marriage without love

marriage without love
Episode 46


Malam ini Devan dan Anaya menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh Dion, teman sekolah mereka dulu, dalam rangka memperingati hari pernikahan mereka yang sudah berjalan selama dua tahun.


Atas kehendak istri Dion, mereka mengadakan konsep acara outdoor, yang tepatnya diadakan di pinggir sebuah kolam renang yang sudah dihias menjadi sedemikian rupanya.


Anaya yang memang tak terlalu akrab dengan yang lainnya hanya berdiri disebelah Devan. Ia tak tau harus melakukan apa, karena biasanya ada Bella yang menemaninya. Tapi sahabatnya itu masih belum kembali, setelah pergi bersama suaminya, Nick.


Ketika Anaya menatap orang-orang yang mulai berdatangan, matanya tak sengaja menangkap sosok Ryan yang juga sedang melihat kearahnya, membuat mata mereka berdua saling bertemu.


Karena Ryan melemparinya dengan sebuah senyuman yang begitu tulus, maka Anaya juga membalasnya. Devan yang menyadari hal itu langsung menarik tangan Anaya, membawa wanita itu menjauh ke tempat yang tak dapat dilihat oleh si mantan kekasih tercintanya.


Dengan tangan Anaya yang berada dalam genggaman tangannya, Devan pergi menghampiri kedua sahabatnya yang sedang dikelilingi oleh beberapa wanita nan cantik dan juga seksi.


"Devan! Ku kukira kau tak datang!! "Bukan Arvin dan Robby yang mengucapkannya, melainkan seorang wanita cantik yang juga sedang berada disitu.


Devan menaikan sebelah alisnya,


"Amanda, "sapa nya.


"Bukannya tidak datang, aku hanya sedikit terlambat, "ucapnya lagi.


"Ku kira kau sudah lupa denganku! "Wanita itu terlihat begitu senang karena Devan masih mengingatnya, bahkan namanya juga.


"Mana mungkin dia lupa, dia kan pernah tidur denganmu! "Celetuk Arvin, yang langsung disikut oleh Robby karena tak bisa menjaga mulutnya.


"Tutup mulutmu, atau aku akan menghajarmu. "Bisik Robby.


Arvin yang baru menyadari ucapannya langsung menatap Anaya yang juga berada disitu dengan senyum canggung, sepertinya ia baru saja membuat masalah lagi.


Anaya melepas gandengan tangannya pada lengan Devan, "mau kemana kau? "Tanya Devan pada Anaya yang terlihat buru-buru.


"T-tidak, aku hanya ingin mencari tempat duduk untuk beristirahat. "Anaya langsung pergi menjauh, hatinya terasa sakit ketika mendengar Devan pernah tidur dengan wanita cantik itu.


Devan tidak mengikuti Anaya, ia membiarkan wanita itu pergi sendirian karena dirinya sedang ingin menikmati waktu pesta bersama teman-temannya.


Amanda menatap sinis kepergian Anaya dengan sebuah senyuman menghina yang tercetak di bibirnya. Sungguh pemandangan yang begitu mengganggu melihat wanita itu menempel disebelah Devan.


Anaya pergi cukup jauh, ia tak mau melihat dan mendengar apa yang sedang mereka lakukan ataupun ceritakan. Semakin banyak yang ia mendengar, makan semakin besar juga rasa kecewa yang ia dapatkan.


Seharusnya dirinya tak perlu merasa kecewa, harusnya ia juga sudan siap akan hal itu setelah menikah dengan Devan. Mungkin saja kedepannya ia akan terus bertemu dengan para wanita yang pernah Devan tiduri.


Padahal Anaya sudah begitu tau dengan masa lalu Devan, tapi tetap saja ia merasa begitu sulit menerimanya, apalagi ketika berhadapan langsung dengan orangnya.


Tak jauh dari tempat Anaya yang sedang duduk melamun, ada Ryan yang sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu sendu.


Sungguh menyedihkan sekali, padahal dulu mereka selalu bersama. Selama dirinya tidak sibuk, Ryan selalu setia menemani wanita itu kemanapun ia pergi. Tapi sekarang ia bahkan tak bisa mendekati wanita itu. Dirinya hanya bisa menatapnya dari kejauhan, seperti yang dilakukannya saat ini.


Andai saja Ryan menuruti egonya, sudah pasti ia akan berlari memeluk Anaya, mantan kekasih yang masih begitu ia cintai. Tapi Ryan sadar diri dengan posisinya, ia tak mau membuat wanita itu mendapatkan masalah hanya gara-gara keegoisannya.


Sedangkan ditempat Devan dan kawan-kawan semakin banyak orang yang berkumpul, bahkan sang pemilik acara juga ikut bergabung dengan mereka.


"Mana istri mu? "Tanya Dion yang tak melihat keberadaan Anaya.


"Dia duduk di sana, "Meskipun tak terlalu jelas karena jauh, Devan masih bisa melihat keberadaan Anaya yang sedang duduk sendirian.


Amanda mendekati Devan, "Haruskah kita mencari tempat duduk juga, "ucapnya yang kini sudah bergelayut manja di lengan Devan, setelah kepergian Anaya.


Robby menatap Amanda tak suka karena memeluk lengan pria yang sudah beristri dengan begitu tak tahu malu, apalagi Devan hanya diam saja membiarkan wanita itu bergelantungan di lengannya. Sedangkan istrinya malah dibiarkan duduk sendirian.


"Dev, jika kau begitu terus aku akan merebut istrimu! "Tukas Robby, yang tak tahan melihatnya. Bahkan Robby sengaja meninggikan suaranya, agar Devan bisa mendengarnya lebih jelas.


Gila sekali memang Devan, masa ia tak menjaga perasaan Anaya yang ikut bersamanya.


Devan menghempaskan tangan Amanda yang ada di lengannya, lalu memicingkan matanya pada Robby yang sedang bicara omong kosong ingin merebut Anaya darinya.


"Devan, ada apa?! " Protes Amanda karena tangannya yang dihempas kasar oleh Devan.


"Jaga bicara mu, Robb! "Ucapnya tak suka.


"Jika kau ingin aku menjaga bicaraku, maka kau juga harus menjaga perilaku mu!! "Balas Robby.


Andai saja ia tak mengancam Devan seperti itu, pasti temannya itu akan tetap membiarkan Amanda memeluk lengannya.


Heran sekali Robby dengan kebodohan Devan yang tak ada habisnya.


"Hei, ayolah ... Masa kalian ingin bertengkar disini. "Lerai Arvin yang merasa tak enak dengan Dion sang pemilik pesta.


"Devan, "ketika Amanda ingin kembali menyentuhnya, Devan langsung menepis tangan wanita itu.


"Jangan menyentuhku!! "Bahkan Devan sampai membentak Amanda.


Amanda terkejut mendengar Devan yang baru saja menolaknya begitu kasar, "A-aku permisi sebentar. "Amanda pamit pergi ke toilet lantaran merasa malu dan kesal, karena perbuatan Devan yang terang-terangan menolaknya di hadapan orang banyak.


Dan ini semua terjadi gara-gara Robby yang membicarakan istri Devan, andai saja Robby tetap diam. Pasti Devan tak akan menolaknya seperti sebelumnya.


.


Amanda merapikan penampilannya, lalu menambahkan sedikit lipstik berwarna merah di bibirnya.


"Kurang ngajar! " kesalnya dengan tangan yang mengepal.


Amanda menatap cermin yang ada di depannya, menampilkan wajahnya yang terlihat sangat kesal. Berani sekali Devan menolaknya seperti itu di depan orang-orang. Padahal, Devan tau jika ia sudah lama menyukainya.


Bahkan di jaman ketika mereka masih sekolah, Amanda sudah begitu mengejar-ngejar Devan. Tetapi, sayangnya Devan tak pernah menghiraukannya, apalagi membalas perasaannya.


Amanda tidak peduli dengan sisi buruk Devan, ia tetap menyukainya. Dan setelah mereka melakukan hubungan badan, Amanda semakin menyukainya. Walaupun, Devan bukan laki-laki pertama yang menyentuhnya.


Ia sudah sangat tergila-gila dengan pria itu. Wajahnya, tubuhnya, suaranya, bahkan juga hatinya. Amanda sungguh sangat menginginkannya, rasanya Amanda hampir gila ketika mendengar kabar Devan menikah.


"Awas saja kau wanita sialan! "Geramnya.


Jika ia tidak bisa memiliki Devan, maka orang lain juga tak boleh mendapatkannya, karena hanya dirinya lah yang pantas bersanding dengan pria itu.


Jangan lupa jejaknya para readers sekalian😎