marriage without love

marriage without love
Epidode 54


"Ada apa? "Robby yang baru masuk kedalam apartemen Arvin terlihat sangat kesal.


Hari masih begitu pagi, tapi Arvin sudah mengganggunya dengan cara terus-menerus menelpon dan mengiriminya pesan tanpa henti, menyuruhnya untuk segera datang ke apartemennya.


"Akhirnya kau datang juga, "hari ini Arvin meminta Robby untuk menemaninya mengantar Arvan pergi sekolah di hari pertamanya.


"Apa kau ingin membuatnya terlihat seperti berandalan? "Yang benar saja, masa Arvin ingin mengantar anak itu sekolah dengan seragamnya yang terlihat tidak rapi sama sekali.


Robby memasukan seragam Arvan kedalam celananya, lalu membetulkan topinya yang dipasang terbalik oleh Arvin.


"Kau kan bisa mengantarnya sendiri, kenapa aku harus ikut juga? "Padahal hari ini Robby ingin pergi melihat bengkel mobilnya, tapi gara-gara Arvin ia harus menunda rencananya.


"Aku gugup, aku kan tak pernah mengantar anak sekolah. Aku yakin, pasti di sana banyak mamah mudanya! "


Robby menatap sinis Arvin, katanya gugup tapi temannya itu malah terlihat sangat bersemangat sekarang.


"Robb, berikan uang jajan padanya. "


Robby melirik Arvin lalu setelah itu menghela napas, "Makanya kau bekerja, berhenti main-main! Kau tak sendiri lagi sekarang, kau tak ingin membuat anak ini kelaparan, kan? "Robby memberikan satu lembar uang berwarna biru pada Arvan.


"Berisik, nanti akan kupikirkan. "Acuhnya.


Setelah menempuh perjalanan setengah jam, mereka berhenti disalah satu sekolah dasar ternama, tempat Arvin sudah mendaftarkan Arvan untuk bersekolah.


"Tunggu sebentar, "Arvin menahan Robby dan Arvan yang ingin keluar dari mobil.


"Kalau ada yang bertanya, katakan saja aku papi mu, oke ..., "pesannya pada Arvan yang mengangguk paham.


"Oh, satu lagi! "Arvin kembali menahan mereka, "katakan juga papi mu belum menikah, bisa kan? Bisa dong! Masa tak bisa. " Robby menatap malas Arvin, ia kira hal penting apa yang ingin dibicarakan sampai harus menahan mereka. Ternyata, hanya sebuah omong kosong saja.


Setelah mendengar omong kosong Arvin, akhirnya mereka benar-benar keluar dari dalam mobil. Menuju ruang guru yang akan menjadi guru Arvan dikelas satu mulai hari ini.


"Sial, dia cantik sekali. "Gumam Arvin melihat guru muda yang baru mereka temui.


"Berhentilah, wajahmu terlihat sangat mesum. "Bisik Robby.


Robby membalas senyuman yang guru muda itu berikan, "maaf jika kurang sopan, tapi bolehkah saya bertanya yang manakah diantara bapak orang tuanya? "Guru muda yang bernama Kiran itu bertanya karena merasa penasaran, dan ia juga perlu tahu karena jika ada masalah dengan si anak akan lebih mudah untuk menghubungi orang tuannya.


"Saya papinya, "


"Saya ayahnya, "


Arvin dan Robby menjawab secara bersamaan membuat bu Kiran menatap bingung dua pria yang ada di hadapannya.


"Apa yang kau katakan? Papinya kan aku, jadi orang tuanya sudah jelas diriku. "Protes Arvin karena Robby ikut-ikutan menjawab, padahal ini kesempatan baginya untuk mengobrol dengan seorang guru cantik.


"Biarkan saja kau jadi papinya, aku kan hanya bilang aku ayahnya. Lagian aku juga yang memberikan uang jajan, jadi aku menjadi orang tuanya juga. "Apa-apaan Arvin memperdebatkan hal tidak penting begini. Tidak masalah juga kan, jika Arvan memiliki dua ayah. Lagian Arvin juga tak akan mampu untuk merawat seorang anak sendirian.


"Sialan kau, Robb! "Arvin yang tak tau tempat malah mengumpat sembarangan, padahal mereka masih berada disekolah.


"Andai ku tau, aku tak akan mengajakmu! "Sinis nya.


"Tak tau terima kasih, kau pikir dapat darimana uang yang sering kau pakai, awas saja jika minta padaku lagi. "Lihat saja nanti, mulai detik ini Robby akan menjadi teman yang perhitungan, supaya Arvin mau bekerja mencari uang sendiri.


Tidak mungkin selamanya ia akan membiarkan Arvin hanya meminta dan meminjam uang saja padanya, karena orang tuanya sudah tak mau memberikan uang jajannya lagi.


"Tidak apa, kan masih ada Devan! "Tukas Arvin, tidak apa Robby tak mau meminjamkannya uang, karena masih ada satu temannya lagi. Dan bahkan sampai sekarang kartu ATM Devan masih ada padanya.


"Hmm, "bu Kiran berdehem karena merasa canggung dengan dua pria yang sedang berdebat di depannya, "jadi, bapak berdua adalah orang tuanya benar, kan?? "Jujur saja wanita itu merasa sedikit aneh mengatakannya.


'Apa mereka berdua pasangan? 'Batinnya, menduga-duga.


Setelah melakukan sedikit perkenalan, Robby dan Arvin pamit untuk pergi.


.


"Dev, kenapa kau ada disini? "Tanya Arvin yang menemui Devan di dalam apartemennya.


Devan yang duduk bersandar di sofa, merubah posisi duduknya menjadi tegak. "Amanda, "ucapnya.


Arvin dan Robby ikut duduk di sofa, sepertinya Devan sedang serius sekarang. "Ada apa dengan, Amanda? "Tanya Robby penasaran.


Devan melirik Robby dengan matanya yang terlihat tajam, "aku harus menghukum wanita itu! "Tegasnya dengan tangan yang terkepal.


"Mau kau apakan? Di penjara karena melakukan penganiayaan?? "Ucap Arvin.


Jika hukuman yang seperti itu, maka akan percuma saja, karena ia akan dengan mudah meloloskan diri dengan bantuan orang tuannya.


Devan mengeluarkan seringainya, "itu terlalu ringan untuk wanita sepertinya, aku akan memberikan hukuman yang pantas karena sudah menyakiti Anaya dan berani menyukaiku. "


"Kau tidak akan mencoba membunuhnya, kan? "Melihat seringai Devan, membuat Arvin jadi was-was karenanya.


"Memangnya aku sudah gila?! "Tukasnya.


"aku kan bertanya hanya untuk berjaga-jaga. "


Tidak ada salahnya juga kan, Arvin ingin tahu mengingat sifat Devan yang agak rada-rada. Siapa tahu sekarang temannya itu ingin berubah menjadi seorang pembunuh karena ingin membalas perbuatan wanita jahat itu terhadap istri cantiknya.


"Kontak wanita itu, kirim kan padaku! "Devan sangat membutuhkan kontak Amanda, karena ia perlu menghubungi wanita itu. Dan Devan yakin salah satu dari temannya pasti ada yang memilikinya.


"Aku tak punya, "Robby tak terlalu banyak menyimpan kontak wanita di ponselnya, ia hanya akan menyimpan jika orang itu penting atau sudah dekat dengannya.


Devan melirik Arvin, "ku tahu kau memilikinya, kirimkan padaku! "


"Sebentar, "Arvin mengotak-atik ponselnya, tak lama setelah itu terdengar suara notifikasi ponsel Devan.


"Apa rencana mu? "Robby sangat penasaran dengan apa yang akan Devan lakukan pada wanita yang telah melukai Anaya.


"Terserah saja, yang pasti aku akan membalasnya."


"Jika perlu bantuan, aku akan membantumu! "Robby sangat setuju dengan niat Devan yang ingin membalas perbuatan Amanda, karena wanita itu memang pantas mendapatkannya. Dan kebetulan sekali, Robby juga tak menyukai wanita modelan Amanda yang tak tahu diri dan juga malu.


"Kenapa kau sangat bersemangat dengan masalah yang bersangkutan dengan Anaya? "Devan menatap Robby tak suka, padahal Robby sedang menawari bantuan kepadanya.


"Memangnya kenapa? Tak suka? Apa jangan-jangan kau cemburu?! "


"Tentu saja dia cemburu, "celetuk Arvin, pada Devan yang hanya diam saja tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Omong kosong! "Ucapnya, menyela apa yang baru saja Arvin ucapkan.


"Omong kosong matamu! Dasar idiot!! "Kesal Arvin.


"Kau kira aku dan Robby tak tahu jika kau sudah menyukai istrimu! "


Ck! Devan hanya bisa berdecak kesal, ia tak bisa menyangkalnya. Sepertinya ia memang menyukai Anaya, ia tidak suka jika ada pria yang mendekati Anaya. Sekalipun, temannya sendiri.


.


.


.


.