
Kini Anaya dan Norma sedang berada di sebuah toko perlengkapan bayi. Mereka berdua memilih beberapa pakaian bayi maupun tempat tidurnya.
Keduanya tampak begitu semangat, apalagi banyak barang yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan untuk bayi baru lahir.
"Lucu sekali ..., "Anaya memegang sepasang kaus kaki bayi berwarna biru, ia sangat gemas melihatnya. Pasti akan sangat lucu jika bayinya nanti mengenakannya.
Norma dan juga Anaya membeli cukup banyak barang, karena kurang dari tiga bulan Anaya akan segera melahirkan. Jadi mereka memutuskan untuk mulai membeli perlengkapan bayinya.
Setelah membayar semuanya, Norma menyuruh Tono, supir pribadinya untuk membawa barang-barang yang mereka beli masuk kedalam mobil.
Setelah itu mereka langsung saja pulang ke rumah, meskipun sejujurnya Norma masih ingin jalan-jalan dengan putri bungsunya. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga tak mau membuat Anaya terlalu kelelahan jika harus menemaninya pergi ke sana dan kemari.
Apalagi Anaya terlihat begitu mudah lelah, berbeda sekali dengan putri pertamanya Desy ketika sedang mengandung cucunya Kayla dulu. Tapi itu hal yang wajar saja, karena setiap orang pasti berbeda-beda.
Ketika sudah sampai di rumah, Anaya membiarkan bara-barang yang ia beli tadi, berhamburan diatas tempat tidur. Ia masih belum puas melihat semua perlengkapan bayinya.
Ketika melihat benda-benda lucu itu, Anaya merasa begitu senang. ia menjadi semakin tak sabar untuk menunggu bayinya lahir.
.
Di tempat lain, Devan baru saja memasuki sebuah hotel bintang lima, setelah melakukan pertemuan dengan beberapa kolega bisnis yang ada disitu.
Devan sangat lelah, bahkan ia sampai tak sempat untuk menelpon Anaya. Jadwalnya begitu padat, ia saja tak punya cukup banyak waktu untuk sekedar tidur.
Ketika sedang enak-enaknya tiduran, tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk dari Arvin. Devan mengabaikan panggilannya, karena ia sedang malas dan ingin beristirahat. Tapi namanya juga Arvin, makin dibiarkan bukannya berhenti, tapi malah terus-menerus menelponnya.
"Heh, brengsek!! "Seandainya Arvin ada di depannya saat ini, Devan pasti sudah memukul teman tak tau dirinya yang satu ini.
"Dev, tolongin ... "Arvin menjelaskan situasinya saat ini pada Devan, hanya Devan yang bisa menolongnya sekarang ini. Selain karena Devan sahabatnya, tetapi juga karena Devan sedang ada di kota yang sama dengannya saat ini.
"Setan kau, vin! "Umpat Devan melihat jam yang sudah begitu larut, tetapi Arvin malah memintanya untuk pergi.
Setelah telpon dimatikan, Devan langsung pergi ke tempat yang diminta oleh Arvin. Benar-benar merepotkan sekali, padahal ia baru saja bisa beristirahat sejenak setelah seharian melakukan pertemuan.
.
Devan baru saja sampai ke tempat yang diminta oleh Arvin, yaitu sebuah rumah sakit yang lumayan besar di kota itu.
Devan masuk dan mulai mencari kamar inap yang Arvin berikan, dan tak butuh lama ia langsung menemukannya.
Devan baru membuka pintu kamar itu, bahkan sebelah kakinya saja belum melangkah masuk. Tetapi Arvin yang melihatnya langsung berlari kearahnya, dan membawanya keluar dari ruangan itu.
"Astaga Dev! Aku nabrak anak orang!! "Arvin terlihat frustasi ketika mengatakannya.
"Mana ku tau! Lagian salah mu sediri, siapa suruh bawa mobil sambil mabuk!! "Kelihatan sekali kalau Arvin habis minum-minum dari bau tubuhnya. Padahal ini adalah hal yang paling ditakutkan Robby, membiarkan Arvin menyetir sendirian ketika sedang mabuk.
"Jangan bilangin bapakku! "Bisa-bisa kena usir Arvin kalau sampai ketahuan ayahnya. Sudah malas bekerja, ditambah nabrak anak orang gara-gara mabuk, habis sudah riwayatnya kalau sampai ketahuan.
"Mana?! "Arvin menadahkan tangannya pada Devan.
Ck! Devan mengambil dompetnya, mengeluarkan salah satu kartu ATM yang ada di dalam situ, lalu memberikannya pada Arvin.
Arvin bersyukur sekali karena Devan melakukan perjalan bisnis ke kota yang sama dengannya yang sedang liburan seorang diri. Jika tidak, Arvin tidak tau bagaimana nasibnya di kota orang tanpa adanya uang.
Setelah itu, mereka kembali ke kamar dimana orang yang Arvin tabrak itu berada.
"Keluarganya mana? "Devan tak melihat adanya wali dari anak yang sudah Arvin tabrak.
"Enggak tau, "Arvin juga tidak tau siapa dan dimana keluarganya, ia juga tak bisa bertanya karena anak itu sudah tak sadarkan diri setelah ditabrak olehnya.
"Kemana kau, Dev?! "Arvin mencegat Devan yang ingin keluar dari ruangan itu.
"Ke hotel, memangnya ngapain aku disini. "Sahutnya dengan suara yang terdengar begitu lelah.
"Tunggu, Dev! Aku juga akan ikut dengan mu! "Arvin bangkit dari duduknya ingin mengikuti Devan yang sudah berada di depan pintu.
"Mana bisa, dasar gila! Kau kan menemani anak itu! "Yang benar saja, masa Arvin ingin ikut pergi juga.
Mendengar itu Arvin kembali ke tempat duduknya, benar juga kata Devan. Jika ia ikut pergi, siapa yang akan menjaga anak itu. Yang ada anak itu malah kebingungan ketika ia sudah sadar nanti. Sial sekali, padahal dirinya juga ingin tidur disebuah hotel mewah bintang lima tempat Devan. Tapi ia malah harus terjebak disebuah rumah sakit, dengan seorang bocah laki-laki yang tak dikenalnya.
"Pulang saja sana, lagian aku sudah tak membutuhkan mu. "
Sebelum benar-benar pergi, Devan memicingkan matanya. "Awas kau kalau tak mengganti uangku lagi! "Tukas Devan pada Arvin yang tak pernah membayar kembali uangnya.
"Kau tenang saja ..., "Arvin membuat gerakan tangan mengusir Devan.
Setelah Devan pergi, Arvin mendekati anak laki-laki yang masih belum juga sadarkan diri itu. Untung saja Arvin masih memiliki sedikit keberuntungan, jika tidak pasti anak itu sudah meninggal karena terlindas oleh mobilnya.
Membayangkannya saja sudah begitu mengerikan, bisa-bisa ia akan berakhir dalam kurungan sel penjara kalau itu benar terjadi. Dan Arvin sangat yakin, sang ayah tidak akan mau bersusah payah untuk membantunya keluar.
Setelah Arvin lihat dari dekat, ternyata bocah itu memiliki rupa yang cukup bagus juga. Walaupun, tubuhnya terlihat begitu kurus.
Arvin menatap anak itu sambil garuk-garuk kepala, karena tak tau anak siapa yang sudah ia tabrak.
.
Devan yang baru sampai di hotel tempatnya menginap selama disitu. Mengecek ponselnya.
"Ck! Yang benar saja, masa dia tak mencari ku! " Dia yang dimaksud Devan adalah Anaya.
Devan kira wanita itu akan mencarinya, karena sudah tak mengabari seharian ini. Tapi apa ini, huh? Bahkan satu pesan pun tak ada yang masuk dari wanita itu. Apakah sulit sekali untuk mengirim setidaknya satu pesan kepadanya.
Devan melempar ponselnya keatas tempat tidur, awas saja nanti jika dirinya sudah pulang.
.
.
.