marriage without love

marriage without love
Episode 19


Anaya dan Bram memasuki sebuah kamar rawat inap VIP.


"Lama sekali kau, Bram! "Protes Devan.


"Maaf, tuan. "Baru juga sampai, tapi Bram sudah harus mendengar suara protes dari tuan Devan yang begitu tak sabaran.


"Kau juga ikut, "Devan melirik Anaya yang berdiri di samping Bram.


"Aku ingin menjenguk papah, "Ucapnya.


Devan mengabaikan Anaya dan beralih ke Bram, sang sekertaris. "Kau kembalilah ke perusahan! "Perintahnya, karena masih banyak yang harus Bram lakukan disana.


Sebelum Bram pergi, Anaya mengucapkan terima kasih karena sudah mau menunggu dan membawanya.


"Terima kasih, "ucapnya dengan seutas senyum yang terbit di bibirnya.


"Sama-sama, nyonya. "Balas Bram sebelum ia pergi.


Bram tidak berani memanggil istri tuannya dengan nama ketika tuan Devan sedang bersama mereka, ia merasa tak pantas dan kurang sopan.


Anaya mendekati Devan yang duduk di sebuah sofa yang terletak di dekat jendela dalam ruangan itu.


"Apa kamu sudah makan? "Tanyanya, pada Devan yang terlihat fokus dengan ponsel yang ada ditangannya.


"Belum, "Devan memang belum makan dari tadi malam dan ia juga sudah melewati jam sarapannya.


Mendengar itu, Anaya langsung mengeluarkan wadah makanan yang sudah ia siapkan tadi di rumah sebelum berangkat, dan mulai membukanya satu persatu, ia memang sengaja membawanya untuk Devan.


Ketika Anaya selesai menyiapkannya, Devan menyimpan ponselnya sebentar sebelum mulai menikmati makanan yang Devan yakini buatan wanita itu sendiri.


"Ternyata nak Anaya disini juga."


Mendengar suara ayah mertuanya membuat Anaya segera mengalihkan pandangannya ke ranjang pasien, dimana sang ayah sedang berbaring.


"Cepat sekali bangunnya, kenapa tak tidur lebih lama, "bukan Anaya yang mengatakannya, melainkan Devan.


Arion malas menghiraukan Devan, "Apa kau membawa makanan untuk papah juga. "Tanyanya pada Anaya dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat.


"Anaya hanya membawa buah-buahan saja untuk papah, "Anaya menghampiri Arion, meninggalkan Devan yang masih belum selesai makan.


"Sayang sekali, padahal aroma makanan punya Devan tercium sampai sini. "Meskipun kepalanya masih terasa sakit dan berat, Arion terlihat senang mengobrol dengan menantunya. Meskipun jarang bertemu tapi keduanya sudah terlihat seperti ayah dan anak sungguhan, malah Devan yang tak terlihat seperti anaknya kandungnya.


Sebelumnya, ketika Arion dan Bowo masih sangat akrab dan sering bertemu karena urusan bisnis mereka. Arion sering mendengarkan Bowo yang selalu menceritakan kedua anak perempuannya, yang tak lain Anaya dan juga kakaknya, Desy.


Dan ia juga pernah beberapa kali bertemu Anaya ketika ia masih remaja, tapi siapa sangka jika anak itu sudah menjadi menantunya sekarang.


"Jika papah sudah tak mau hidup lebih lama makan saja, sisanya masih ada! "Ucap Devan yang baru selesai makan.


Jika ada yang mengatakan Devan tidak memiliki sopan santun pada ayahnya, itu memang benar. Tapi begitulah memang cara mereka berkomunikasi dari dulu, walaupun begitu bukan berarti Devan tidak menyayangi ayahnya.


Anaya membantu Arion yang ingin duduk bersandar di ranjangnya, Arion terlihat memejamkan matanya sebentar karena bagian belakang kepalanya yang terasa berat.


"Jika kau sibuk pergilah, papah akan bersama istrimu saja." Arion tahu Devan sedang mengerjakan sebagian pekerjaannya melalui ponselnya sekarang.


"Benar, jika kamu sibuk aku bisa menemani papah disini. "Anaya setuju dengan apa yang Arion katakan, karena dirinya tak melakukan apapun. Ia juga sudah berhenti bekerja beberapa minggu lalu karena merasa stres banyak pikiran, sehingga membuatnya tak bisa fokus bekerja, dan karena itulah Anaya memilih untuk resign.


"Berisik! Aku akan pergi jika aku ingin pergi!! "Kesalnya, karena mereka berdua terdengar seolah-olah mengusirnya.


"Dev, apakah memang begitu caramu berbicara dengan istrimu! "Tegur Arion, sambil memegang kepalanya yang terasa bertambah pusing mendengar Devan yang tak memiliki sopan santun.


"TidakĀ  apa-apa. "Arion kembali membaringkan tubuhnya, bagian belakang kepalanya kembali terasa sangat berat sekarang.


Arion bersyukur, untung saja kemarin ia tak jatuh terlalu keras dan meninggalkan luka serius. Ia hanya mendapat sedikit benjol di kepala karena menghantam lantai.


Anaya yang tak ingin mengganggu Arion yang beristirahat kembali ke sofa dimana Devan berada, dan sekarang ruangan kembali menjadi sangat hening setelah Arion dan Anaya berhenti bicara.


Suasana yang terasa hening membuat Anaya mengantuk, setelah beberapa kali menguap Anaya memutuskan untuk menyadarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Umm ..., "


Devan yang tadi sedang fokus mengalihkan pandangannya pada sumber suara, sebelah alisnya sedikit terangkat melihat Anaya yang tertidur dengan posisi duduk bersandar. Sepertinya, wanita itu merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya.


"Heh! "Devan membangunkan Anaya.


"Jika kau mau tidur pulang saja! "Ucapnya lagi pada Anaya yang baru mengumpulkan kesadarannya.


Anaya melirik jendela kaca rumah sakit yang menampilkan langit senja, rupanya hari sudah begitu sore.


Anaya merapikan rambut panjangnya yang terlihat sedikit berantakan sebelum mengambil tas dan wadah makan yang tadi dibawanya.


"Dev, kau juga pulanglah. "Arion menyuruh Devan ikut pulang bersama Anaya.


"Lagian keadaan papah sudah agak mendingan, besok pagi juga akan di izinkan pulang. "Ucapnya lagi sebelum Devan menolaknya.


Meskipun anaknya itu kerap membuat masalah, membuat malu, tidak punya sopan santun, dan sering membantahnya. Tapi ia tahu, anak laki-laki semata wayangnya itu sangat khawatir dan mencemaskannya.


"Ck! "Devan kesal disuruh pulang, padahal ia masih ingin menemani orang tua itu, takutnya ia akan kesepian jika tinggal sendirian. Tetapi siapa sangka, orang tua itu malah menyuruhnya pulang.


"Kalau begitu besok pagi aku akan kembali menjemput papah! "Ucap Devan pada akhirnya.


"Anaya sama Devan pamit pulang ya, pah. "Pamit Anaya sebelum mereka benar-benar keluar dari ruangan itu.


.


Ketika Anaya sudah bersiap-siap tidur, pintu kamarnya kembali terbuka.


"Apa kamu akan tidur disini? "Tanya Anaya pada Devan yang menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, sebelahnya.


"Terserah ku saja, Inikan rumahku! "Sahutnya.


Setelah kepulangan mereka dari rumah orang tua Anaya, Devan tak pernah tidur di kamarnya yang ada di lantai atas. Ia selalu turun kebawah dan ikut tidur disitu, bahkan sebagian barang-barangnya juga mulai ada dikamar itu.


Tapi meskipun begitu, Anaya tak terlalu merasa takut lagi dengan Devan. Pria itu juga tak pernah lagi pulang larut malam, paling ia terlambat karena lembur saja biasanya. Anaya harap semoga saja Devan bisa seperti itu seterusnya, meskipun cara bicaranya masih sedikit kasar. Tetapi, Anaya merasa bersyukur karena sudah tak separah dulu.


Ketika Anaya mulai terhanyut dalam tidurnya, ia merasa ada sebuah tangan yang melingkari perutnya. Anaya yang tahu tangan itu milik siapa membiarkannya begitu saja. Akhir-akhir ini Devan memiliki kebiasaan tidur baru, jika dulu Devan selalu tidur dengan posisi tengkurap, sekarang pria itu tidur dengan posisi menyamping sambil memeluk Anaya.


Bukan hanya tangannya yang memeluk, tapi kakinya juga ikut-ikutan. Anaya sudah dibuat seperti guling hidup miliknya.


.


.


.


.