marriage without love

marriage without love
Episode 40


Dari rumah papah Arion, Devan langsung berangkat ke perusahaan miliknya. Anaya juga ikut bersama Devan, karena hari ini Devan hanya bekerja sampai setengah hari saja. Jadi mereka akan pulang bersama nantinya ke rumah.


Hari ini Devan memang sengaja hanya bekerja sampai tengah hari, Devan ingin istirahat sekaligus bersiap-siap, sebelum pergi melakukan perjalanan bisnis keluar kota besok pagi.


Anaya menatap bangunan yang menjulang begitu tinggi, ini adalah kali pertamanya bagi Anaya memasuki perusahan yang dipimpin oleh suaminya, Devan.


Ketika mulai memasuki perusahaan, banyak para karyawan yang menyapa dan menunduk hormat pada mereka, yang selalu dibalas Anaya dengan senyum ramahnya.


Devan membawa Anaya ke ruangannya yang berada di lantai paling atas. Dan setelah sampai, Anaya langsung menjatuhkan bokongnya di sofa yang biasa di tempati oleh Arvin dan Robby ketika mereka berdua berada disitu.


Sedangkan Devan langsung menuju mejanya yang selalu penuh dengan berbagai macam jenis dokumen diatasnya, dan mulai membaca isi dokumen satu-persatu.


Anaya yang tak punya kerjaan memilih tuk mengeluarkan ponsel, dan memainkannya. Sudah cukup lama Anaya memainkan benda pipih yang ada di tangannya, dan ia pun mulai merasa bosan. Ditambah lagi, perutnya juga mulai terasa lapar.


Anaya melirik Devan yang masih terlihat begitu fokus dengan pekerjaannya, "Dev ..., "cicitnya.


Mendengar Anaya, Devan meletakkan dokumen yang ada di tangannya keatas meja.


"Apa? "Tanyanya dengan sebelah alis yang terangkat.


" ... Aku lapar. "


Jujur saja Anaya merasa sedikit tak enak, karena sudah mengganggu Devan yang sedang berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


Devan menghela napas, kemudian mengambil ponsel dan mulai menelpon seseorang. Tak lama setelah telpon dimatikan Bram, sang sekertaris datang ke ruangannya.


Bram yang baru masuk menyapa Anaya, istri tuan Devan dengan senyumannya yang ramah, yang sudah pasti akan dibalas juga oleh Anaya.


Bram mendekati Devan, "Ada apa, tuan? "Tanyanya sopan.


"Temani dia ke kantin, "titahnya, sebelum ia kembali fokus pada yang tadi ia letakan diatas meja.


Bram membawa Anaya keluar dari ruangan tuan Devan, "Nyonya ... Ah, tidak. Maksud saya, Anaya. Apakah tidak papa, jika makan di kantin ?? "


"Ataukah ada yang ingin anda makan, jika ada saya akan memesannya. "Sambungnya.


"Tidak, aku akan makan di kantin saja. "Tolaknya, lagipula Devan juga menyuruhnya untuk makan di kantin.


Bram menuntun Anaya ke tempat dimana para karyawan biasa menghabiskan waktu ketika sedang istirahat. Anaya mengambil salah satu tempat duduk yang ada disitu, yang berada di dekat pojokan. Sedangkan Bram hanya berdiri setelah meminta koki yang ada disitu, untuk membuat makanan sehat dan enak untuk istri tuannya.


Anaya melihat kearah Bram, " ... Apakah kamu tidak akan duduk?? "Jujur saja, Anaya merasa agak tidak enak kepada Bram yang hanya berdiri di di dekatnya, ia merasa tak nyaman akan hal itu.


"Kau bisa duduk menemaniku, " ucapnya lagi, Anaya bukannya memerintah, tapi ia meminta pada Bram untuk ikut duduk.


Tidak mungkin ia bisa menikmati makanannya, jika ada seseorang yang terus berdiri di sampingnya, melihatnya yang sedang makan.


Bram menuruti Anaya, ia mengambil tempat duduk yang ada di depan Anaya.


"Apa kamu tidak makan juga? "Anaya bertanya pada Bram yang hanya duduk diam di depannya.


"Tidak, saya masih kenyang. "Jawabnya sopan.


Anaya menikmati makanannya dengan begitu lahap, ternyata makanan disini cukup enak, Anaya merasa makanannya cocok di lidahnya.


Baru saja Anaya selesai dengan makanannya, tiba-tiba Devan datang menghampiri mereka. Dengan sebelah tangan membawa sebuah tas wanita, yang tak lain milik Anaya. Membuat wanita itu terkekeh, ia merasa lucu melihat Devan membawa tasnya.


"Cepat ambil! "Anaya menyambut tasnya yang sudah dibawakan oleh Devan.


"Terima kasih, "ucapnya.


"Aku akan pulang, kau juga pulanglah! "Titahnya pada Bram, karena sang sekertaris sudah pasti akan ikut melakukan perjalan bisnis besok dengannya.


"Baik, tuan. "Sahut Bram.


.


Anaya dan juga Devan baru saja selesai makan malam. Setelah selesai membersihkan meja makan, Anaya menemui Devan yang terlihat begitu sibuk menghadap sebuah laptop di dalam kamar.


"Entah lah, tergantung kondisinya. "Sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.


"Benarkah ..., "Anaya rasa sepertinya Devan akan pergi cukup lama.


Anaya berdiri dari duduknya, ia berjalan mengambil sebuah koper. Anaya ingin menyiapkan barang yang akan Devan bawa untuk besok pagi.


"Dev, kamu ingin membawa pakaian berapa pasang? "Tanyanya lembut.


"Terserah, "Devan tak terlalu peduli mau berapa setel, jika kurang ia akan membeli di sana saja, simpel kan.


Karena Devan menjawab terserah, Anaya hanya membuat beberapa setel saja dalam koper Devan.


"Kau, kemari lah! "Devan memanggil Anaya yang baru selesai mengemas barang-barang miliknya.


"Ada apa, Dev? "Anaya yang ingin pergi ke tempat tidur memutar langkahnya, untuk menemui Devan yang masih berada di sofa.


"Duduk, "Devan menepuk sofa di sebelahnya.


"Aku akan pergi besok, awas saja kau kalau berani bertemu dengan si sialan itu! "Ucapnya dengan tatapan yang tajam, karena Devan sedang sangat serius saat ini.


"Iya, aku janji ..., "ucapnya.


"Benarkah? Kau tidak sedang mencoba menipuku kan? "


Devan tidak bisa percaya begitu saja, bisa saja Anaya akan bertemu dengan si sialan Ryan, karena dirinya sedang tidak ada di rumah. Dan ini akan menjadi kesempatan bagus bagi keduanya, jika mereka memang ingin bertemu.


"Sial! "Umpatnya, membayangkannya saja sudah membuat hatinya gelisah.


Devan meremas rambutnya frustasi, ia sedang malas melakukan perjalanan bisnis. pikirannya begitu tak tenang, dan semuanya gara-gara si sialan Ryan itu.


Devan kembali menatap tajam Anaya, "satu lagi! Jangan dekat-dekat dengan Robby!! "Devan baru ingat, bukan hanya si sialan Ryan yang mengganggu pikirannya. Tapi ada satu orang lagi, yang tak lain adalah Robby. Sahabat kurang ngajarnya yang selalu sok dekat dengan Anaya.


"Iya, Dev. "Anaya berjanji dirinya tak akan bertemu dengan Ryan maupun Robby, ketika Devan sedang tak ada.


"Kemari lah! "Devan menepuk kakinya, ia menyuruh Anaya untuk duduk di pangkuannya.


"Cepat!! "Devan mendesak Anaya yang tak kunjung bergerak, seperti yang ia perintahkan.


"I-iya, "Atas permintaan tiba-tiba dari Devan, Anaya terpaksa duduk dipangkuan pria yang terlihat marah dan gelisah itu.


Ketika Anya sudah berada di pangkuannya, Devan langsung memeluk tubuh wanita itu dengan begitu erat.


"Awas kamu berani macam-macam! "


Devan melonggarkan pelukannya, "hadap sini! "Sebelum Anaya menjawab, Devan menyuruh Anaya yang duduk membelakanginya untuk berbalik.


Dan Anaya menurut saja, pada apa yang pria itu perintahkan. Apalagi suasana hati Devan terlihat sedang sangat buruk sekarang, yang ada ia akan mendapat masalah kalau tidak menurutinya.


"Jangan macam-macam ketika aku sedang tidak ada, "ucapnya lagi untuk yang kesekian kalinya.


Anaya menyentuh wajah Devan, ia baru tahu kalau Devan ternyata orang yang begitu cerewet.


"Iya, aku janji. "Ucapnya, dengan sebuah ciuman yang ia berikan pada pipi Devan.


Wajahnya yang tadi terlihat begitu masam, sudah terlihat agak baikan dari sebelumnya. Sepertinya, kecupan singkat dari Anaya mampu memperbaiki suasana hati Devan yang sedang kacau.


.


.


.


.


Jangan lupa jejaknya 😉