marriage without love

marriage without love
Episode 38


Hari ini Anaya dan Devan akan berkunjung ke kediaman papah Arion, sudah cukup lama mereka tak berkunjung kesana.


"Cepatlah ...! "Devan yang sudah menunggu Anaya dibawah meneriakinya karena tak kunjung turun juga.


Tak lama setelah teriakan Devan, wanita itu keluar dengan langkahnya yang tergesa-gesa, "tunggu, Dev! "Ucapnya sambil menuruni anak tangga.


"Aku sudah lama sekali menunggu! "Tukasnya, padahal seingat Anaya, Devan hanya lebih dulu sedikit darinya.


"Apa kau memakai riasan di wajahmu?? "


"S-sedikit ..., "Anaya sengaja merias wajahnya untuk menutupi sedikit mata panda nya yang muncul, karena ia selalu merasa susah tidur jika malam.


Meskipun sudah dijelaskan, Devan tetap saja terus menatapnya. Apa kali ini pria itu ingin menghinanya dengan mengatai seperti badut lagi.


"Pasti kau berniat menggoda pelayan muda yang ada di sana kan! "Anaya keliru, kali ini Devan tidak menghinanya. Tetapi, malah menuduhnya.


"Tidak, Dev. Mana mungkin aku melakukannya, "Anaya tak berniat menggoda siapapun, ia hanya merias wajahnya agar terlihat lebih fresh dan nyaman untuk di lihat.


Dengan raut wajah tak suka Devan melangkah menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah, diikuti oleh Anaya dibelakangnya yang sedikit tertinggal karena langkah kakinya tak sepanjang milik Devan.


.


Ketika baru tiba di halaman rumah besar milik ayahnya, Arion. Mata Devan menemukan dua mobil yang sudah tak asing lagi di matanya.


Ketika Devan dan Anaya masuk kedalam rumah, mereka disambut oleh beberapa pelayan yang bekerja disitu, yang dibalas dengan sebuah senyuman oleh Anaya. Sedangkan Devan hanya melongos, mengabaikan sapaan mereka semua.


Devan dan Anaya baru saja tiba di ruang tamu, "Kenapa kalian ada disini?! "Tukasnya melihat Arvin dan Robby yang sedang asik mengobrol dengan Arion.


"Memangnya kenapa? "Arvin malah bertanya balik.


Ck! Devan masih kesal dengan Arvin juga Robby, tetapi mereka sudah lebih dulu berada di rumah ayahnya. Andai saja ia tahu lebih dulu, pasti Devan akan menunda untuk datang berkunjung.


"Papah yang menyuruh mereka kesini. "Bohong Arion.


Arion tak mau jika Devan dan kedua sahabat itu bertengkar, yang ada hanya akan membuat kepalanya pusing mendengarkan perdebatan mereka.


Devan menatap Arion tak suka, "kenapa harus hari ini?? "Ucap Devan dengan wajahnya yang terlihat tak bersahabat. Padahal masih banyak hari lain, tapi kenapa malah dihari yang sama ketika ia datang.


"Kau ini kenapa sih, Dev?? Mereka kan teman mu? "Arion pura-pura tidak tahu, padahal ia sudah mendengar cerita dari Arvin dan Robby, jika putra kurang ajarnya sedang kesal dengan kedua temannya.


"Nak Anaya, duduklah ... Kenapa berdiri saja. Biarkan saja Devan disitu! "Arion menyuruh menantunya yang masih berdiri disamping Devan, untuk ikut bergabung duduk dengan mereka.


Anaya melirik Devan yang masih melihat kedua temannya tak suka, karena kakinya juga terasa pegal kalau terlalu lama berdiri, Anaya memutuskan untuk ikut bergabung dengan ayah Arion.


"Kau terlalu jauh! Duduk disini saja!! "Arvin menepuk sofa kosong yang berada tepat disampingnya.


"T-tidak aku disini saja. "Ucap Anaya yang menerima tatapan tajam dari Devan.


Tak lama setelah Anaya duduk, Devan juga ikut bergabung duduk disebelah wanita itu.


"Papah dengar kalian sudah tahu jenis kelamin cucu papah?? "Arion terlihat bersemangat membahas calon cucunya yang masih belum lahir.


"Iya, bayinya laki-laki ..., "Anaya mengelus perutnya, wanita itu juga terlihat begitu bersemangat ketika membicarakan bayinya.


"Wah, benarkah?! Papah sudah tak sabar ingin menggendongnya! "Membayangkannya saja Arion sudah merasa gembira, apalagi jika nanti sudah jadi kenyataan.


Arion senang sekali, ia benar-benar sangat menantikan cucu pertamanya.


Arvin yang ada disitu terlihat kebingungan, "Kenapa laki-laki ...? Bukannya bayinya perempuan?? "


Arvin masih mengingatnya begitu jelas. Kemarin, ketika mereka berada di kantor Devan. Robby mengatakan jika bayi Devan jenis kelaminnya perempuan. Apakah memang bisa berubah secepat itu?


Arvin menatap Robby dengan tatapan mematikannya, "Kau membohongiku?! "Geram nya pada Robby yang terlihat seperti sedang menertawakannya.


"Memang apa yang kemarin ku katakan?? "Robby pura-pura tak ingat.


"Kau bilang bayinya perempuan! Aku masih ingat dengan jelas!! "


"Benarkah? Kupikir aku mengatakan laki-laki, mungkin saja kau salah dengar! "


Senang sekali Robby bisa mengerjai Arvin, karena biasanya Arvin lah yang suka melakukan hal itu.


Robby menendang kaki Arvin, "coba kau lihat dia! "Ucapnya dengan wajahnya yang menatap Devan.


Arvin menepuk punggung Arion, "om, lihat om! "Arion langsung mengikuti Arvin melihat kearah Devan yang sedang menyandar di bahu Anaya, sambil memainkan benda pipih yang ada ditangannya.


Anaya yang mendapati tatapan dari teman dan juga ayah mertuanya, jadi merasa malu. Sedangkan Devan malah terlihat tak perduli, bahkan ada beberapa pelayan yang tersenyum melihat tuan mudanya, mereka tak percaya Devan bisa bersikap seperti itu.


"Manja sekali kau ... Padahal kau selalu mengabaikannya! "Sindir Robby, padahal dalam hati ia merasa sangat senang melihat Devan seperti itu, yang berati pertanda jika hubungan keduanya menjadi lebih dekat.


"Bahkan dia tak punya malu bersikap seperti itu di depan kita! "Tambah Arvin.


Padahal Devan tau, mereka bertiga yang ada disitu tidak ada yang memiliki pasangan, bikin iri saja.


Arion hanya tersenyum, ia senang jika Devan bisa bersikap sedikit manja pada Anaya. Karena Anaya pasti akan memperhatikannya, Arion tahu karena Anaya wanita yang begitu baik.


Arion bersyukur karena Anaya yang menjadi istri Devan, semenjak menikah dengan Anaya Devan menjadi lebih terurus, badannya juga terlihat lebih berisi.


Mendengar dari cerita Arvin dan Robby, Devan sudah jarang pergi mabuk-mabukan, dan ia juga sudah tak pernah bermain dengan banyak wanita lagi. Devan benar-benar sudah berubah meskipun tidak sepenuhnya, tapi prilakunya sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya.


"Dev, aku mau pergi ke dapur ..., "Anaya begitu malu, ia ingin pergi ke dapur saja untuk menghilangkan rasa malunya.


Setelah Devan memperbaiki posisi duduknya, Anaya buru-buru pamit untuk ke dapur. Ia ingin membantu para pelayan yang sedang masak. Ia juga tak terlalu nyambung karena mereka yang ada disitu laki-laki semua.


"Dev ..., istrimu cantik sekali! "Setelah Anaya pergi, sekarang adalah waktu bagi Arvin utuk menggoda dan mencari gara-gara dengan Devan.


"Jantungku selalu melemah jika menatapnya! " tambah Arvin.


"Waktu aku menemaninya kemarin, Anaya juga terlihat sangat cantik. "Robby ikut-ikutan menggoda Devan.


Daripada Arvin, Devan lebih termakan oleh omongan Robby. "Diam lah, Robb! "Devan mengepalkan tangannya, ia tak suka jika Robby memuji Anaya.


"Anaya kan memang cantik, bahkan sikapnya pun cantik. "Bukannya berhenti, Robby malah semakin memprovokasi Devan.


"Kubilang tutup mulutmu, Rob!! "Teriak Devan tak suka. Robby terlalu dekat dengan Anaya, sampai-sampai Devan merasa tak nyaman dengan kedekatan mereka.


"Lihat, om! Devan memarahi Robby. Padahal, Robby sudah begitu baik memuji istrinya! "Arvin membela Robby, mana mau ia membela Devan, tujuannya kan memang membuat Devan merasa kesal. Bahkan ia sampai mengadu pada om Arion yang juga berada disitu, brengsek sekali memang teman Devan yang satu ini.


"Mulai lagi kalian. "Arion menatap malas ketiganya.


Heran sekali Arion dengan mereka bertiga, selalu saja ada yang diperdebatkan ketika bertemu. Tetapi anehnya hubungan mereka tetap terjalin, walaupun sering adu mulut tanpa alasan yang jelas.


.


.


.


.


Jangan lupa jejak😎