
Setelah membawa Anaya ke rumah sakit, Ryan masih belum pernah datang lagi, dan hari ini ia memutuskan untuk pergi menjenguknya. Ryan membuka pintu itu sedikit, lalu mengintip apa yang sedang dilakukan wanita itu dari celah pintu.
Setelah itu barulah Ryan memutuskan untuk masuk kedalam, "kenapa kau melamun? "Ucap Ryan yang baru masuk.
Anaya menatap lama Ryan yang berjalan mendekatinya, "R ... Yan, " lirihnya, dengan air mata yang mulai turun membasahi pipinya.
"Anna, kenapa kau menangis? "Ryan menghentikan langkahnya ketika sudah sampai dekat ranjang Anaya.
"Hei, jangan menangis ..., "Ryan dengan lembut menghapus air mata wanita itu. Bukannya berhenti, air matanya malah menjadi semakin deras.
"Anna, "Ryan memegang lembut tangan Anaya, mengelusnya untuk memberikan rasa nyaman, membuat wanita itu mulai merasa tenang.
Setelah wanita itu mulai merasa tenang, Ryan duduk di kursi yang ada disebelah ranjang.
"Kemana, Devan? "Tanyanya, yang tak dapat menemukan keberadaan bajingan itu di tiap sudut ruangan.
"Devan baru saja pergi, "jelas Anaya mengingat Devan yang tadi begitu terburu-buru pergi ke kantor, karena mendapat panggilan mendadak dari sang sekertaris, Bram.
Ryan menatap wajah Anaya, "syukurlah memarnya sudah mulai pudar, "ucapnya.
Ryan mengambil sebuah pisau buah untuk mengupas apel yang tadi dibawanya, sebelum datang ke rumah sakit ia memang sengaja membelinya, karena ia tau Anaya sangat menyukai yang namanya buah-buahan, apalagi buah apel yang paling ia sukai diantara semuanya.
"Ryan, "sudah lama sekali Anaya tak memanggil nama pria itu dengan nyaman seperti sekarang.
"Ada apa, Anna? "Ryan yang tadi sibuk mengupas buah ditangannya, menatap wanita yang baru saja memanggilnya dengan sebuah senyuman lembut di bibirnya.
"Terima kasih, "
"Terima kasih, sudah menyelamatkanku, " Anaya tidak tau apa yang akan terjadi seandainya Ryan tak datang menolongnya.
"Padahal, aku sudah menyakitimu. "Ucapnya lagi, dengan kepala yang tertunduk.
"Anna, apa yang kau bicarakan? Itukan bukan salahmu. "Ryan memang sakit hati karena ditinggalkan oleh Anaya, tetapi ia tak pernah menyalahkannya, karena wanita itu juga korban. Orang yang pantas disalahkan adalah Devan, karena bajingan itulah pelakunya.
Ryan menghela napasnya, lalu menampilkan senyumannya, "sudahlah, tidak usah dipikirkan. "Ucapnya, lalu mengelus lembut pucuk kepala Anaya dengan penuh kasih sayang. Seperti yang sering ia lakukan kepada wanita itu dulu.
Anaya menatap wajah Ryan yang menatapnya dengan begitu lembut. Memang begitulah seorang Ryan, pria itu sama sekali tak pernah menyalahkannya. Dan karena kelembutan dan kasih sayangnya itulah yang membuat Anaya sangat sulit untuk melupakannya.
Anaya merasa sangat beruntung karena pernah bersama dengan laki-laki sebaik Ryan, dan entah perempuan mana yang akan beruntung mendapatkan pria itu nantinya.
"Kau melamun lagi, "ucap Ryan pada Anaya yang terlihat bengong sambil menatapnya.
Ryan memberikan buah apel yang sudah selesai ia kupas dan potong menjadi beberapa bagian kepada Anaya, dan wanita itu dengan senang hati mengambil dan melahap buah yang diberikannya.
"Bagus sekali, "Ryan kembali mengelus pucuk kepala Anaya karena merasa gemas dengan wanita itu.
Anaya memanyunkan bibirnya, "aku bukan anak kecil. "Ucapnya yang merasa kesal dengan wajah cemberut, membuat Ryan yang melihatnya malah menjadi semakin gemas.
Untuk sesaat keduanya merasa seperti kembali ke masa lalu.
.
"Apakah kau melihatnya juga? "ucap seseorang yang mengintip Ryan dan Anaya dari balik pintu.
"Tentu saja, aku kan tidak buta! "Tukas orang yang disebelahnya.
"Kapan kita akan masuk, Robb? "Tanya Arvin, yang sudah merasa pegal terus berdiri di depan pintu, seperti seorang mata-mata.
"Sebentar lagi, "sahut Robby.
Benar, Robby dan Arvin lah orang yang sedang mengintip dari balik pintu itu. Keduanya datang karena ingin menjenguk Anaya juga, tapi ketika pintu baru terbuka sedikit mereka melihat kehadiran Ryan di dalam sana. Awalnya mereka mengira itu Devan, tapi setelah dilihat lebih jelas lagi ternyata Ryan.
Sudah cukup lama mereka memperhatikan dua insan itu.
"Ternyata Anaya bisa membuat ekspresi seperti itu juga, "Baru kali ini Robby melihat Anaya menampilkan ekspresi cemberut, tapi terlihat lucu seperti itu. Biasanya wanita itu hanya akan tersenyum dengan wajahnya yang selalu terlihat sedih.
"Iya, kita akan membiarkannya sebentar lagi. "Entah yang dilakukannya benar atau salah, Robby merasa sayang untuk masuk dan menggangu suasana antara dua orang itu.
Karena wanita itu terlihat begitu senang, Robby yang melihatnya juga jadi ikut senang. Jika bersama temannya, Devan. Wanita itu tak pernah terlihat sebahagia itu, berbeda sekali ketika bersama dengan Ryan.
Wajar saja, karena saat ini wanita itu sedang bersama dengan laki-laki yang ia cintai dan juga mencintainya, jadi bukan hal yang aneh mereka terlihat begitu bahagia, meskipun mereka hanya melakukan hal-hal kecil saja.
"Anaya memang lebih cocok bersama Ryan, dibandingkan Devan. "
Tentu saja, hal itu sudah terlihat sangat jelas. Arvin juga setuju dengan apa yang baru saja Robby katakan, tapi mau bagaimana lagi. Meskipun lebih cocok bersama dengan Ryan, tapi pada kenyataannya wanita itu sudah menikah dengan Devan, sahabat mereka yang bahkan tak mampu melindungi wanita itu, apalagi membahagiakannya.
Dan lebih bodohnya lagi, Arvin baru menyadari hal itu sekarang.
"Apa Devan tidak memiliki niat untuk melepaskan Anaya? "Tiba-tiba saja pikiran seperti itu terlintas di kepalanya.
"Apa kau mau melihat Anaya menjadi seorang janda muda? "Heran Robby dengan maksud perkataan Arvin.
"Tidak, bukannya begitu. "Sanggahnya.
Arvin menjelaskan pada Robby, seandainya Anaya berpisah dengan Devan. Maka ia bisa bersatu lagi dengan Ryan dan melihat dari perilakunya, sepertinya Ryan sama sekali tak masalah dengan Anaya maupun bayi yang ada dalam kandungannya.
Robby mendorong kepala Arvin dengan tangannya sampai sedikit terdorong kebelakang, "kau pikir semudah itu! "Mengingat Bagaimana sifat Devan selama ini, mana mungkin ia akan melepaskannya begitu saja.
Apalagi Devan sudah mulai menyukai Anaya, tetapi karena terlalu bodoh Devan tak kunjung menyadari perasaannya yang sebenarnya.
"Baiklah, sekarang kita akan masuk. "Robby mendorong Arvin agar masuk lebih dulu, lalu ia akan mengikuti dari belakang.
"Jangan mendorongku, "kesalnya yang hampir jatuh gara-gara Robby.
Mereka membuka pintu lebar-lebar, lalu menyapa Anaya seolah seperti orang yang baru datang.
"Ternyata ada kau juga, "ucap Robby melihat kearah Ryan.
"Aku datang karena ingin menjenguk Anna, "Ryan tidak terlalu peduli dengan kedatangan dua sahabat Devan itu.
Arvin menyimpan keranjang buah bawaannya dan Robby. "Cantik, apa memar di wajahmu sudah agak mendingan? "Tanyanya yang berdiri disebelah ranjang Anaya.
"Iya, "sahutnya, Bahkan Anaya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, dan nanti selepas dari kantor Devan akan langsung menjemputnya.
"Syukurlah kalau begitu, "
Ryan melirik jam yang melingkar ditangannya, "Ann, sepertinya aku harus pergi sekarang. "
Ryan mulai berdiri dari tempat duduknya, "cepat sembuh, ya. Hari ini rasanya sangat menyenangkan, "ucapnya dengan senyum yang mengambang.
"Kalian jangan melakukan hal yang aneh-aneh kepada Anna! "Ucapnya pada kedua teman Devan yang berada disitu.
"Terutama kau! "Ryan menunjuk Arvin yang berada disebelah ranjang Anaya.
"Memangnya kenapa denganku? "Arvin mengarahkan jari telunjuknya kepada dirinya sendiri, memang hal aneh apa yang akan ia perbuat pada istri temannya sendiri.
Setelah mengatakan itu, Ryan benar-benar pergi dari situ. Meninggalkan Arvin yang sedang kebingungan, apakah wajahnya terlihat seperti penjahat hingga membuat Ryan begitu mewaspadainya.
.
.
.
.
.