marriage without love

marriage without love
Episode 39


Malam ini Devan dan Anaya akan bermalam di rumah Arion.


Anaya masih sibuk berada di dapur bersama beberapa pelayan yang membersihkan sisa bekas makan malam mereka tadi.


"Nyonya muda lebih baik istirahat saja, pekerjaannya juga sudah hampir selesai. "ucap salah satu pelayan yang membersihkan peralatan makan.


"Baiklah, kalau begitu saya duluan ya ..., "Pamitnya sopan.


Sejujurnya Anaya sangat merasa tak nyaman, jika ada yang memanggilnya nyonya. Tapi mau bagaimana lagi, mereka tak mau menuruti permintaannya, untuk memanggilnya dengan nama saja.


Para pelayan baik tua maupun muda, mereka enggan memanggilnya hanya dengan menggunakan nama. Mereka merasa tak sopan jika melakukannya, meskipun itu permintaan dari orangnya langsung.


Ketika melewati ruang tamu ingin pergi ke kamar, Anaya melihat Devan yang masih mengobrol dengan Arion. Sedangkan Robby dan Arvin, keduanya sudah pulang ketika selesai makan malam. Jadi, sisa suami dan ayah mertuanya saja yang masih ada di ruang tamu.


Bukan sebuah obrolan seperti yang Anaya lihat dari jauh. Sebenarnya Devan sedang menerima beberapa nasihat yang keluar dari mulut cerewet Arion.


"Apa kau memperlakukan istrimu dengan baik? "ucap Arion pada Devan yang terlihat sangat malas mendengarkannya.


"Papah sudah dengar beberapa cerita dari Robby, papah harap kamu bisa lebih perhatian dengan istrimu! "Jelas Arion yang tak direspon sama sekali oleh Devan.


"Dev, "


"Devan! "


Arion sedikit meninggikan suaranya lantaran Devan bersikap seolah tak mendengar apapun yang ia bicarakan.Ternyata sikap kurang ngajar Devan masih tetap sama.


Devan menatap malas Arion yang duduk didepannya, "Ck! "Bukannya menjawab, Devan malah berdecak kesal mendengar Arion.


"Tidak punya sopan santun! "


Devan berdiri dari duduknya, ia malas mendengarkan ocehan Arion lebih lama.


"Aku ngantuk, mau tidur. "Devan mengucapnya dengan mulut yang sesekali menguap. Sebelum benar-benar pergi Devan mengatakan sesuatu pada ayahnya.


"papah juga cepatlah tidur, jangan begadang, nanti sakit. "Pesannya pada Arion yang masih duduk menatapnya dengan begitu kesal.


Devan tak peduli dengan tatapan kesal dari orang tua itu, ia lebih memilih untuk pergi ke kamarnya yang sudah lama tak pernah ia tiduri.


"Apa kau tidak bosan setiap malam melakukan itu?? "Tanya Devan pada Anaya yang sebelum tidur selalu menonton sesuatu di ponselnya.


"Ah, Devan. "Saking fokusnya dengan Drama yang ia tonton, Anaya sampai tidak sadar kalau Devan sudah berada di dalam kamar.


Devan naik ke tempat tidur, ia mendekati Anaya yang kembali fokus menatap layar ponselnya. Dan dengan gerakan yang begitu cepat, Devan merampas ponsel milik wanita itu.


"Dev, apa yang kau lakukan?? "Anaya sampai terkejut gara-gara Devan yang mengambil ponsel yang ada di tangannya dengan secepat kilat.


Devan mematikan drama yang Anaya lihat, "terserah ku saja! " tukasnya.


Devan merebut ponsel Anaya karena dirinya ingin kembali memeriksa isi pada ponsel itu. Siapa tau saja, Anaya ada kembali bertukar kabar dengan mantan tercintanya itu tanpa sepengetahuannya.


"Apa yang kau cari, Dev. "Tanyanya pada Devan yang sibuk mengutak-atik ponselnya.


Devan memicingkan matanya, "Pasti sudah kau hapus! "Ucapnya tiba-tiba, membuat Anaya kebingungan.


"Hapus? Hapus apa?? "Anaya sama sekali tidak mengerti dengan maksud Devan.


"Kau pasti ada bertukar kabar dengan mantan sialan mu itukan? "Sinis nya.


Anaya yang baru mengerti menggeleng cepat, "tidak! Aku tidak berhubungan dengan Ryan. "Anaya sama sekali tidak pernah menghubungi Ryan, begitupun sebaliknya. Terakhir mereka saling kirim pesan sudah lama sekali, itupun nomornya tak Anaya simpan, dan sudah diblokir juga oleh Devan ketika Devan menyita ponselnya dulu.


"Awas kau berani menipuku! "Ucapnya dengan suara mengancam.


Anaya sama sekali tidak memiliki niat untuk menghubungi Ryan, karena Anaya serius dengan rumah tangganya bersama Devan. Walaupun, Devan masih suka bicara dengan begitu kasar, tapi pria itu sudah berubah sedikit demi sedikit.


Anaya sangat menyadari perubahan Devan. Anaya yakin Devan pasti akan berubah jauh lebih baik lagi kelak, asalkan dirinya mau menunggu dan bersabar.


"Baguslah kalau begitu. "Devan membaringkan tubuhnya disebelah Anaya yang masih duduk bersandar.


Devan membawa tangan Anaya untuk membelai rambut hitamnya yang sudah terlihat agak panjang.


"Bisakah kau mengembalikan ponselku? "Pintanya, karena matanya yang masih belum mengantuk.


Bukannya mengembalikannya, Devan malah menyimpan ponsel Anaya dibawah bantal yang ia gunakan.


"Aku mau tidur, dan kau harus tidur juga. "Devan menaikkan selimutnya sebatas pinggang, lalu memejamkan kedua matanya.


"Apa kau sangat menyukai warna hitam? "Anaya sudah lama ingin bertanya, karena warna hitam begitu mendominasi di kamar Devan. Baik di disini maupun di rumah mereka.


"Hmm, "sahutnya dengan mata yang terpejam.


"Dev, aku belum mengantuk. "Anaya masih berharap Devan mau mengembalikan ponselnya, matanya masih terasa sangat segar.


"Berisik! "Kesal Devan pada Anaya yang terus bicara tak bisa diam.


Devan menarik Anaya, membuatnya ikut terbaring. Lalu membawa wanita yang tak bisa diam itu kedalam pelukannya.


"Diam lah! "Ucap Devan pada Anaya yang terus menggeliat di pelukannya.


Anaya menatap Devan yang ternyata juga sedang menatapnya," A-apa ...? "Anaya merasa gugup kalau Devan terus menatapnya dengan begitu intens.


"cantik sekali, "tiba-tiba saja Devan mengeluarkan sebuah kata pujian, membuat Anaya menjadi salah tingkah mendengarnya.


"Aku sangat malu mendengarnya ..., "Anaya menyembunyikan wajahnya di dada Devan, membuat Devan terkekeh melihatnya.


"Coba kau lihat aku! "Titah Devan pada Anaya yang masih menyembunyikan wajahnya.


Dengan malu-malu Anaya mengangkat wajahnya, tuk kembali menatap Devan. Dan Ketika Anaya sudah menampakkan kembali wajahnya, Devan dengan cepat langsung menyambar bibirnya.


Seperti biasa, ciuman pria itu selalu terasa begitu kasar dan menggebu. Anaya yang tak bisa mengimbanginya mulai kehabisan napas, membuatnya mencengkram erat bahu kekar Devan. Napas keduanya terlihat begitu memburu, ketika Devan telah melepaskan ciumannya.


"Aku akan membuatmu lelah, supaya kau merasa mengantuk dan cepat tidur"Bisik Devan, dengan tangannya yang mulai bergerak nakal.


Anaya membiarkan Devan melakukan apapun yang ia inginkan pada tubuhnya. Dan benar saja, seperti yang sudah Devan katakan sebelumnya, Setelah hampir satu jam melakukannya, Anaya merasa mengantuk karena tubuhnya sudah sangat lemas dan lelah.


Devan mengangkat sudut bibirnya, "caranya sangat efektif kan, "bisiknya pada Anaya yang sudah hampir tertidur.


Devan menarik Anaya kedalam pelukannya, lalu menaikkan selimut untuk menutupi tubuh mereka yang tak mengenakan apapun.


Devan menatap wajah Anaya yang sudah terlelap, tiba-tiba saja perasaannya menjadi sangat buruk. Seandainya yang menikah dengan Anaya dulu Ryan, pasti pria sialan itu akan keenakan sekali bisa menatap wajah cantik Anaya, ketika sudah melakukan malam panas seperti ini.


Devan mengusap pucuk kepala Anaya, dengan sebuah seringai di bibirnya. Untung saja yang menikahi Anaya dirinya, jadi hanya ia lah yang tahu betapa seksinya wajah wanita itu ketika sedang diatas ranjang.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya😎