
Saat ini Devan sedang berada di sebuah Bar, Devan tidak tahu sudah berapa banyak dirinya minum.
Brak!
Lagi-lagi setelah meneguk minumannya dalam satu kali tegukan, Devan meletakkan gelas kecil yang ada di tangannya dengan begitu kasar, lalu kembali mengisinya.
"Sialan! "Umpatnya ketika ingatannya kembali teringat akan Anaya yang bertemu dengan Ryan tadi siang.
Devan menggoyangkan gelas yang ada ditangannya, dengan mata yang mengawasi banyaknya wanita yang keluar masuk disitu. Cih! Tak ada satupun dari mereka yang membuat dirinya merasa tertarik, semuanya terlihat begitu membosankan dimatanya.
"Dev! "Devan menatap ke arah sumber suara yang baru saja memanggilnya.
"Tidak kusangka, ternyata kau disini juga. "Arvin yang baru memasuki Bar bersama seorang wanita menghampiri Devan yang hanya duduk sendirian disitu.
"Sepertinya kau sudah cukup lama disini! "Tukas Arvin melihat banyaknya botol alkohol yang sudah kosong di meja Devan.
Devan diam saja dengan matanya yang menatap malas Arvin.
"Sepertinya aku harus menemani temanku malam ini, "ucap Arvin pada wanita yang baru datang bersamanya.
"Tidak apa, kalau begitu aku akan pergi sendiri saja. "Ucap wanita yang entah siapa namanya, Arvin sudah lupa.
Ketika wanita itu pergi, Arvin menemani Devan yang hanya duduk sendirian disitu.
"Heh, Dev. Apa kau punya sedang punya masalah? Tumben sekali kau keluar sendirian! " Biasanya Devan akan mengajak dirinya atau Robby jika ingin pergi minum-minum.
Devan kembali meneguk minumannya, "tidak tau, "sahutnya dengan bahu yang terangkat.
"Ayolah, Dev. Jika sedang punya masalah jangan diam saja! "Cukup menyebalkan melihat Devan yang seperti itu.
"Aku sedang kesal! "Setelah mengatakan itu, Devan kembali meminum alkohol di gelasnya.
"Memangnya apa yang membuatmu kesal?katakanlah! "Arvin begitu memaksa agar Devan mau bercerita.
"Foto yang kau kirim! Aku kesal karena itu!! "
Arvin diam sejenak mencerna apa yang di maksud Devan, memangnya foto apa yang sudah ia kirimkan pada Devan sampai membuat temannya menjadi seperti ini.
"Foto apa ...? "Perasaan Arvin tak mengirim apapun pada Devan.
"Bukankah kau yang mengirim foto Anaya yang sedang bertemu dengan Ryan?! "Wajah Devan terlihat kesal bukan main sekarang.
Sial! Arvin menguarkan ponselnya, lalu memeriksa kemana ia mengirim foto itu. Bagaimana foto itu bisa sampai ke Devan.
"Sialan, " gumamnya, Arvin membelalakkan matanya. Bodoh sekali, bagaimana bisa foto itu terkirim pada sebuah Grup obrolan yang beranggotakan mereka bertiga.
Arvin kira ia mengirimkan pada Robby, taunya malah salah kirim pada Grup mereka.
Sekarang Arvin jadi bingung kan harus bagaimana.
"Dev, lebih baik kau pulang saja. Aku akan mengantar mu! "Arvin merebut gelas yang ada ditangan Devan.
"Tidak, aku masih mau disini! "Devan masih malas pulang ke rumah.
"Dev, ayolah ..., "Arvin bingung harus melakukan apa pada Devan yang sedang mabuk, kenapa harus dirinya yang bertemu Devan di situasi seperti ini, kenapa tidak bertemu Robby saja.
Arvin memaksa Devan untuk pulang, ia membawanya keluar dari Bar, karena Devan juga sudah terlihat sangat mabuk.
"Sialan! "Arvin memapah tubuh sahabatnya sambil sesekali mengumpat, merutuki kecerobohannya.
Bodoh sekali, bagaimana bisa ia mengirim foto itu pada Devan. Pasti Devan dan Anaya sedang bertengkar karena dirinya.
Arvin memasukan Devan ke dalam mobilnya, ia tak mengantar Devan pulang ke rumah karena Devan terus meracau tak ingin pulang. Jadi Arvin memutuskan untuk membawanya ke apartemennya saja
.
"Ugh! "Devan bangun dengan kepalanya yang terasa pening. Matanya menatap ke penjuru ruangan, ternyata ini bukan kamarnya, bukan pula rumahnya. Tapi Devan cukup familiar dengan tempat ini, tempat yang agak kotor dan berantakan. Tidak salah lagi, ini adalah apartemen Arvin.
"Sudah bangun kau, "Arvin menemui Devan yang berada di sofa dengan semangkuk mie di tangannya.
"Mau kemana kau Dev? "Tanya Arvin dengan mulutnya yang penuh.
"Pulang, "sahut Devan yang sudah beranjak tanpa menatap Arvin yang sibuk menyantap mie nya yang sisa sedikit di mangkuk.
.
Devan yang baru sampai rumah langsung menuju kamarnya, ternyata Anaya masih ada di tempat tidur. Pantas saja Devan tak bisa menemukan wanita itu dimana pun. Biasanya di jam ini, wanita itu masih sibuk dengan urusan rumah.
Devan mendekati Anaya, wajah wanita itu masih saja terlihat begitu pucat. Tetapi, bibirnya sudah tak terlihat membiru seperti tadi malam.
Anaya yang memang tidur tak terlalu nyenyak bisa mendengar suara ketika Devan mulai memasuki kamar.
"Dev ..., "gumamnya.
"Apa kau sakit sekarang? "Sinis Devan.
"Aku hanya terkena flu dan sedikit pusing, "sahutnya dengan tubuh yang masih berbaring.
"Apalagi kalau bukan sakit namanya! Salah sendiri, siapa suruh hujan hujanan!"Sindirnya, mengingat ketika wanita itu pulang dengan tubuh yang basah kuyup kemarin.
Anaya bangun menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur, "kau habis darimana, Dev? "Suaranya terdengar begitu lemas.
"Bukan urusan mu! "Tukasnya.
"Kemarin aku sungguh tidak sengaja bertemu Ryan. "Anaya masih berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi semalam.
Devan menatap Anaya tak suka, "Berhentilah menyebut nama pria sialan itu! kuping ku sakit mendengarnya!! "Ucapnya yang tak suka mendengar nama Ryan, mendengar nama si sialan itu hanya akan membuat harinya terasa buruk.
"Apa kau sudah meminum obat?! "Devan bertanya dengan suaranya yang terdengar seperti membentak.
"Belum, "Anaya malas bangun dari tempat tidur, tubuhnya terasa lemah. Anaya hanya ingin berbaring saja.
Ck! Devan keluar kamar, tapi tak lama kembali lagi dengan membawa sebuah gelas yang berisi air di dalamnya.
Devan membuka laci tempat penyimpan obat milik Anaya, yang di dalamnya terdapat banyak obat maupun vitamin. Devan mengambil semuanya, membawanya ke tempat Anaya yang terlihat begitu lemah di tempat tidur.
"Jika tak mau cepat mati minumlah! "Devan menaruh semua obatnya di depan Anaya, karena ia tak tahu obat mana yang harus di berikan pada wanita itu.
Anaya mengambil salah satu obat yang Devan berikan, lalu meminumnya. Semoga saja flunya bisa lekas sembuh.
"Terima kasih, "ucapnya pada Devan yang menatapnya sinis.
"Apa karena saking kepikiran nya dengan pria sialan itu sampai membuatmu tak bisa tidur?! "Sindir Devan melihat lingkaran hitam dibawah mata Anaya yang terlihat begitu jelas.
Apa yang dikatakan Devan memang benar, dirinya memang tak bisa tidur karena memikirkan Ryan. Selain itu, Anaya juga memikirkan nasib pernikahannya dan juga bayinya yang akan segera lahir nanti.
Anaya masih begitu mencintai Ryan, tapi tidak mungkin baginya untuk bercerai dengan Devan karena alasan itu. Dan meskipun seandainya ia berpisah dari Devan, Anaya rasa dirinya juga tak akan bisa kembali bersama dengan Ryan, karena Anaya sudah merasa tak pantas.
Bayinya juga memerlukan sosok ayah dan Devan lah ayahnya, meskipun Anaya tak tahu apakah Devan bisa menjadi ayah yang baik atau tidak mengingat betapa kasarnya pria itu.
"Kau mau kemana lagi, Dev? "Tanya Anaya pada Devan yang terlihat buru-buru mengganti pakaiannya. Apakah Devan ingin pergi keluar lagi? Padahal dirinya baru saja pulang.
"Memangnya kemana?! Aku hanya ingin mengganti bajuku! "Meskipun agak kasar, tapi setidaknya Devan menjawabnya.
Devan tak berniat pergi kemana pun, ia hanya merasa tak nyaman dengan pakaian yang sudah ia kenakan dari kemarin.
.
.
.
.
Jangan lupa jejaknya 😁