkan matanya ketika melihat hampir separuh kontaknya hilang, sepertinya Devan menghapus semua kontak pria yang ada di ponselnya. Bahkan kontak kakak iparnya juga tidak ada, kecuali miliknya dan ayahnya, Bowo.


"Apa kau baru saja menelpon kekasih mu? "Tanya Devan yang baru bangun dan mendapati Anaya yang memegang ponselnya diam-diam.


"Dev, apa yang kau lakukan dengan ponselku? "Ada sedikit nada kesal ketika Anaya mengatakannya.


"Aku tidak melakukan apa-apa, memangnya kenapa? "Ucapnya yang malah balik bertanya. Devan sungguh merasa tak melakukan apapun pada ponsel milik Anaya, ia hanya menghapus beberapa foto dan beberapa kontak yang tak penting saja, beserta dengan isi chat nya.


"Bukankah kau sedikit keterlaluan! "Padahal ada beberapa nomor penting juga di ponselnya, tapi gara-gara Devan semuanya hilang. Meskipun Anaya biasanya hanya diam dan menerima perlakuan Devan, tapi dirinya juga bisa merasa kesal.


"Apa kau marah sekarang? Pasti kau begitu karena aku sudah menghilangkan kontak kekasih mu itu, benarkan?! "Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Devan malah ikut marah.


Anaya menghembuskan nafasnya, "aku tidak marah, hanya saja kau sudah keterlaluan, Dev. "Tidak seperti tadi, kali ini Anaya mengatakan dengan suaranya yang lembut.


"Kalau begitu, ya sudah! "Sahutnya sebelum beranjak pergi ke kamar mandi. Ia sedang malas meladeni Anaya, karena jika diteruskan dan ia mulai membentak pasti wanita itu akan menangis, dan hal itu nantinya akan membuat paginya terasa tidak menyenangkan. Jadi Devan lebih baik menghindar saja untuk hari ini.


.


.


.


.


Jangan lupa jejaknya 😁😁