marriage without love

marriage without love
Episode 44


Sudah satu minggu Devan melakukan perjalanan bisnisnya, dan hari ini akhirnya ia bisa pulang juga. Sungguh luar biasa sekali, baru kali ini Devan melakukan perjalanan tanpa adanya sorang wanita yang menemaninya dimalam hari.


Bram yang sudah cukup mengenal tuannya, sampai dibuat terkejut karena hal itu. Jelas sekali jika tuan Devan sudah sangat tergila-gila dengan istrinya.


Ketika Devan sampai di rumah, ternyata tidak ada Anaya di dalam situ. Sepertinya wanita itu masih bermalam di rumah orang tuanya. Wajar saja karena Devan mengatakan akan tiba di rumah lewat tengah malam, sudah pasti Anaya tidak berani menunggunya di rumah sendirian. Ditambah lagi, wanita itu sudah di takut-takuti oleh Devan sebelumnya.


Setelah melepas jas dan kemejanya sembarangan, Devan langsung melempar tubuhnya ke tempat tidur. Karena tubuh yang lelah dan mata yang sudah mengantuk, tak butuh lama waktu bagi Devan untuk segera memejamkan kedua matanya.


.


Anaya yang baru saja membuka matanya dibuat terkejut karena tiba-tiba ada sosok Devan yang duduk disebelahnya.


"Dev, "Anya mengucek kedua matanya, memastikan apakah yang di depannya benar-benar Devan atau bukan.


"Akhirnya kau bangun juga! Aku sudah sangat lama menunggu mu!! "Bual nya, padahal ia baru saja tiba disitu.


"Ah, benarkah ...? "


Ketika Anaya baru bangun dan menyadarkan tubuhnya, Devan langsung memeluknya. Anaya diam sejenak karena Devan memeluknya tiba-tiba, setelah itu ia juga membalas pelukan Devan.


"Hebat sekali kau tidak mencari ku. "Bisik Devan, mengungkit kejadian beberapa hari lalu.


Devan melerai pelukannya, "kau tidak bertemu dengan dua orang yang ku sebutkan kemarin, kan? "Devan memicingkan matanya.


"Tidak, "sahut Anaya cepat.


"Alasanmu tak mencari ku, katakan! "


"Aku takut mengganggu mu ..., "Anaya tau Devan juga pasti sangat sibuk dengan pekerjannya, karena ketika Devan sedang menelponnya, kurang dari dua menit pasti panggilannya diakhiri, karena Devan harus menangani pekerjaannya.


Dan ketika sudah malam hari, Anaya tak mau mengganggu waktu istirahatnya. Tetapi, jika Devan yang menelponnya lebih dulu, Anaya akan dengan senang menerimanya.


"Benarkah?? Atau bisa saja kau sengaja tak mengabari ku?! "Tuduhnya.


"Tidak, Dev ..., "Anaya menghela napasnya berat, karena Devan yang selalu berpikiran negatif tentangnya.


Karena Devan menjemputnya untuk membawa pulang, Anaya yang selesai mandi dan mengenakan pakaiannya. Membuka sebuah lemari dan mulai mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalam situ.


Devan menatap bingung kearah Anaya yang terlihat begitu sibuk, "apa yang kau lakukan? "Herannya.


"Ini barang-barang yang mau ku bawa pulang. "Anaya membawanya satu-persatu, menaruhnya diatas kasur dekat Devan.


"Kapan kau membelinya?? "Devan melihat perlengkapan bayi yang begitu banyak di depannya.


"Dengan siapa kau membelinya? "Belum juga Anaya menjawab, tapi Devan sudah memberikan pertanyaan baru lagi padanya.


"Aku membelinya dengan mamah, "


Anaya dan Devan, dibantu juga oleh pak Tono, supir pribadi ibunya. Membawa barang-barangnya ke mobil Devan. Setelah itu, mereka berdua langsung pamit pulang ke rumah.


.


Sedangkan di tempat lain, di rumah orang tuanya. Arvin sedang mendapat masalah besar, karena ayahnya sedang salah paham dengannya.


Kini ibunya sedang berusaha menenangkan ayahnya, yang sedang marah besar kepadanya.


"T-tidak, aku tak membuat masalah apapun! "Arvin mencoba membela dirinya.


"Lalu apa itu?! "Arman, ayahnya menunjuk kearah anak laki-laki yang sedang bersembunyi di belakangnya sambil memegang ujung baju yang Arvin kenakan.


"Pasti itu anakmu yang baru kau ketahui, setelah menghamili anak perempuan orang kan!! Benarkan?! "


Ibu dan ayahnya terlihat begitu frustasi saat ini, begitu juga dengan Arvin. Dirinya juga tak kalah frustasi dengan kedua orang tuannya.


"Bukan anak ku! "Arvin sudah berapa kali menyangkal dan menjelaskannya, tapi ayahnya begitu keras kepala. Menuduh anak yang baru ia bawa sebagai anaknya. Mustahil sekali, bagaimana mungkin ia memiliki anak yang sudah sebesar itu.


Sebenarnya wajar saja jika ayahnya berpikiran seperti itu, karena ia sudah sangat mengenal bagaiman seorang Arvin. Anaknya yang selalu membual dan membuat masalah. Disuruh kerja cari uang sendiri saja, susahnya minta ampun.


"Lalu anak siapa itu, Vin? "Kali ini ibunya yang bertanya dengan wajah yang terlihat begitu kebingungan.


"Bocah ini tak punya orang tua! "


Arvin menarik anak laki-laki yang bersembunyi di belakangnya, dengan wajah tertunduk karena takut mendengar suara Arvin dan juga ayahnya yang sedang berdebat dengan cukup keras.


Mendengar hal itu, Arman menatap tajam Arvin. "Jelas saja tak punya orang tua, karena kamu tidak mengakuinya!! "Teriak Arman yang tak mempercayai anaknya.


"Tidak mungkin! Wajahnya saja tidak mirip denganku!! "Harus berapa kali Arvin menolak supaya ayahnya mau percaya dengannya. Mana mungkin ia memiliki sorang anak, dirinya kan selalu main aman ketika melakukannya dengan para wanitanya.


"Bisa saja anak itu mirip dengan ibunya! "Ucap Arman kekeh, membuat Arvin sakit kepala mendengar ayahnya yang terus mencurigainya.


Arvin baru ingat sesuatu, "Kalau masih tidak percaya, ayah bisa tanya Devan! "Benar juga, Devan pasti bisa membantunya untuk menjelaskan pada ayahnya, yang begitu tak mempercayainya. Jika anak yang ia bawa bukanlah anaknya.


.


Devan yang baru tiba di rumahnya, merasa sedikit aneh dengan berbagai macam perlengkapan bayi, yang dibawa dari rumah orang tua Anaya.


Devan mengambil satu baju bayi, ia menatap lama benda itu. Rasanya aneh sekali, ia tak pernah membayangkannya jika di dalam rumahnya akan ada barang-barang yang seperti itu.


Tapi rasanya tidak buruk juga, malah Devan merasa sedikit lucu, karena tiba-tiba ada benda mungil begitu di dalam rumahnya.


Ketika Devan masih sibuk melihat yang lainnya, tiba-tiba telponnya berbunyi. Dan setelah di cek ternyata Arvin lah yang menelponnya.


Ketika Devan baru menaruh ponsel di telinganya, ia dibuat begitu terkejut karena yang sedang berbicara dengannya bukan Arvin, melainkan om Arman, ayah Arvin.


Devan yakin sekali, pasti sahabat sialannya itu sedang membuat masalah sekarang. Dan benar saja, kini om Arman sedang bertanya mengenai prihal Arvin yang menabrak anak orang kemarin, ketika melakukan liburan ke luar kota.


Karena om Arman menanyainya, maka Devan menceritakan semua kejadiannya dengan senang hati. Tanpa menutupi satupun fakta yang ia ketahui. Bahkan, Devan juga mengatakan jika Arvin menabrak gara-gara sedang mabuk berat malam itu.


Tidak hanya itu, Devan juga memberitahukan pada om Arman prihal Arvin yang menghilangkan dompetnya.


Setelah telpon dimatikan, Devan yakin sekali Pasti saat ini temannya itu sedang dimarahi habis-habisan oleh om Arman, dan Devan sama sekali tidak peduli akan hal itu, anggap saja ini sebagai pembalasannya pada Arvin yang sudah mengganggu waktu istirahatnya kemarin.


.


.


.


.