marriage without love

marriage without love
Episode 18


Devan yang baru selesai melakukan meeting di suatu tempat kembali ke kantor. Devan masuk ke ruangan kerjanya, dan menjatuhkan diri ditempat duduk kebesarannya.


Tok. Tok. Tok.


Setelah ketukan pintu berhenti, pintu mulai terbuka, menampakkan sosok Bram yang membawa beberapa dokumen.


"Ini dokumen yang harus diselesaikan hari ini, tuan. " Bram meletakkan dokumen itu di meja kerja tuanya.


Devan menatap Bram dengan tatapan malasnya, "ck! Kenapa sebanyak ini?! Bukankah ini terlalu berlebihan!! "Protes Devan, yang kemarin saja masih ada yang belum selesai ia periksa, tapi sekarang Bram malah membawa dokumen yang baru.


Bram diam saja, ia sudah biasa menjadi bahan pelampiasan dari tuannya. Tapi meskipun begitu, ia juga tak ingin mendengarkan tuannya lebih lama. Jadi Bram memutuskan tuk segera keluar dari ruangan itu setelah meninggalkan dokumennya.


Devan yang baru menyelesaikan pekerjaannya melirik jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah jam sembilan malam.


Devan mendongakkan kepalanya sebentar untuk merilekskan lehernya yang terasa kebas. Devan mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi, lalu memakainya kembali sebelum meninggalkan tempat itu.


Hampir jam sepuluh malam Devan baru tiba di rumah, bukanya pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas, Devan malah masuk ke kamar Anaya.


Anaya yang sedang asik telponan dengan Bella memutuskan panggilannya, ketika Devan membuka pintu kamarnya yang memang tak terkunci.


Devan melempar jas dan tas kerjanya ke sembarang tempat, sebelum menjatuhkan dirinya di tempat tidur.


Anaya hanya bisa menghela nafas sebelum memungut kembali jas dan tas kerja yang dilempar oleh pria itu, menaruhnya di ujung kasur.


"Dev, "Anaya mendekati Devan yang hampir tertidur.


"Kau tidak mandi dulu? "Tanyanya hati-hati.


"Dev ..., "Tanyanya lagi, Anaya memberanikan diri untuk menyentuh lengan Devan yang tertutup kemeja.


"Ck! Apa?! Berisik sekali! "kesalnya.


Anaya memundurkan langkahnya sedikit, "Aku hanya bertanya apa kau tidak mandi dulu? " Ucapnya lembut, walaupun Devan menjawabnya dengan kasar.


Dengan wajahnya yang terlihat kesal, Devan masuk ke kamar mandi dengan sebuah handuk di tangannya.


Devan yang sudah keluar dari kamar mandi duduk diatas ranjang, menunggu Anaya yang sedang mengambil pakaiannya dilantai atas.


Ketika sedang menunggu, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan adanya sebuah panggilan masuk.


Devan menaikkan sebelah alisnya ketika membaca nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya, kemudian menggeser tombol berwarna hijau.


"ada apa? "Tanyanya pada asisten rumah tangga ayahnya yang menelpon.


"Tuan, tuan besar masuk rumah sakit! "


Devan yang tadi duduk langsung berdiri, "kenapa? Bagaimana bisa?! "Tanyanya mulau khawatir.


Art itu menjelaskan kalau ayahnya tiba-tiba jatuh, sepertinya kadar kolesterol ayahnya naik.


"Ada apa, Dev? "Anaya yang baru kembali bertanya kepada Devan, yang raut wajahnya terlihat cemas.


Devan mengambil pakaian yang Anaya bawa, mengenakannya dengan cepat.


"Dev? "Anaya semakin bingung dibuatnya.


"Ayahku masuk rumah sakit, aku akan kesana malam ini! "Devan mengambil jaketnya, setelah itu pergi dengan terburu-buru.


Meskipun selalu membuat masalah dan malu Arion, tetap saja Devan menyayangi orang tua itu. jika Devan tidak segera ke rumah sakit, pasti orang tua itu akan merasa kesepian karena tak ada yang menemaninya.


Anaya hanya bisa menatap kepergian Devan, padahal ia juga merasa khawatir dengan kondisi ayah mertuanya, jika Anaya menyuruh Devan menunggunya, pasti pria itu tak akan mau.


.


Ketika Anaya sedang sibuk membersihkan rumah, ia mendengar seperti ada seseorang yang datang.


"Siapa, ya? "Anaya bertanya pada seorang laki-laki berawak tinggi yang hampir sama dengan Devan.


"Saya, Bram. Sekertaris tuan Devan. " Bram memperkenalkan dirinya, wajar saja jika istri tuanya tidak kenal dengannya, karena ini merupakan pertemuan pertama mereka.


"Tuan meminta saya membawa pakaian gantinya. "Bram memberitahu maksud kedatangannya datang ke rumah tuannya.


Anaya meminta Bram untuk masuk kedalam rumah lebih dulu, awalnya Bram menolak karena merasa tak enak harus berduaan bersama istri tuannya dalam satu rumah. Tapi karena istrinya tuannya memaksa, mau tak mau Bram ikut masuk.


Setelah lebih dari setengah jam menunggu di ruang tamu sendirian dengan secangkir teh yang menemaninya. Bram merasa sedikit bersyukur, seandainya ia menolak, pasti sekarang ia akan terlihat seperti orang aneh yang menunggu berdiri di depan rumah tuannya.


Bram menyeruput habis teh dalam cangkirnya, dan tak lama setelah itu istri tuannya muncul dengan pakaiannya terlihat rapi dan beberapa barang yang akan ia bawa.


"Nyonya, biar saya saja yang membawanya. "Bram menawarkan bantuannya, mana mungkin ia akan diam saja melihat istri tuannya membawa barang bawaan seorang diri. Apalagi, istri tuan Devan sedang hamil mau taruh dimana mukanya.


"Tidak apa-apa, lagipula ini ringan. "Anaya menolak dengan lembut.


"Saya merasa tak enak jika membiarkan nyonya yang membawanya. "Ucapnya jujurnya.


Karena sekertaris Devan sedikit memaksa, akhirnya Anaya menyerah dan memberikan bawaannya pada Bram.


"Baiklah, tapi kau harus berhenti memanggilku nyonya! "


Anaya merasa aneh di panggil nyonya, ia merasa panggilan itu tak cocok dengannya.


Bram terdiam sejenak, ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, "kalau begitu saya harus memanggil anda apa? "Hanya panggilan nyonya saja yang ada didalam pikirannya.


"Panggil Anaya saja, lagian umur kita tak terlalu jauh sepertinya. "


"Baiklah kalau begitu, Anaya. "Bram sedikit canggung ketika mengatakannya, karena bagaimana pun wanita itu istri dari tuan Devan.


Ketika di dalam mobil, Bram melirik kaca diatasnya. Membuatnya bisa melihat Anaya yang duduk di kursi belakang.


Bram merasa kasihan melihat wanita itu, karena ia juga mengetahui alasan dibalik pernikahan tuannya. Apalagi, setelah ia tahu wanita yang sudah jadi istri tuan Devan itu wanita yang sangat baik hati. Berbeda sekali dengan tuannya yang memiliki temperamen buruk, salah sedikit saja langsung membuat tanduknya keluar.


"Apa kamu sudah lama bekerja dengan Devan? "Anaya yang merasa bosan mengajak Bram untuk mengobrol, ia sedikit menyukai Bram karena sekertaris Devan itu orangnya cukup ramah.


"Setelah tuan Devan diangkat jadi CEO yang baru, tidak lama saya ditunjuk menjadi sekertaris nya. "Yang berarti sudah beberapa tahun ia bekerja sebagai sekertaris dengan Devan.


Bram sedikit tersenyum jika mengingat awal-awal ia bekerja, di hari pertama dulu dirinya hampir berhenti karena Devan yang tak henti memerintahkan ini dan itu, lalu memarahinya. Tetapi untung saja ada tuan besar Arion yang selalu mendukungnya, karena beliaulah yang menunjuknya sebagai sekertaris Devan.


Tak terasa karena mereka terlalu banyak bicara, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit tempat Arion di rawat.


Mereka keluar dari mobil dan segera memasuki rumah sakit, menuju tempat dimana Arion di rawat.


.


.


.


.


😉😉