marriage without love

marriage without love
Episode 52


Anaya dan Devan baru saja tiba di rumah, setelah pulang dari rumah sakit. Devan turun lebih dulu dari mobil, untuk membantu Anaya turun.


"Dev, aku bisa berjalan sendiri! "Anaya terkejut, ia kira Devan hanya ingin membantunya turun dari mobil saja, tetapi pria itu malah tiba-tiba menggendongnya.


"Aku pasti sangat berat, "Anaya merasa sangat malu lantaran Devan tak kunjung menurunkannya, padahal Anaya yakin, dirinya pastilah sangat berat.


"Dev! "Anaya secara refleks mengalungkan kedua tangannya pada leher Devan, ketika pria itu mulai membawanya masuk ke dalam rumah.


"Diam lah, jika kau tak ingin jatuh! "Ucapnya pada Anaya yang terus bergerak.


Devan membawa Anaya menaiki tiap anak tangga menuju kamar mereka, setelah sampai di kamar Devan meletakan tubuh wanita itu dengan begitu hati-hati diatas tempat tidur.


"Ada apa, Dev? "Melihat Devan yang terus menatapnya dalam diam, membuat Anaya menjadi penasaran dengan apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini.


"Tidak ada, "Devan menyentuh tangan Anaya, membawanya untuk melihatnya lebih jelas, "apa masih sangat sakit? "Tanyanya dengan mengelus pelan tangan Anaya yang masih terlihat memar.


Dari semua luka yang Anaya dapatkan, yang terparah memang di bagian tangan kanannya. Karena ia yang mencoba menahan pukulan yang Amanda layangkan pada perutnya, ditambah lagi tangannya juga kena injakan kaki Amanda yang saat itu mengunakan sebuah heels.


"Sudah tidak terlalu sakit, "bohongnya, padahal tangannya masih terasa sangat berdenyut jika digunakan. Bahkan, untuk makan saja ia masih harus menggunakan tangan kirinya.


Anaya menatap wajah Devan yang kini sedang mengusap tangannya dengan begitu lembut dan hati-hati. Devan memang memiliki wajah yang sangat tampan, ditambah lagi tubuhnya yang tinggi, tegap dan kekar. Jika hanya menilai dari segi fisiknya saja, pria itu benar-benar terlihat sangat sempurna. Wajar saja Amanda sampai begitu tergila-gila dengan Devan.


"Di rumah sakit, ketika aku pergi. Kau bertemu dengan Ryan, kan? "Seketika tubuh Anaya langsung membeku, mendengar apa yang baru saja Devan katakan.


Melihat dari reaksi tubuhnya, sepertinya memang benar. "Arvin yang memberitahuku, "Ucapnya lagi.


"Maaf, "Anaya menundukkan kepalanya.


"Tidak papa, kali ini ku maafkan. "Ucapnya setelah terdiam cukup lama.


Anaya memberanikan diri menatap Devan, ia tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Apakah Devan benar-benar memaafkannya nya, padahal Anaya sudah mengira Devan akan memarahinya habis-habisan sambil sesekali mengumpat seperti biasanya.


"Hanya untuk kali ini, "tegas Devan dengan wajahnya yang terlihat sangat serius.


Seperti kata Robby kemarin, Ryan pasti juga ingin mengetahui kondisi Anaya. Dan jika dipikirkan kembali, andai si sialan Ryan itu tak menolong Anaya entah apa yang akan terjadi dengan wanita yang ada didepannya saat ini.


Amanda, mengingat wanita itu membuat Devan menjadi geram. Harus ia apakan wanita itu agar bisa membalas perlakuannya terhadap Anaya.


"Dev, ada apa? " Anaya menyentuh tangan Devan yang terlihat mengepal.


"Tidak ada, lebih baik kau istirahat saja. "Devan membantu Anaya untuk berbaring, setelah itu menutupi tubuhnya dengan selimut yang tak terlalu tebal.


"Kau mau kemana, Dev? "Tanyanya melihat Devan yang beranjak pergi.


Devan mengeluarkan kotak rokoknya, memperlihatkan kepada Anaya. "Balkon, "sahutnya, ia hanya ingin pergi untuk menghisap rokoknya sebentar sambil menghirup udara segar disitu, agar pikirannya bisa menjadi lebih tenang.


.


Anaya baru bangun di sore hari, cukup lama ia duduk di tempat tidur sebelum mulai bangun untuk berdiri, karena kepala terasa sedikit pusing.


Anaya berjalan keluar kamar, dan mulai menuruni anak tangga dengan tubuhnya yang masih terasa sangat lemah.


*prang!


Terdengar suara benda jatuh dari arah dapur. Anaya yang memang ingin pergi mengambil air minun, sekalian saja memeriksa suara apa yang jatuh barusan.


"Dev, "ucap Anaya yang menemukan sosok Devan disitu.


"Apa yang kau lakukan disini?! "Tanya Devan, padahal seharusnya Anaya lah yang bertanya seperti itu kepadanya.


"Aku sedang memasak, "Devan menunduk sebentar untuk mengambil wajannya yang tadi terjatuh.


"Dev, apa kau bisa masak? "Tanyanya ragu-ragu melihat kondisi dapur yang terlihat berhamburan.


"Entahlah, "Devan juga tidak tau dirinya bisa masak atau tidak, karena ini baru pengalaman pertamanya.


Anaya mendekati Devan, ia penasaran dengan apa yang coba pria itu buat. Pria itu dengan begitu yakin menumpahkan hampir satu wajan minyak goreng, di atas penggorengan.


"Dev! "Anaya terkejut karena Devan memasukan sebutir telur ke dalam wajan yang begitu banyak minyaknya, membuat telurnya tenggelam ke dalam lautan minyak goreng yang bahkan belum panas.


"Apa? "Tiba-tiba saja Anaya yang berada disebelahnya menjerit, membuat Devan terkejut. Ia kira ada ada yang salah dengan masakannya.


"Lebih baik kau pergi saja, katamu tadi ingin minum, kan. "Devan mengusir Anaya, karena wanita itu sedikit menghalangi pergerakannya.


Anaya menuruti saja apa yang Devan katakan, ia mengambil segelas air lalu membawanya ke meja makan yang berada tak jauh dari situ.


Setelah wanita itu menjauh, Devan mulai memasukkan bumbu kepada telur yang ia goreng. Karena Devan tak bisa mengira harus memasukkan berapa banyak, jadi ia melakukannya dengan asal-asalan.


"Satu sendok, sepertinya cukup. "Gumamnya, lebih baik sedikit daripada kebanyakan pikirnya. Padahal, aslinya Devan sama sekali tidak mengerti.


Sial! Devan mulai mengumpat ketika telur diatas penggorengannya mulai meletup atau meletus, entah apalah itu namanya Devan tidak tau, yang pasti ia tak mau dekat-dekat karena tak mau terkena percikan minyak goreng panas, bisa-bisa tangannya melepuh kalau terkena itu.


"Dev! "Anaya memanggil Devan ketika melihat pria itu mulai memundurkan langkahnya meninggalkan masakannya dengan kompor yang masih menyala.


"Dev, masakanmu! "Dari baunya sepertinya masakan Devan sudah mulai gosong.


Devan yang juga mencium bau gosong kembali untuk mendekati kompor dengan begitu hati-hati, lalu mematikannya.


Ck! Devan berdecak ketika melihat telurnya sudah menghitam, benar-benar sebuah kegagalan.


Padahal Devan bermaksud membuat makan malam untuk mereka berdua, karena untuk sementara wanita itu tak bisa memasak karena masih belum benar-benar sembuh.


Devan melepaskan celemek nya, membuang sembarang arah. Ia sudah merasa putus asa untuk kembali memasak, setelah mengalami kegagalan pada pengalaman pertamanya.


Devan menghampiri Anaya yang duduk di meja makan.


"Apa sudah selesai? "Anaya tersenyum lucu melihat Devan yang kembali dengan wajah kesal, ternyata pria angkuh itu benar-benar buruk dalam urusan memasak.


"Gagal, tak bisa dimakan! "sahutnya yang terlihat masih kesal.


Devan pergi meninggalkan Anaya yang masih duduk di meja makan sebentar, setelah itu kembali lagi dengan sebuah kunci mobil di tangannya, "kau ingin dibelikan apa? "


Anaya tampak berpikir sebentar, "terserah saja, "setelah dipikirkan ternyata tak ada makanan khusus yang ingin dimakannya. Jadi apapun yang Devan beli akan dimakan olehnya.


"Benarkah? Apa kau serius?? "Tanyanya sekali lagi, untuk memastikan.


"Iya, terserah saja. "Anaya tetap tak merubah jawabannya, jawabannya masih sama seperti yang tadi.


Setelah itu Devan langsung saja pergi keluar membeli makan malam, untuk mereka berdua.


.


.


.


.