
Setelah mendengar ocehan Robby dan Arvin tadi, Devan menjadi malas untuk lanjut bekerja.
"Sial! "Meskipun keduanya sudah tidak ada, tapi Devan tetap saja masih merasa kesal, terutama dengan Robby.
Apa robby menyukai Anaya? apakah itu alasan Robby terlihat begitu peduli dengan wanita itu selama ini? Memikirkannya membuat kepala Devan menjadi berdenyut.
Ketika Devan sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Bram, sang sekertaris masuk ke dalam ruangannya dengan membawa beberapa berkas yang baru.
Bram melihat tuan Devan yang sedang melamun, sepertinya setelah selesai meeting tuannya tidak lanjut bekerja, jika dilihat dari tumpukan dokumen yang tak berkurang sama sekali dengan yang terakhir kali ia lihat.
"Hmm, tuan. "Dehem Bram untuk menyadarkan Devan yang sedang melamun.
Ck! Devan berdecak kesal ketika menyadari kedatangan sang sekertaris, yang Devan yakini hanya akan menambah pekerjaannya saja.
Bram meletakan beberapa berkas yang ia bawa di meja kerja Devan. Tumpukan nya terlihat semakin tinggi saja, Bram yakin tuannya harus lembur untuk menyelesaikannya sesegera mungkin.
Setelah meninggalkan berkas itu, Bram pamit undur diri untuk kembali ke tempatnya, karena ia juga masih memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan.
Devan meremas rambutnya frustasi, ingin sekali ia merobek kertas yang selalu datang tiap harinya tanpa henti. Andai saja Devan memiliki saudara, maka ia akan dengan senang hati menyerahkan posisinya saat ini.
Devan melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah jam lima saja. Devan menyimpan barang-barangnya, kembali memakai jasnya, lalu merapikan sedikit tampilannya sebelum keluar.
Devan akan pulang cepat, biarkan saja pekerjaannya menumpuk. Devan berjanji besok dirinya akan berangkat lebih pagi dan akan melakukan lembur untuk menyelesaikannya, yang penting hari ini dirinya pulang cepat dan istirahat.
Bram menatap Devan yang melewati tempatnya.
'Apakah tuan Devan pulang? ' batin Bram.
Padahal pekerjaannya begitu menumpuk, tapi tuan Devan malah terlihat begitu santai. Ingin menegur pun Bram tak berani, secara Devan adalah orang yang punya perusahaan, jadi terserah pemiliknya saja ingin melakukan apa.
.
Devan yang baru masuk kedalam rumah mencium aroma harum masakan ketika melewati dapur, sepertinya Anaya sedang memasak.
Karena Devan tahu Anaya sedang berada di dapur, maka ia pergi ke dapur juga.
"Aku haus! "Ucapnya.
Devan menaruh tas kerjanya dimeja makan, membuat Anaya terlonjak kaget karena suaranya yang agak keras.
"Astaga, Dev! " ucapnya dengan tangan yang mengelus dada.
"Haus,"Devan mengulangi perkataannya, karena Anaya yang tak kunjung mengambilkannya air minun.
Anaya buru-buru mengeluarkan air minum dari dalam kulkas, kemudian menuangkannya ke sebuah gelas yang akan diberikannya kepada Devan.
Mata Devan terus mengikuti kemana Anaya bergerak, "cepatlah! "Desaknya, karena tenggorokannya sudah terasa sangat kering.
Devan melepas kasar jas yang ia kenakan beserta dasi yang terasa begitu mencekik di lehernya.
"Dasar lambat! "Ucapnya pada Anaya yang baru membawa segelas air dingin padanya.
Devan meneguk air yang ada di dalam gelas sampai tandas, ia sangat haus. Apalagi, beberapa hari ini cuacanya terasa sangat panas.
Anaya yang baru selesai memasak ikut duduk bersama Devan, "Dev, "ucapnya.
Devan menatap Anaya yang memanggilnya, "apa? "Tanyanya.
" ... Apakah kau sangat sibuk hari ini ? "Anaya bertanya dengan sedikit ragu-ragu.
"Hmm, "sahutnya dengan tangan yang sibuk membuka kancing lengan kemejanya.
"Ooh, begitu. "jadi memang benar Devan sangat sibuk, pantas saja ia tidak datang menemaninya tadi siang. Tapi meskipun sudah tahu begitu, Anaya tetap merasa sedih karena ia sudah begitu berharap Devan akan menemaninya.
Devan melirik Anaya yang duduk dengan wajah tertunduk, pasti wanita itu merasa kecewa karena ia sudah tak menepati janjinya, "lain kali aku aku akan menemanimu. "Ucap Devan, membuat Anaya mengangkat wajahnya, menampilkan senyum simpulnya.
.
Devan baru saja keluar dari kamar mandi, ia mendekati Anaya yang sedang duduk selonjoran dengan sebuah ponsel ditangannya.
Anaya mengalihkan pandangan dari ponsel yang ada di genggamannya, lalu menatap Devan, apakah Devan sedang penasaran dengan hasil periksa kandungannya hari ini.
Anaya bangun menuju meja rias, ia membuka laci kecil yang ada situ. Devan terus memperhatikan Anaya yang sedang mengambil sesuatu dari dalam laci yang baru dibukanya.
Anaya kembali menghampiri Devan, "apa itu? "Tanya Devan melihat Anaya yang membawa sebuah kertas di tangannya.
Anaya mengambil tempat duduk disebelah Devan, lalu memberikan kertas yang ada ditangannya kepada Devan.
"Hasil USG hari ini, "ucapnya, sebelum pulang tadi Anaya memang sengaja meminta cetakannya untuk diperlihatkan kepada Devan.
Sama seperti Robby, Devan juga tak terlalu mengerti dengan gambar yang ada pada kertas itu, ia sekedar tau jika itu gambar sebuah janin, hanya sebatas itu saja.
"Bayinya laki-laki, dia juga dalam kondisi sehat. "Sebuah senyuman terukir indah dibibir Anaya ketika mengatakannya, kelihatan sekali jika wanita itu sedang merasa bahagia.
Tiba-tiba Devan merasa terharu mendengar penjelasan Anaya, aneh sekali bukan. Padahal ia tak menginginkan bayi itu, tetapi ia merasa senang ketika mendengar bayinya baik-baik saja.
Bahkan Devan sampai merasa seperti ingin menangis karenanya, perasaan apa ini. Devan sama sekali tak mengerti.
"Dev ..., "Anaya memanggil Devan yang terlihat diam saja, dengan matanya yang menatap sebuah gambar hitam-putih yang masih ada di tangannya.
"Dev, "panggil Anaya lagi.
"Hmm. "
"Apakah kau senang ...? "Anaya penasaran dengan tanggapan Devan setelah mengetahui kondisi bayi mereka.
Apakah dirinya merasa senang sekarang? Apakah ia memang senang? Devan terlihat bingung, jawaban apa yang cocok untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini.
"Dev? "Ucap Anaya pada Devan yang tak kunjung menjawabnya, Anaya sedikit meremas jemari tangannya menunggu jawaban dari Devan. Apakah Devan merasa tidak senang mendengar kabar bayi mereka, Anaya merasa sangat gugup dibuatnya.
" ... Senang, "ucap Devan pada akhirnya, karena Devan tak membencinya ketika mendengar keadaannya yang baik-baik saja.
"Benarkah?! "
Anaya terlihat begitu sumringah dengan jawaban yang Devan berikan. Anaya bahkan merasa, rasa kecewanya siang tadi menghilang karena terlalu senang dengan respon positif Devan.
Meskipun masih agak kasar, tetapi Anaya merasa sikap Devan semakin hari semakin membaik. Devan juga sudah bisa lebih perhatian dengannya, Walaupun dengan caranya yang agak kasar.
Devan yang baru mengingat sesuatu menatap Anaya dengan begitu tajam, "Robby, kau pergi bersamanya, kan? "ucapnya.
Apakah Anaya tidak ingin memberitahunya, apakah wanita itu berniat menyembunyikannya.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika ingin pergi ke rumah sakit, "Anaya yang paham dengan maksud Devan langsung menjelaskannya, ia tak mau Devan salah paham kepadanya.
"Kalau bisa tak usah terlalu dekat dengan Robby! "Devan terdengar kesal ketika mengatakan nama sahabatnya itu.
"Kenapa ...? "Tanyanya, Anaya merasa Robby orang yang begitu baik. Bahkan sahabat Devan yang satu itu kerap membantunya jika ia sedang kesusahan, salah satu contohnya seperti tadi siang.
"Kalau kubilang tidak usah, ya tak usah! "Kesalnya. Memang apa susahnya sih menuruti perintahnya, tanpa menanyakan alasan apapun.
"Tapi, diakan teman mu, Dev. "Anaya tak mengerti mengapa ia harus menuruti perintah aneh Devan, bukankah akah aneh jika ia tiba-tiba menjauhi seseorang yang tak memiliki salah padanya.
Devan memicingkan matanya, "huh! Apa kau ingin membantahku sekarang?!! "Mulai lagi, Devan benar-benar tak bisa mengontrol emosinya. Salah sedikit saja langsung membuatnya naik pitam.
"Baiklah, Dev. Aku akan menuruti mu ..., "tutur Anaya.
Percuma saja jika pembicaraan mereka diteruskan, yang ada Devan malah akan memarahi, menuduh dan membentaknya.
.
.
.
.