marriage without love

marriage without love
Episode 28


Tiga hari sudah berlalu setelah Anaya bertemu Ryan. Wanita itu tampak begitu pendiam, bahkan Devan yang tak terlalu memperhatikannya saja bisa merasakannya.


Devan yang baru saja bangun, melirik Anaya yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan pandangannya yang terlihat kosong.


"Dev, "Kagetnya ketika Devan menyentuh tangannya.


"Apa kau mau begitu terus? "Devan menatap jengah Anaya, setelah bertemu dengan Ryan, wanita itu jadi selalu terlihat melamun.


"Awas saja kau sampai minta cerai! "Devan tidak akan tinggal diam jika Anaya berani meminta cerai gara-gara Ryan. Ia tak mungkin melepaskan Anaya dengan mudah karena Devan sangat membutuhkan tubuh Anaya, dan tubuh itu hanya dirinya lah yang boleh menyentuhnya.


Anaya menggelengkan kepala pelan, andai bercerai bisa dilakukan dengan mudah, pasti ia sudah bercerai dengan Devan ketika ia memintanya dulu.


Puft ... Devan hampir tertawa mengingat ekspresi wajah yang dibuat oleh Ryan, ketika dirinya memberitahu kekasihnya, Anaya sudah ia nikahi.


Devan merasa puas melihat Ryan yang seperti itu karena ia juga sudah lama tak menyukai Ryan. Devan tak menyukai Ryan sudah semenjak mereka masih remaja, Devan benci karena Ryan selalu mengekor dengan Anaya kemanapun wanita itu pergi, meskipun itu hal yang wajar karena Anaya adalah kekasih Ryan.


Tapi jangan salah paham, Devan juga tak menyukai Anaya. Devan hanya merasa sedikit tertarik, itu saja.


Dan ketidakhadiran Ryan di acara reuni sekolah yang mereka buat dulu, membuat Devan memiliki kesempatan untuk mendekati Anaya yang saat itu hanya sedang berdua bersama sahabatnya, Bella.


Malam itu Devan merasa keberuntungannya telah tiba, makanya Devan dengan gencar mendekati Anaya dan setelah wanita itu ada dalam genggamannya, Devan mulai menjalankan rencana kotornya. Tapi karena kelalaian yang ia buat, benih yang ia buang malah tumbuh dalam wanita itu.


"Dev, apa nanti aku boleh keluar sebentar? "Meskipun Devan tak pernah perduli, Anaya selalu meminta izin ketika ingin pergi.


"Kemana? "Tanyanya, tumben sekali Devan tak menjawab dengan kata terserah.


"Apa kau ingin menemui kekasihmu itu? "Sarkasnya tak suka.


"Tidak, Dev. Aku hanya ingin bertemu dengan Bella. "Meskipun sejujurnya Anaya sangat ingin menemui Ryan, Anaya tak memiliki keberanian. Kembali melihat Ryan hanya akan membuat hatinya melemah.


"Awas saja jika kau masih berani berhubungan dengannya! "Devan menekan setiap kata yang ia ucapkan.


.


Anaya tiba di cafe tempatnya dan Bella janjian, hari ini Bella meminta bertemu sebagai pertemuan terakhir mereka, sebelum ia akan tinggal diluar negeri bersama Nick yang sudah menjadi suaminya.


"Selamat ya, Bell. Dan maaf karena aku terlambat mengucapnya, "sesal Anaya.


"Tidak apa, Nay. Kau tenang saja. "Bella tahu mengenai masalah Anaya yang terjadi ketika di acara pernikahannya kemarin, karena Bella bisa melihat dari pelaminan tempatnya berdiri.


"Semoga kalian cepat punya momongan. "Ucap Anaya.


"Sepertinya kami akan menundanya sebentar, "ucapnya, Baik Bella maupun Nick, mereka berdua sudah sepakat untuk menunda memiliki anak, karena mereka masih ingin menikmati waktu berdua mereka.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang? "Tanya Bella penasaran mengenai hubungan Anaya dan Ryan kedepannya.


Anaya menghela nafasnya yang terasa berat, "memangnya apa yang bisa kulakukan? "Anaya malah kembali bertanya dengan suaranya yang terdengar putus asa.


"Aku sedang hamil, Bell. Dan aku juga sudah punya suami. "Jelas Anaya, karena memang seperti itulah faktanya.


"Ann! "Tiba-tiba ada suara yang menyela pembicaraan mereka, yang tak lain adalah Ryan.


"Ryan ... Bagaimana bisa ?? "Anaya melihat Ryan dengan tatapan sangat terkejut, kenapa Ryan bisa ada disini.


"Nay, maafkan aku! "Anaya yang masih terkejut dengan kedatangan Ryan, mengalihkan pandangannya pada Bella yang tiba-tiba meminta maaf.


Kemarin, ketika acara pernikahannya baru selesai, Ryan kembali mendatangi Bella dan Nick. Pria itu meminta tolong pada Bella untuk dipertemukan dengan Anaya, karena jika Ryan sendiri yang memintanya Anaya pasti akan langsung menolak.


Bella tak langsung menerimanya, ia menolak permintaan Ryan pada awalnya. Tetapi, karena Ryan begitu memaksa sampai rela memohon padanya membuat Bella tak tega. Akhirnya Bella memberitahu lokasi dimana dia dan juga Anaya akan segera bertemu. Makanya Ryan bisa sampai ke tempat ini.


"Aku benar-benar minta maaf, Nay! "Sesal Bella yang merasa bersalah dengan Anaya, tetapi ia juga mengasihani Ryan.


"Aku butuh penjelasan, Ann! "Ryan ikut duduk, mengambil tempat berhadapan dengan Anaya.


Bella yang tak ingin menggangu waktu mereka memilih tuk undur diri, ia sudah terlalu ikut campur dengan masalah sahabatnya.


"Ryan ... Maafkan aku, "hanya itu satu-satunya kata yang dapat Anaya ucapkan.


"kamu tidak bersalah, Ann. Aku hanya perlu mendengar cerita yang sebenarnya dari mu. "Tutur Ryan lembut. Walaupun, ia juga merasa kecewa sebenarnya.


Anaya menurunkan pandangannya, ia merasa air matanya seperti akan menetes. Ia tak sanggup menatap Ryan yang ada di depannya.


"Aku sungguh minta maaf ..., "Anaya sebisa mungkin menahan air matanya, meskipun tempat itu sedang sepi, tetapi Anaya tak mau sampai ada yang melihatnya menangis disitu.


Ryan menyentuh lembut tangan Anaya yang ada diatas meja, memberikan usapan lembut untuk menenangkannya.


Ketika Anaya memberanikan diri menatap wajah Ryan yang selalu ia rindukan, air matanya langsung menetes. Anaya sudah tak sanggup lagi menahan setiap genangan air yang berusaha ia tampung dimatanya.


Anaya merindukan Ryan. Anaya merindukan suaranya, tatapan hangatnya, ia juga merindukan setiap perlakuan penuh kasih sayang yang selalu pria itu berikan. Anaya sungguh mencintai Ryan, selama menjalin hubungan dengannya, Anaya tak pernah sekalipun melirik pria lain. Baginya Ryan adalah satu-satunya, tetapi karena takdir yang begitu kejam ia harus berakhir dengan Devan.


"Aku hamil ... Bayi milik Devan, "Anaya hampir tak bisa menyelesaikan kalimat yang ingin ia ucapkan, karena berusaha menahan isak tangisnya.


Anaya terlihat begitu hancur, begitu juga dengan Ryan.


"Kenapa kau tidak menceritakan semuanya padaku lebih dulu? Kenapa kau mengambil keputusan tanpa memberitahu yang sebenarnya padaku?? "Gurat kecewa terlihat begitu jelas di wajah Ryan.


"Padahal jika aku tahu, aku akan segera menikahi mu. "Ryan mengusap air matanya yang tiba-tiba lolos, rasanya sungguh sakit sekali.


"R-yan ..., "Anaya semakin tak mampu menahan air matanya. Apakah cinta Ryan memang sebesar itu padanya.


"Kenapa, kenapa kau tak memberitahuku lebih dulu ...? "Ryan terlihat begitu frustasi, matanya yang selalu menatap hangat Anaya, terlihat begitu sendu.


Andai saja Anaya mau jujur mengenai masalahnya, pasti Ryan akan segera menikahi Anaya. Ia tak peduli meskipun Anaya mengandung anak laki-laki lain, ia akan tetap menerimanya. Bahkan Ryan juga tak keberatan untuk membesarkan anak yang ada dalam kandungan Anaya seperti anaknya sendiri.


Ryan begitu tulus mencintai Anaya, tidak mungkin rasa sayang dan cintanya selama ini bisa menghilang begitu saja.


Ryan tak pernah menyalahkan Anaya, karena wanita itu memang tak bersalah. Tetapi, Ryan merasa kecewa. Andai saja Anaya jujur padanya, pasti mereka masih bisa bersama sekarang.


"Aku takut, aku takut memberitahumu, "Anaya memang pernah berniat memberitahu Ryan. Tetapi ia takut, Anaya takut untuk berbicara jujur.


Anaya takut Ryan akan membencinya, ia juga takut Ryan akan meninggalkannya. Walaupun pada kenyataannya, dialah yang meninggalkan Ryan.


.


.


.


Terima kasih buat readers yang sudah mau mendukung karya author.😊