
Devan sebenarnya tahu ketika Anaya terlihat celingak-celinguk mencarinya, karena Devan berada tak jauh dibelakangnya wanita itu. Tapi Devan membiarkannya begitu saja, sampai Anaya menduduki sebuah kursi yang ada disitu.
"Sepertinya istrimu mencari mu, Dev? "Ucap Robby yang juga melihat Anaya.
"Biarkan saja, "sahut Devan yang tak terlalu peduli.
"Kalau ada yang mendekatinya tahu rasa kau! "Seru Arvin pada Devan yang acuh, tetapi matanya tetap menatap kearah dimana Anaya berada.
Tepat setelah Arvin mengatakannya, ada sosok pria yang mendekati Anaya, "Dev!! "Arvin menyenggol Devan ketika melihat ada seorang pria yang memeluk tubuh Anaya tiba-tiba, Arvin merasa tak asing dengan sosok pria yang memeluk istri sahabatnya. Sepertinya, ia pernah melihat sosok itu. Tapi siapa dan dimana Arvin tak bisa mengingatnya.
"Gila! Bukankah itu Ryan?! "Robby antara yakin dan tak yakin ketika mengucapkan nama itu.
"Ah, benar itu Ryan! Apa mereka masih berhubungan?? " Sekarang Arvin sudah ingat karena Robby yang mengatakannya. Tidak salah lagi, itu pasti memang benar, Ryan.
Karena mereka semua satu sekolah ketika masih SMA, jadi mereka sudah tak asing dengan hubungan Anaya dan Ryan. Mereka memang sudah menjalin kasih sejak dulu, tapi setelah lulus mereka tidak tau lagi mengenai hubungan keduanya.
"Dev! Ambil istrimu!! "Arvin mendorong tubuh Devan yang hanya diam saja seperti orang bodoh ditempatnya.
"Cepatlah, Dev! "Robby juga ikut mendorong Devan, masa Devan membiarkan istrinya dipeluk orang seperti itu.
"Sialan! "Devan menyerahkan gelas yang ada ditangannya kepada Arvin, lalu pergi menghampiri Anaya.
Devan melerai pelukan keduanya, menarik tangan Anaya membawanya keluar dari gedung yang sangat ramai itu.
"Apa yang kau lakukan tadi?! "Devan terlihat sangat marah, wajahnya saja sampai memerah karena emosi.
Devan mengangkat sedikit sudut bibirnya, "Cih! Ternyata kau masih berhubungan dengannya. "Ucapnya dengan tatapan yang begitu menusuk.
"Kau Devan kan? "Ryan yang ikut mengejar Anaya berhasil menemukannya yang ternyata berada di parkir bersama dengan Devan.
"Kenapa kau membawa Anaya? "Setahu Ryan, Anaya sama sekali tak pernah dekat dengan Devan.
Devan menatap sinis Ryan, "aku sudah menikahinya! "Ucapnya membuat Ryan kebingungan.
"Dia kekasihku! Bagaimana bisa kau menikahinya?! "Ryan sama sekali tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Devan.
Mana mungkin Anaya menikah dengan Devan, Anaya tak sebodoh itu untuk menikah dengan pria yang sudah begitu terkenal dengan sikap brengseknya.
Lagi-lagi Devan mengangkat sudut bibirnya, "Tentu saja bisa! Aku sudah memperkosanya, dan sekarang benih ku sedang tumbuh di dalamnya! "Tanpa basa-basi Devan langsung mengatakan semuanya kepada Ryan, Devan merasa puas melihat wajah terkejut Ryan.
Anaya hanya bisa menangis sesegukan, ia tak tau harus mengatakan dan melakukan apa dalam situasi ini.
"Anna ..., "Ryan merasa matanya menjadi panas ketika mulai memperhatikan perut Anaya yang terlihat agak besar, apakah memang benar benih Devan ada dalam perut Anaya.
"M _Ma _ af." Anaya meminta maaf dengan suaranya yang tak terdengar begitu jelas karena isak tangisannya.
"A-aku ... M-maafkan aku, "Anaya sangat merasa bersalah pada Ryan karena tak mampu menjaga dirinya dan membiarkan Devan mengambil kesuciannya. Padahal, selama mereka bersama Ryan selalu menjaga dirinya.
Ryan mendongakkan kepalanya ketika merasa air matanya ingin mencoba keluar. Ryan menarik napasnya dalam-dalam hatinya sangat hancur sekarang. Gadis baiknya yang sudah ia jaga, telah direbut dan dirusak oleh pria bejat seperti Devan. Ryan tak rela benar-benar tak rela.
Ryan melayangkan pukulannya pada Devan yang sudah berani mengambil Anaya darinya. "Mati kau! "
Meskipun sudah memberikan pukulan sampai membuat Devan jatuh, tetap saja Ryan masih merasa belum puas. Bahkan amarahnya tidak berkurang sama sekali.
Ketika Devan bangun ingin membalas Ryan, untung saja Robby dan Arvin datang tepat waktu untuk melerai keduanya.
"Dev!! "Arvin menahan tubuh Devan dan Robby menahan tubuh Ryan.
Sekarang Ryan sudah mengerti mengapa Anaya dengan tiba-tiba meminta mengakhiri hubungan mereka. Ternyata alasannya bukan karena ia membuat kesalahan atau tidak mencintainya lagi.
Tetapi alasannya karena Devan, Devan telah memperkosanya dan lebih parahnya benih pria itu sedang tumbuh didalam perut Anaya sekarang.
"Brengsek kau!! "Ryan masih memberontak, ia masih ingin menghajar Devan. Sejak dulu, semenjak mereka masih remaja, Ryan memang tak pernah menyukai Devan. Ryan sudah sering mendapati Devan yang selalu menatap Anaya diam-diam. Dan sekarang pria itu mengambil Anaya, kurang ajar sekali. Bahkan cara yang digunakannya juga begitu kotor, dasar laki-laki sampah.
Untung saja suasana di parkir tidak ramai, jadi tak ada yang menonton mereka. Arvin menyuruh Devan untuk segera membawa Anaya pulang, kondisi wanita itu terlihat tidak baik saat ini, tidak mungkin juga bagi mereka untuk kembali lagi kedalam gedung.
"Dev, cepatlah! "Devan masih saja berdiam diri menatap Ryan dengan tatapan meremehkannya, padahal Robby sudah dengan susah payah menahan tubuh Ryan yang terus memberontak.
"Apa yang kau tunggu?! Cepatlah! " Seru Robby lagi yang merasa kesusahan.
Devan menarik kasar tangan Anaya, membawanya masuk kedalam mobil.
"Ann!! "Teriak Ryan, ketika Devan membawa Anaya semakin menjauh.
Anaya bahkan tak sanggup untuk menengok kebelakang, hatinya sakit sekali. Bukan hanya Ryan yang menderita, tapi dirinya juga. Mereka sama-sama kesakitan dan tak baik-baik saja sekarang.
Setelah mobil Devan mulai melaju meninggalkan area gedung, Robby melepaskan Ryan yang sudah memberontak mulai tadi, bahkan Robby sampai berkeringat karena terlalu lama menahan Ryan.
Bug!
"Sial! "Robby menyentuh sudut matanya yang terkena hantaman Ryan.
"Kau tidak apa? "Tanya Arvin melihat Robby yang kena pukul tiba-tiba dan tak sempat menghindar.
"Apanya yang tidak papa. "Robby merasa sangat kesakitan karena hantaman Ryan cukup keras, sepertinya Ryan memukulnya dengan sekuat tenaga, rasanya seperti dipukul menggunakan palu.
Arvin membawa Robby untuk segera menjauh dari Ryan yang tampak begitu frustasi, Arvin tak ingin berurusan dengan Ryan lebih lama.
"Robb! "Arvin memanggil Robby yang masih memegang sudut matanya yang terlihat agak membiru.
"Hanya pukulan seperti itu tak akan membuatmu merasa sakit! "Sialan sekali memang Arvin.
"Tidak merasa sakit mata mu! Kau kan tidak tau bagaimana rasa pukulannya!! "Kesal Robby.
Andai Robby tahu akan kena pukul pada akhirnya, dirinya pasti akan berlari lebih dulu menahan Devan. Dan membiarkan Arvin untuk menahan Ryan, supaya Arvin yang menerima pukulannya.
Ryan masuk kedalam mobilnya, ia tak berniat mengejar Anaya. Ryan hanya ingin menenangkan dirinya yang dikuasai oleh emosi.
Ryan tau jika dirinya mengejar mobil Devan sekarang akan percuma saja, ia sudah tertinggal jauh. Jadi, Ryan memilih tuk masuk kembali ke dalam gedung dan memberikan selamat pada Nick dan Bella.
Tapi jangan salah paham, Ryan tidak menyerah. Ia akan kembali menemui Anaya nanti secepatnya. Ia tak peduli walaupun Anaya sudah menjadi istri orang, Ryan akan tetap meminta penjelasan dari Anaya.
Meskipun Devan sudah mengatakan semuanya tadi, tapi Ryan tetap ingin mendengar ceritanya langsung dari mulut Anaya sendiri.
.
.
.
.
******Jangan lupa dukungannya ya, para readers sekalian****** .... 😊