
Di tengah malam Anaya terbangun dan mendapati Devan yang terlihat kedinginan.
"Dev! "Anaya menggoyangkan tubuh Devan yang menggigil.
"Dingin sekali, "suara Devan sampai terdengar bergetar saking merasa dinginnya.
Anaya buru-buru mengambil selimut tambahan untuk Devan, tapi tetap saja Devan terlihat sangat kedinginan, seakan selimut tambahan itu tak memiliki efek apapun.
"Kemari lah ..., "Dengan suara yang masih bergetar, Devan menyuruh Anaya untuk masuk kedalam selimutnya.
Anaya merasa sedikit ragu, tapi ia tetap menurutinya.
Di saat Anya sudah ikut masuk kedalam selimut, Devan langsung memeluk tubuh Anaya yang memberikannya rasa hangat. Kemudian, menelusupkan wajahnya di sela dada wanita itu untuk mencari posisi yang nyaman.
Anaya membiarkan Devan memeluknya, bahkan tangannya kini membelai lembut rambut Devan dengan penuh kasih sayang. Semoga saja Devan cepat sembuh.
.
Meskipun cahaya matahari sudah mulai masuk melalui celah Gorden, Anaya dan Devan, keduanya masih tidur begitu pulas. Anaya ikut terlambat bangun karena tadi malam ia tak cukup tidur, karena jika Devan bangun dirinya juga ikut terbangun.
Drtt ....
Drrttt ....
Drrttt ....
Suara bising dari ponsel Devan yang berada di atas nakas terdengar begitu mengganggu.
"Dev ..., "ketika tangan Anaya menepuk pipi Devan ternyata suhu tubuhnya sudah kembali normal.
"Ada yang menelpon mu, Dev. "
"Angkat saja! "Sahutnya dengan suara yang sudah kembali seperti semula, tidak terdengar seperti kemarin yang terdengar lemah. Rasanya seperti sebuah kebohongan jika mengingat pria itu yang masih sakit tadi malam.
Anaya meraih ponsel Devan yang memang berada di dekatnya.
'Arvin brengsek ' itulah nama pemanggil yang tertera di layar ponsel Devan.
"Sialan! Lama sekali kau!! "Anaya yang baru menggeser tombol hijau bahkan belum sempat mengatakan halo, tetapi Arvin sudah mendahuluinya dengan mengatakan sebuah umpatan.
"Aku kira kau sudah mati karena begitu lama mengangkat telpon dariku! "Arvin terdengar begitu kesal ketika mengatakannya.
"H-halo, "ucap Anaya yang baru mendapat kesempatan bicara.
"Aku, aku Anaya ..., "ucapnya yang tak mendapat sahutan apapun.
"Halo? " Anaya bingung karena tak ada suara yang merespon di sebrang sana.
"Ah, ternyata Anaya, "Ucap Arvin yang baru menyahut, ia terdiam cukup lama karena merasa malu telah mengeluarkan umpatannya yang ditunjukkannya untuk Devan.Tetapi, malah Anaya yang menerimanya.
" Aku dan Robby sedang ada di depan rumah kalian. "Mereka berdua sudah cukup lama menunggu diluar sana, karena tak ada yang membukakan pintu untuk mereka.
"Benarkah?! Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan segera membuka pintu "Setelah panggilan dimatikan Anaya sedikit berlari untuk segera membukakan pintu rumahnya yang masih terkunci.
Anaya mempersilahkan Arvin dan Robby masuk kedalam rumah, mereka memang sering kemana-mana berdua karena Arvin yang selalu mengajak Robb, dan Robby juga selalu mengiyakan saja setiap ajakan dari Arvin.
"Kemarin aku datang ke kantor Devan, tapi kata sekertaris nya Devan sudah pulang karena sedang sakit. "Ucap Arvin.
"Iya, kemarin Devan memang pulang cepat karena sakit. "Jawabnya sopan.
"Bolehkah kami melihat Devan? "Tanya Robby, yang ingin melihat kondisi temannya.
"Tentu saja, "Anaya mengantar Arvin dan Robby ke kamar Devan, sebelum Anaya meninggalkan mereka Anaya membuka gorden kamar agar menjadi lebih terang. Setelah itu, baru dirinya pamit pergi keluar.
"Arvin, berhentilah!! "Robby menendang kaki Arvin yang menatap Anaya keluar kamar dengan pandangan yang berlebihan.
"Sialan kau! Dirimu juga melihatnya!! "Tukasnya Arvin, apa Robby kira ia tak melihat kalau dirinya juga terus memandang Anaya, munafik sekali.
"Wajar saja aku melihatnya seperti itu! Kau juga lihat kan betapa cantiknya Anaya!! Kurang ajar sekali Devan mempunyai istri seperti itu! "Arvin menatap sinis Devan yang masih belum juga bangun.
"Kalau mengenai itu, aku juga setuju! "Ucap Robby sependapat.
"Dev! Apa kau masih sakit?! "Arvin bertanya dengan suaranya yang begitu keras, bahkan Robby sampai memicingkan matanya mendengar suara Arvin.
"Kenapa kalian disini? "Devan yang masih mengantuk sedikit bingung melihat kedua temannya yang sudah berada di kamarnya.
"Arvin mengajak ku kesini, katanya kau sakit. "Jelas Robby.
"Tidak, bukan aku yang mengatakannya. Tapi Bram yang mengatakan kau sakit! "Jelas Arvin lagi.
"Aku hanya demam biasa, sekarang sudah sembuh. "Rasa panas dan sakit kepalanya memang sudah hilang, hanya saja tubuhnya yang masih terasa lemah.
"Baguslah kalau begitu, "Arvin bersyukur kalau Devan sudah sembuh.
Dari dulu sampai sekarang, jika Devan sedang sakit mereka berdua selalu datang menjenguk. Walaupun, mereka tidak bisa membantu atau melakukan apapun. Robby dan Arvin selalu datang, setidaknya mereka akan menemani Devan agar tidak terlalu merasa kesepian, meski hanya ikut duduk atau tidur saja lalu pulang.
Ditengah perbincangan mereka, Anaya kembali dengan sebuah nampan berisi teh panas yang ia buat untuk teman Devan.
Arvin yang tadi asik bicara terdiam sejenak menatap Anaya yang selalu berhasil membuatnya gagal fokus.
"Dev! Aku yakin Anaya pasti belum mandi, tapi lihat wajahnya! Apakah wajahnya yang tak memakai riasan memang secantik itu!! "Setelah Anaya keluar, Arvin kembali menjadi begitu heboh.
Benar kata Arvin, Anaya memang belum mandi. Wanita itu hanya mencuci muka dan gosok gigi saja tadi, ia saja masih mengenakan piyama lengan panjangnya ketika mengantar teh untuk Arvin dan Robby.
"sepertinya hatiku akan melompat jika terus menatapnya, "Lebay Arvin dengan tangan yang memegang dadanya.
"Makanya sudah kubilang berhenti menatapnya! "Jengah Robby.
Arvin yang duduk di sofa bersama Robby, melihat ke Devan yang duduk di ranjang dengan kaki yang menjuntai.
"Wah, kenapa kau diam saja? Apa kau cemburu, Dev?! "Melihat Devan yang tak mengatakan apapun membuat Arvin yang jahil ingin menggodanya.
"Kalau cemburu katakan saja, Dev. Tak usah malu-malu lah, "Arvin berusaha menahan tawanya ketika mengatakannya.
"Wajar saja cemburu, Anaya kan istrimu. "Ucap Robby, karena memang bukan hal yang aneh kalau Devan merasa cemburu.
"Aku malah senang kalau kau merasa seperti itu, "tambah Robby lagi. Jika Devan cemburu berati tandanya Devan memiliki rasa dengan Anaya dan kalau memang benar begitu, maka Devan akan berhenti menyakiti Anaya. Itulah yang Robby pikirkan sekarang.
"Hah? Mana mungkin aku cemburu?! "
Apa itu cemburu, tidak mungkin seorang Devan cemburu. Devan hanya merasa tak suka ketika mereka membahas Anaya, itu saja.
"Halah, mengaku saja kau!! "Arvin tetap saja masih menggoda Devan, ia tak akan berhenti begitu saja.
"Mengaku apanya? Aku kan sudah bilang tidak! Bagaimana mungkin aku cemburu, aku saja tidak menyukainya! Yang kusukai hanya tubuhnya saja!! "
Robby menghela napas lelah mendengar kebodohan Devan yang masih sama seperti dulu, sampai kapan Devan akan terus seperti itu. Robby yakin pasti nanti Devan akan menyesal pernah mengatakan hal yang seperti itu.
"Arvin berhentilah, kau akan membuat masalah kalau terus melanjutkannya. "Tegur Robby, takutnya kalau diteruskan malah akan di dengar oleh Anaya.
Arvin yang mengerti menuruti Robby untuk berhenti, ia juga tidak tau kalau Devan akan mengatakan sesuatu yang keterlaluan seperti itu.
.
.
.
.
terima kasih bagi para readers yang sudah mendukung cerita author ... Jagan lupa tinggalkan jejak kalian ya, biar tambah semangat nulisnya. 😊😁