marriage without love

marriage without love
Episode 33


Seperti kata Norma kemarin, hari ini meraka akan berkumpul di sebuah restauran ternama sebagai perayaan hari ulang tahun ayahnya.


Anaya masih bersiap-siap, begitu juga dengan Devan.


"Heh, mana pakaianku?! "Devan yang baru selesai mandi hanya duduk di ranjang dan memerintah Anaya. Padahal wanita itu juga sedang begitu sibuk.


"Cepatlah! "Devan hanya memerintah tanpa berniat melakukan keperluannya sendiri.


Anaya yang baru selesai memoles pelembab di bibirnya, buru-buru pergi kepada Devan yang terus mendesaknya dengan satu setelan pakaian.


"Cih! Lambat sekali! "Protesnya pada wanita yang kini sedang membantunya mengancingkan kemeja yang ia kenakan.


Setelah selesai membantu Devan, Anaya kembali ke meja rias. Dirinya masih belum selesai memoles wajahnya.


"Apa kau ingin jadi badut di sana?! "Devan memicingkan matanya ketika Anaya kembali memakai riasan di wajahnya, padahal riasannya begitu sederhana dan terlihat sangat natural, sama sekali tidak berlebihan.


"Benarkah ...? Apa riasannya terlalu tebal?? "


"Sampai terlihat seperti topeng saking tebalnya! "Ucap Devan asal-asalan.


Anaya yang menjadi tak percaya diri menghapus riasan di wajahnya, dan hanya menyisakan pelembab yang ada di bibirnya saja.


"Dev, kenapa rambutmu masih seperti itu? "Rambut Devan masih terlihat sama dengan dirinya ketika baru keluar dari kamar mandi tadi, masih acak-acakan.


"Aku sedang menunggu mu! "Tukasnya, biasanya memang Anaya yang membantunya merapikan rambut ketika ia ingin bepergian.


"Aku kan sedang sibuk, Dev ..., "tuturnya lembut. Anaya kira Devan akan melakukannya sendiri karena dirinya sedang sibuk juga.


Anaya membawa sebuah sisir dan minyak rambut mahal milik Devan, lalu mulai merapikan rambut hitam lebat milik pria itu. Devan malas merapikan rambutnya sendiri, ia menyukai sentuhan lembut tangan Anaya. Pokoknya semenjak ada Anaya, Devan sudah bertingkah laku seperti seorag raja, yang apa-apa harus serba dilayani.


Devan bangkit memeluk tubuh Anaya yang berdiri di depannya, menyambar bibir merah muda Anaya yang terlihat begitu menggairahkan. Devan merapatkan tubuh mereka sampai menempel satu sama lain.


"Dev ..., "Anaya sampai terengah-engah menerima ciuman yang dilakukan Devan dengan begitu memburu.


"Kita tak bisa melakukannya ..., "ucap Anaya ketika merasakan milik Devan yang terasa menonjol.


Ck! Devan melepaskan pagutannya dengan agak kesal.


.


Ketika baru sampai, ternyata Anaya dan Devan lah orang yang paling terakhir datang. Anggota keluarganya sudah pada menunggu.


"Apa yang kalian berdua lakukan sampai terlambat?? "Tanya kakaknya, Desy dengan wajah menggoda.


Anaya hanya tersenyum, bagaimana tidak terlambat jika hanya dirinya sendiri yang melakukan semuanya. Sedangkan Devan hanya duduk diam, memerintah lalu mendesaknya.


"Kenapa diam saja? Pasti sebelum kesini kalian berdua memang melakukan sesuatu kan?? "Goda Desy lagi.


"Berhentilah, Des ... Mungkin saja kamu yang melakukan sesuatu sebelum kesini, "celetuk mamahnya, Norma. Membuat Alan, suami Desy menjadi terbatuk karena kaget.


"Sudahlah ... Lebih baik kita mulai pesan makanan saja! "Ucap Bowo.


Sembari menunggu makanan disajikan mereka mengobrol.


"Papah sangat senang karena masih diberi umur panjang, dan bisa berkumpul dengan kalian seperti ini. "Ucap Bowo yang kini sudah berusia 51 tahun.


"Kami juga senang, semoga papah selalu diberi kesehatan. "Ucap Anaya dengan senyuman yang merekah.


Mereka semua terlihat begitu menikmati makanan yang telah tersaji. Ketika mereka sedang asik menyantap makanan, Kayla tiba-tiba berlari kesebuah meja yang berjarak tak terlalu jauh dari mereka.


"Kayla, kemana sayang ...? "Alan mengejar Kayla yang sedang menghampiri seseorang yang duduk membelakangi mereka.


"Om Ian, "panggil Kayla, membuat orang yang tadi membelakangi mereka menoleh kebelakang, kearah suara anak kecil yang memanggilnya.


"Kayla ..., "Ryan sangat terkejut, bagaimana bisa keponakan Anaya ada disini. Ryan mengangkat Kayla dalam gendongannya.


"Kay, sama siapa kesini ...? "Tuturnya lembut pada gadis kecil dalam gendongannya.


"Pantas saja anak ini berlari kesini, ternyata ada kamu, Yan. "Alan tampak senang bertemu dengan Ryan, mantan kekasih adik iparnya. Karena memang Ryan sudah cukup akrab dengan semua anggota keluarga Anaya, termasuk Alan.


"Iya, tadi ada pekerjaan yang harus dibahas disini. "Jelas Ryan.


"Apa kalian hanya berdua saja?? "


"Tidak, kami datang bersama-sama. "Alan memberitahu Ryan, jika mereka sedang melakukan makan bersama sebagai perayaan hari ulang tahun ayah mertuanya.


"Benar! Hari ini kan harinya om Bowo! "Ryan lupa, padahal ia juga pernah beberapa kali ikut merayakan ketika dirinya sedang tidak sibuk.


Alan membawa Ryan yang ingin mengucapkan selamat kepada om Bowo.


"Om, "sapa Ryan.


"Nak, Ryan! "Bowo bangkit dari tempat duduknya, memeluk Ryan. Dirinya begitu antusias dengan kedatangan mendadak dari mantan kekasih putrinya.


"Semoga om selalu diberi kesehatan. "Ucap Ryan tulus.


Norma juga tampak begitu senang, meskipun putri mereka sudah berpisah dengannya, tapi tetap saja mereka masih menyukai Ryan. Bagi mereka Ryan sudah bukan orang lain lagi.


Sebenarnya mereka sangat menyayangi hubungan Ryan dan Anaya, tapi mau bagaimana lagi jika mereka memang tidak berjodoh.


Desy menyenggol kaki Alan yang duduk disampingnya. Alan menoleh kearah Desy dengan alis yang terangkat.


Desy memberikan kode kepada suaminya menggunakan ujung matanya, yang melirik kearah Devan yang terlihat tak suka dengan kehadiran Ryan, ekspresi wajahnya saja begitu tak bersahabat.


"Hai, Ann ... "Ryan menyapa Anaya yang berada disamping Devan, ia tak memiliki niat apapun. Ryan hanya tulus ingin menyapa saja.


Meskipun masih sangat mencintai Anaya, Ryan tak akan memaksa wanita itu untuk berpisah dengan Devan, lalu kembali padanya. Tetapi, jika Anaya masih ingin bersamanya, Ryan akan dengan senang hati menerimanya kembali.


Anaya membalas dengan senyumannya, sama seperti Ryan, ia juga masih sangat mencintai pria itu. Bahkan ketika mata mereka bertemu, keduanya masih menatap dengan penuh kasih.


"Berhenti menatapnya, "bisik Devan ditelinga Anaya, yang langsung membuat Anaya memutuskan kontak mata mereka.


Devan menatap Ryan yang duduk di sebelah Bowo dengan begitu tajam, tangannya saja sampai mengepal begitu kuat. Mengapa juga si sialan itu harus ada disini juga, membuat suasana hatinya jadi buruk saja.


Kedekatan keluarga Anaya pada Ryan juga membuat Devan merasa tidak nyaman, saking akrabnya mereka terlihat seperti keluarga yang sesungguhnya. Menyebalkan sekali.


Jelas saja begitu, bukannya Bowo atau norma pilih kasih. Tetapi seandainya boleh jujur, mereka memang lebih menyukai Ryan ketimbang Devan. Ryan memiliki etika yang begitu baik, sedangkan Devan sudah begitu terkenal dengan berbagai macam keburukannya.


"Hmm! "Desy berdehem untuk memecahkan suasana yang terasa sedikit aneh diantara mereka bertiga.


"Setelah ini kita kemana lagi, pah? "Mereka baru selesai makan, dan Desy bertanya kemana lagi tujuan mereka selanjutnya.


"Kalau papah dan mamah akan pulang ke rumah saja. "Bowo dan Norma tidak berniat pergi kemanapun setelah dari restauran, mereka akan menghabiskan waktu bersantai di rumah.


"Kalau begitu kami juga akan pulang. "Ucap Desy.


"Bagaimana dengan kalian berdua?? "Desy melihat kearah Adiknya.


Anaya yang tidak tahu melirik pada Devan dengan tatapan bertanya, "Dev ..? "Ucapnya.


Devan hanya mengangkat bahunya acuh, kalau Devan sih maunya setelah ini menghajar wajah Ryan. Tapi tidak mungkin kan ia mengungkapkan keinginannya itu, Apalagi sekarang ada orang tua Anaya disini.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. 😁