
Ryan yang duduk di kejauhan tak pernah melepas pandangannya dari Anaya, jika tidak dalam kesempatan seperti ini, kapan lagi ia bisa menatap wanita itu.
Meskipun dari jarak yang begitu jauh Ryan tak merasa keberatan, ia masih bersyukur karena bisa memandang wajah cantik wanitanya dulu.
Dari awal Anaya mengambil salah satu tempat duduk, Ryan sama sekali tak melewatkan satu bagian pun yang wanita itu lakukan. Bahkan, ketika Anaya pergi ke toilet untuk membersih tumpahan wine di dress nya Ryan juga melihatnya.
Ryan melirik jarum jam tangannya, sudah hampir satu jam. Tetapi, Anaya belum juga kembali ketempat nya.
Ryan yang penasaran pergi ketempat lain, ketempat dimana ia bisa melihat keberadaan Devan. Siapa tau Anaya tidak kembali ketempat nya, karena pergi menemui Devan.
Dilihatnya satu-persatu orang yang berada di sekitar Devan, tetapi Ryan tak menemukan keberadaan Anaya disitu. Apa mungkin Anaya sedang berada ditempat lain? Memikirkan kemungkinan itu, Ryan berjalan-jalan ditempat pesta dengan harapan ia bisa melihat Anaya kembali.
Setelah mengitari tempat pesta, Ryan masih tetap tidak bisa menemukan Anaya. Kemana perginya wanita itu.
Jika sudah pulang ke rumah sepertinya tidak mungkin, karena Devan saja masih berada disitu. Mana mungkin mereka berangkat bersama dan pulang terpisah.
Meskipun tidak mungkin Ryan memutuskan untuk pergi ke toilet, karena itu tempat yang tadi menjadi tujuan wanita itu. Padahal Ryan tau mustahil kalau Anaya masih berada di toilet setelah hampir satu jam lamanya. Tetapi, ia tetap membawa langkah kakinya kesana.
Ryan menghentikan langkahnya di depan toilet milik wanita, ia menatap sekelilingnya sebelum masuk kedalam. Karena akan sangat mencurigakan jika laki-laki masuk kedalam toilet wanita.
Ketika sudah masuk kedalam, ruangan itu tampak sangat kosong tak ada siapapun. Tapi ada satu bilik yang sepertinya berisi orang, karena pintunya yang tertutup rapat.
Ryan mendekati pintu toilet yang tertutup itu, dengan langkah hati-hati supaya tidak mengeluarkan suara apapun. Jujur saja Ryan sangat gugup karena takut kepergok oleh orang lain.
Semakin Ryan mendekat telinganya menangkap suara seorang wanita yang seperti sedang berbicara.
Ryan yang tak bisa mendengar jelas suara itu kembali membawa langkah kakinya menjadi lebih dekat. Setelah cukup dekat Ryan bisa mendengarnya sedikit lebih jelas, sepertinya itu suara orang yang sedang berbicara ditelpon.
Suara yang ia dengar seperti orang yang sedang marah. Mungkin saja, orang itu sedang bertengkar dengan orang lain melalui telponnya.
Ryan yang mengenali jika itu bukan suara milik Anaya memutar tubuhnya untuk cepat-cepat keluar dari situ, sebelum ada yang menemukannya.
Ketika Ryan mulai ingin melangkah pergi, ia mendengar teriakan seseorang yang tak begitu asing di telinganya.
Ryan yang tadi ingin pergi langsung bergegas mendekati toilet yang tertutup, karena dari tempat itulah Ryan mendengar suara jeritan itu.
Dan ketika ia sudah berada tepat di depan pintu itu, Ryan bisa mendengar suara itu dengan sangat jelas.
Ryan yang sudah tak bisa memikirkan apapun langsung mendobrak pintu toilet yang tak bisa dibuka karena terkunci dari dalam. Dan dengan satu kali dobrakan pintu itu langsung berhasil terbuka.
"Anna!! "ternyata memang benar suara yang ia dengar tadi milik Anaya.
Ryan mendorong tubuh wanita yang berdiri begitu angkuh dengan kaki yang bersiap ingin menendang kearah perut Anaya.
"Siapa kau?! "Amanda mulai panik karena ketahuan menganiaya Anaya, saking paniknya ia sampai tak bisa mengenali Ryan.
Ryan mengabaikan Amanda, ia berlari kepada Anaya yang sudah hampir hilang kesadaran dengan posisi tangan yang masih setia melindungi perutnya.
Ryan melepaskan jas yang ia pakai untuk menutup tubuh Anaya, karena ada beberapa bagian dress nya yang sobek.
"Ann, "Anaya membuka matanya mendengar Ryan yang memanggil namanya.
Ryan mengusap air mata Anaya, hatinya sakit sekali melihat wajah cantik itu dipenuhi oleh luka. Bahkan, di bagian matanya sudah mulai terlihat bengkak.
Ketika Ryan mengangkat tubuh Anaya yang tergeletak dilantai, wanita itu sampai meringis kesakitan. Padahal, Ryan sudah mengangkatnya dengan begitu hati-hati agar tak membuat wanita itu kesakitan.
Dengan langkah tergesa-gesa Ryan membawa tubuh tak berdaya Anaya keluar melewati ramainya orang yang sedang ada di pesta itu.
.
Devan yang asik mengobrol sambil sesekali bercanda gurau dengan meraka yang ada disitu, melihat kearah tempat Anaya berada sebelumnya.
"Anaya, kemana perginya wanita itu? "Devan bertanya pada Arvin yang sedari tadi bersama dengannya.
"Aku tidak tau, "terakhir kali Arvin melihatnya, ketika Anaya meninggalkan mereka untuk mencari tempat duduk. Setelah itu Arvin tak melihatnya lagi.
"Robb, apa kau ada melihat Anaya? "Arvin bertanya pada Robby yang berada disebelahnya.
"Kenapa tanya padaku, suaminya kan Devan. "Ketus Robby, yang juga bersama mereka sejak tadi.
Devan menjauh sedikit, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Anaya.Tetapi, wanita itu tak mengangkat telponnya. Meskipun sudah ia panggil berulang kali.
Perasaannya tiba-tiba menjadi gusar, mungkin saja wanita itu sedang melakukan pertemuan rahasia dengan mantan kekasihnya.
Apalagi ia juga tak bisa menemukan keberadaan si sialan Ryan dimanapun, bagaimana bisa mereka tiba-tiba menghilang berdua seperti itu.
Devan kembali menyimpan ponselnya dengan tangan yang mengepal, awas saja kalau sampai dugaannya itu benar. Maka ia tak akan segan-segan menghajar Ryan, dan menghukum Anaya yang berani melawan perintahnya.
"Ada apa, Dev? "Tanya Arvin melihat Devan yang kembali dengan wajah tak senang.
"Ryan dan Anaya, keduanya tak terlihat dimanapun! "Devan semakin mengepalkan tangannya dengan rahang yang sudah mengeras.
"Dev, tenanglah. "Arvin berusaha menenangkan sahabatnya yang sudah mulai terlihat emosi, tidak mungkin Arvin diam saja melihat Devan merusak suasana pesta malam ini.
Berbeda dengan Arvin, Robby malah terlihat acuh tak acuh dengan Devan. Biarkan saja, biar tau rasa temannya itu.
"Mungkin saja Ryan sudah pulang lebih dulu, "ucap Arvin yang masih berusaha menenangkan Devan.
"Sudahlah, bukankah adil jika Anaya bertemu Ryan. Kau kan tadi juga bersama seorang wanita, bahkan sampai bergandengan tangan juga. "Robby masih sangat jengkel dengan Devan mengingat kejadian tadi.
"Salah mu sendiri membiarkan wanita secantik Anaya berkeliaran sendirian ditempat seperti ini, "ucap Robby lagi yang memang benar adanya.
"Berhentilah, Robb! "Kesal Arvin, Bukannya membantu Robby malah semakin memanas manasi Devan yang memang sudah kepanasan, karena tidak bisa menemukan Ryan dan Anaya dimanapun.
"Ingin kemana kau?! "Arvin mengikuti Devan yang mulai pergi menjauh mencari Anaya, yang disusul oleh Robby dibelakang dengan langkah malasnya.
Devan akan mencari wanita itu, bahkan jika perlu ia akan mengobrak-abrik tempat itu sekalian untuk menemukannya. Lihat saja, ia pasti akan menemukannya, dan awas saja jika sampai dugaan Anaya yang bertemu dengan si sialan itu Ryan itu benar.
Robby tidak ikut mencari Anaya, tetapi meskipun begitu ia tetap mengikuti kemana kedua temannya itu pergi.
.
.
.
.
.