
Hari ini sebelum berangkat kerja, Devan telah mengunci seluruh pintu di kediamannya, kuncinya juga dibawa olehnya. Untuk sementara waktu, Devan akan mengurung Anaya di rumah. Ia tak memperbolehkan wanita itu pergi kemanapun, kecuali bersama dengannya.
Devan tak akan memberikan kesempatan sedikitpun pada Anaya untuk bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Makanya Devan menyekap Anaya di dalam rumah, jika tidak begitu, mungkin saja wanita itu akan bertemu diam-diam seperti kemarin. Walaupun, faktanya tidak seperti itu.
Ketika Devan sedang fokus membaca dokumen di hadapannya, tiba-tiba saja Robby masuk kedalam ruang kerjanya. Robby dan Arvin memang bisa keluar masuk seenaknya di perusahaan milik Devan, karena sudah diberi izin olehnya.
Devan menaikkan sebelah alisnya, "tumben sekali kau datang kesini? "Ucapnya pada Robby yang memang jarang menemuinya ketika sedang bekerja.
"Aku hanya sedang senggang, "sahutnya yang sudah mengambil tempat di sofa dalam ruangan Devan.
"Kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh kan, Dev? "Robby sebenarnya agak mengkhawatirkan Anaya, ia takut Devan akan melakukan sesuatu yang buruk pada wanita itu, setelah melihat foto yang idiot Arvin itu kirim kemarin.
"Apa maksud mu? "Devan tak mengerti dengan maksud perkataan Robby.
"Anaya, kau tidak melakukan sesuatu yang buruk kan kepadanya? "Robby langsung to the point saja, ia tak suka basa-basi.
Devan meletakkan kembali dokumen yang sudah ia baca diatas meja.
"Kenapa kau sangat ingin tahu jika mengenai wanita itu? "Devan menatap Robby tak suka karena Robby selalu ikut campur tentang wanita itu.
"Tentu saja, aku kan tau betapa bodohnya dirimu! "Ucap Robby sejujur-jujurnya.
"Heh, Dev!! "Devan tak menghiraukan Robby, ia malah kembali fokus dengan pekerjaannya. Jelas sekali kalau Devan sudah melakukan sesuatu pada wanita itu.
Ini semua gara-gara Arvin, Arvin lah biang keladi masalah ini. Entah mengapa Robby merasa kedua temannya hanya bisa membuatnya merasa kesal saja.
Robby sadar jika dirinya bukan orang baik, maka dari itu ia berharap bisa mendapatkan teman yang lebih baik dari pada dirinya. Tapi lihat saja kenyataanya, ia malah berteman dengan orang yang seperti Devan dan Arvin. Kelakuan mereka bertiga hanya sebelas, dua belas, hampir tak ada bedanya.
"Lihat saja kau Dev! Aku tidak akan membantumu jika kau memiliki masalah! "Robby sungguh kesal dengan Devan yang malah bersikap tak tahu menahu, dan mengabaikannya.
Robby tahu jika dirinya terlalu ikut campur mengenai hubungan sahabatnya, tapi mau bagaimana lagi. Dirinya tak tega dengan Anaya, Robby hanya ingin Devan bisa bersikap lebih baik dengan istrinya. Dan sebagai seorang sahabat, Robby juga tak mau melihat Devan menyesal karena sudah kehilangan wanita sebaik Anaya dikemudian hari.
"Jika kau terus seperti ini, aku yakin cepat atau lambat Anaya akan kembali lagi bersama Ryan. "Ucap Robby yang berhasil membuat Devan melihat kearahnya.
"Apa maksud, Robb? memang apa bagusnya si sialan itu sampai membuat Anaya kembali padanya?? "Devan mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan tak masuk akal yang baru saja keluar dari mulut Robby.
"Dev, apa kau tak sadar diri? Tentu saja dia lebih baik darimu seandainya aku wanita, aku juga akan memilihnya dari pada dirimu! "
Robby tidak sedang berbohong sekarang, dirinya serius ketika mengatakan Ryan lebih baik dari Devan, meskipun Devan sahabatnya.
"Benarkah? Lalu apa kelebihannya si sialan itu, sehingga membuatnya lebih baik dariku?! "Yang benar saja, berani sekali Robby mengatakan pria macam Ryan lebih baik darinya.
"Gila kau, Dev! Masa aku harus memberitahumu satu-persatu! "Robby menatap lelah Devan, sulit memang kalau punya teman yang tak pernah sadar diri.
"Kau kira ada wanita yang sanggup bertahan dengan kepribadian mu? Ayolah, Dev ...! Seandainya bukan Anaya yang kau nikahi, kau pasti sudah lama jadi seorang duda. "
Apa memang benar yang dikatakan oleh Robby, Devan rasa tak ada yang salah dengan kepribadiannya. Bukankah kepribadiannya normal-normal saja, seperti orang pada umumnya.
"Sok tau, kau saja belum punya pasangan. "Remeh nya, memang tau apa Robby tentang wanita.
"Ini bukan soal punya atau tidaknya pasangan, tapikan faktanya memang seperti yang ku katakan. "Andai saja Robby menemukan wanita seperti Anaya, pasti sudah ia nikahi dari dulu. Dan akan ia perlakukan sebaik mungkin, sampai membuat wanita itu cinta mati padanya.
"Sebagai sahabat, aku hanya ingin memberitahumu. Jika kau tak ingin Anaya kembali dengan Ryan, maka ubahlah sedikit sikap kasar mu itu, Dev. "Jelasnya lagi, semoga saja Devan mau mendengar ucapannya.
.
Padahal hari ini Anaya berencana untuk berkunjung ke rumah orang tuanya, tapi karena Devan tak memberi ijin, Anaya hanya berdiam diri di rumah. Jangankan memberi ijin pergi, pintu rumah saja Devan kunci dari luar agar ia tak bisa kemana-mana.
Anaya yang merasa jenuh memilih untuk pergi ke dapur, membuat beberapa cake. Anaya hanya ingin membuatnya saja, tanpa berniat memakannya untuk mengurangi sedikit rasa bosan yang ia alami.
Setelah selesai dengan cake nya, Anaya kembali merasa bosan, ia hanya duduk termenung tanpa melakukan apapun. Ponselnya juga sudah disita oleh Devan kemarin dan sampai sekarang masih belum dikembalikan juga.
.
Setelah Robby pergi, Devan yang baru selesai dengan pekerjaannya mengeluarkan ponsel Anaya yang sudah ia sita.
Devan yang penasaran dengan apa yang ada didalamnya, mulai menghidupkan kembali ponsel yang sengaja ia matikan sebelumnya.
Ketika sudah menyala, matanya disuguhkan oleh wallpaper boneka beruang berwarna coklat yang terlihat begitu lucu dimata Anaya, mungkin. Karena dimata Devan terlihat biasa saja.
Devan membuka galeri di ponsel itu, "huh! " ucapnya ketika dirinya menemukan begitu banyak foto wanita itu bersama dengan Ryan, bahkan foto mereka ketika masih remaja juga masih ada di ponselnya, hebat sekali bukan.
Begitu banyak foto mereka yang terlihat begitu dekat, bahkan ada sebuah foto ketika Ryan sedang mencium salah satu pipi Anaya yang terlihat sedang tersipu malu.
Cih! Ingin sekali rasanya Devan membuang ponsel yang ada di tangannya.
Devan yang merasa sangat kesal membersihkan galeri Anaya dari per sekian banyaknya foto Ryan yang bertebaran disitu. Bahkan Devan tak menyisakan satupun foto Ryan, baik fotonya sendiri maupun fotonya ketika sedang bersama Anaya.
Setelah itu, Devan memeriksa chat yang masuk. Ia menemukan sebuah nomor tak dikenal, menilai dari isi percakapannya, sepertinya itu dari Ryan. Tanpa pikir panjang Devan langsung memblokir nomor itu.
Devan juga memeriksa kontak milik Anaya, ia sedikit terkejut ketika menemukan begitu banyak kontak laki-laki di ponsel milik wanita itu.
Devan kembali menyentuh layar ponsel milik Anaya, Devan menghapus hampir separuh kontak yang ada disitu. Devan tak peduli jika itu orang penting atau tidak, itu bukan urusannya. Ia hanya ingin menghilangkan sesuatu yang membuatnya merasa kesal dan terganggu, itu saja.
.
.
.
.
.