
Hampir tengah hari Devan baru tiba di rumah sakit, ia sudah sangat terlambat untuk menjemput ayahnya.
"Apa yang membuatmu begitu terlambat? "Tanya Arion pada Devan yang baru menampakkan dirinya.
"Kau sangat terlambat, Dev! "Kesal Arion yang sudah menunggu begitu lama.
"Berhentilah protes, jika tak mau bertahan di rumah sakit karena kolestrol naik lagi. "Tukas Devan.
Andai Arion tahu Devan akan menjemput nya begitu terlambat, sudah pasti ia akan menyuruh supir pribadinya saja yang menjemput sedari awal. Jadi, ia tak perlu menunggu begitu lama.
"Dimana nak Anaya? "Tanyanya yang tak melihat sosok menantunya.
"Dia tidak ikut, kelelahan dan masih tidur. "Singkat Devan.
Arion menggelengkan kepalanya, ia bisa menebak apa yang sudah putranya lakukan pada menantunya, "jangan terlalu berlebihan Dev, istrimu sedang hamil. "Nasihatnya pada putranya yang terlihat bebal.
Jujur saja Arion tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada bayi yang Anaya kandung, karena Arion sangat menantikan cucu pertamanya.
Membayangkan menghabiskan waktu dengan cucunya di hari tuannya nanti pasti akan sangat menyenangkan.
Devan membantu ayahnya yang masih terlihat sedikit lemah, menuntunnya keluar dari rumah sakit.
.
Ketika Anaya baru bangun dirinya sudah tak mendapati keberadaan Devan di rumah. Sepertinya, Devan sudah pergi ke rumah sakit untuk menjemput ayah mertuanya.
Ketika Anaya mengingat kejadian tadi pagi bersama Devan, Anaya langsung menenggelamkan wajahnya di bantal yang ada di lututnya. Anaya merasa sangat malu dengan perbuatannya, bahkan saking malunya sampai membuat wajahnya memerah.
'Apa yang sudah ku lakukan, ' batinnya yang merasa sangat malu.
Anaya sungguh tak menyangka dirinya bisa melakukan hal yang sangat memalukan seperti tadi pagi, dirinya juga seakan tak percaya jika dia bisa seberani itu untuk menyentuh Devan lebih dulu. Anaya merasa sekarang dirinya sudah berubah menjadi wanita yang mesum.
Anaya mengangkat wajahnya yang ia benamkan di bantal ketika merasa perutnya terasa lapar.
Anaya memutuskan tuk pergi ke dapur, menuju kulkas lalu membukanya dan mengambil dua buah apel segar dari dalam situ.
Sebelum memakannya, Anaya mengupas kulitnya terlebih dahulu. Anaya tak suka makan apel yang tak dikupas.
Setelah selesai mengupasnya, Anaya memotong satu buah apel menjadi empat bagian, lalu menaruhnya dalam sebuah piring yang akan ia bawa ke kamarnya.
Ketika sudah berada di depan kamarnya, Anaya sedikit berlari dengan sepiring apel yang ia bawa, karena ponselnya berdering menandakan ada sebuah telpon masuk.
Anaya menggeser tombol berwarna hijau, mengangkat telpon yang ternyata dari sahabatnya, Bella.
Anaya menempelkan ponselnya pada telinga. "Halo, Bell. " ucapnya.
"Nay, apa kau besok sibuk?? "Bella yang ada diseberang bertanya pada Anaya.
"Sepertinya tidak, kenapa? " tanyanya disela-sela mulutnya yang memakan buah apel.
"Baguslah! Apa kau mau menemani ku untuk fitting baju besok? "
"Baiklah, tapi Nick. Apakah dia tidak ikut dengan mu? "
Bella memberitahu Anaya jika calon suaminya, Nick tak bisa pergi bersamanya karena sangat sibuk. Bukan hanya sibuk soal pekerjaan saja, tapi juga sibuk mengurus urusan perpindahan mereka ketika sudah menikah nanti.
"Kalau begitu besok jemput saja aku! "Ucap Anaya sebelum Bella mematikan telpon mereka.
.
Devan dan ayahnya baru saja tiba di rumah sepulang dari rumah sakit, kedatangan mereka langsung disambut oleh beberapa pekerja yang bekerja di rumah luas milik Arion.
Ketika mereka melewati ruang tamu, Devan dan ayahnya melihat dua sosok orang yang sudah tak asing lagi bagi mereka.
"Om! "Robby dan Arvin menghampiri Arion yang baru saja tiba bersama Devan.
"Om masih bisa berjalan sendiri! "Protes Arion, ia tak suka diperlakukan seperti orang yang sakit parah.
"Ayolah, om! Kalau jatuh lagi bagaimana?? "Tukas Arvin, yang diberitahu oleh Devan mengenai kondisi om Arion lewat telpon.
"Benar, om. Lebih baik menurut saja. "Robby juga setuju dengan apa yang baru saja Arvin katakan.
Ketika mendapatkan kabar dari Devan jika om Arion masuk rumah sakit, membuat Robby dan juga Arvin menjadi sangat terkejut. Mereka berdua sangat khawatir, karena mereka berdua sudah menganggap Ayah Devan sebagai ayah mereka juga.
Ketika mereka masih sekolah dulu, ayah Devan kerap memberikan uang jajan tambahan kepada mereka berdua, apalagi Arvin karena sering mendapat hukuman dari orang tuannya dan tak dapat uang jajan, maka dengan tak tau malu ia akan menemui ayah Devan untuk meminta uang dengan embel-embel meminjam yang sampai kini tak pernah digantinya.
"Om, kenapa cepat sekali pulangnya? Aku dan Robby kan jadi tak sempat menjenguk ke rumah sakit. "Arvin seakan menyayangi kepulangan Arion yang terlalu cepat.
"Anak kurang ajar! Apa kamu ingin melihat om sakit lebih lama? "
"Tidak, bukannya begitu. "Sahutnya.
Ketika Arvin dan Robby ingin menjenguk Arion, mereka kembali mendapat kabar dari Devan yang mengatakan jika mereka sudah dalam perjalanan pulang. Dan setelah mendapat kabar itu, mereka berdua memutuskan untuk menunggu di rumah om Arion saja.
"Sudahlah, om ingin ke kamar saja. "Devan mengantar ayahnya ke kamar sebentar sebelum kembali menemui kedua sahabatnya.
Devan yang sudah mengantar Arion, kembali menemui kedua sahabatnya yang berada di ruang tamu. Devan melihat kearah Robby yang ternyata Robby juga melihat kearahnya.
Setelah mereka adu mulut di apartemen Arvin dulu, keduanya masih belum pernah bertemu, dan ini pertemuan pertama mereka setelah kejadian itu.
"Apa kau tidak ingin minta maaf kepadaku? "Setelah saling pandang akhirnya Devan buka suara lebih dulu.
Robby menaikkan sebelah alisnya, "memang apa salah ku? "Robby merasa tidak ada melakukan kesalahan apapun pada Devan. Waktu di apartemen Arvin juga dia hanya berniat memberikan nasihat saja, meskipun dengan sedikit terbakar emosi karena Devan yang tak mau mendengarkannya.
"Sialan kau, Robb! "Umpat Devan.
"Kalian berdua berhentilah! "Arvin cepat-cepat melerai pembicaraan mereka sebelum keduanya kembali adu mulut.
Devan menuruti Arvin, sejujurnya ia juga merasa tak nyaman kalau harus bertengkar dengan sahabatnya Robby, begitupun sebaliknya.
"Wajah mu terlihat baik hari ini, "tanya Arvin pada Devan yang wajahnya nampak sumringah ketika baru datang tadi.
Ah, benar. Jika mengingat kejadian tadi pagi bibir Devan akan secara otomatis membuat sebuah senyuman. Meskipun aneh, tapi Devan juga merasa agak lucu jika mengingatnya.
"Pagi ini wanita itu melakukan sesuatu yang aneh. "Devan memberitahu sambil sedikit tertawa.
Robby agak tertarik dengan cerita Devan, "aneh seperti apa? "Tanyanya penasaran.
"Tiba-tiba saja dia melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan. "Jelasnya lagi.
"Dev, mungkin saja itu bawaan bayimu? "Arvin mengatakannya dengan begitu percaya diri, karena bisa jadi memang benarkan.
"Benar juga, Anaya kan sedang hamil. "Robby juga menyetujui ucapan Arvin.
"Sok tahu! "Tukas Devan pada keduanya.
Devan tampak berpikir, apakah memang benar apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu. Jangan-jangan mereka hanya asal ucap saja, mereka kan tak punya pengalaman apapun mengenai itu, sama sepertinya.
.
.
.
.
Terima kasih bagi para readers yang sudah membaca cerita saya😊