marriage without love

marriage without love
Episode 55


Robby dan Arvin mengikuti Devan yang mengajak Amanda bertemu disebuah hotel, dan mereka mengikutinya secara diam-diam karena tak diajak.


"Robb, kau pikir balas dendam seperti apa yang akan Devan lakukan? "Saat ini mereka berdua sedang berada di kamar hotel yang letaknya tepat bersebelahan dengan kamar yang di booking oleh Devan.


"Jangan-jangan Devan ingin memberinya hukuman dengan cara membuat wanita itu pingsan dibawahnya! "Hanya itu yang dapat Arvin pikirkan dengan kepalanya saat ini.


Bukankah aneh sekali, katanya ingin membalas perbuatan Amanda. Tetapi, Devan malah membawa wanita itu bertemu dimalam hari seperti ini disebuah hotel. Apalagi, artinya kalau Devan tak ingin menggempur wanita itu.


"Bukannya hukuman, yang ada wanita itu malah keenakan! "Celetuk Robby.


Melihat bagaimana Amanda yang begitu tergila-gila kepada Devan, bahkan jika wanita itu dibuat pingsan karena bercinta juga sepertinya bukan suatu masalah baginya, yang ada dirinya malah akan merasa kesenangan jika sudah bangun.


"Lalu, untuk apa Devan mengajaknya kesini? "


"Berisik, mana ku tau! "Kesal Robby pada Arvin yang tak bisa diam.


"Jika dugaanku benar bagaimana? "Robby menatap malas Arvin yang sedang rebahan di tempat tidur, "jika benar begitu, maka aku akan masuk ke kamar mereka dan mengacaukannya! "


Puft ....


"Gila kau! "Hampir saja Arvin tertawa mendengar ide konyol Robby, bagaimana jika Robby benar-benar masuk disaat mereka sedang bercinta. Bukankah, situasinya akan jadi sangat aneh.


"Biarkan saja, "Robby sih tak terlalu mau ambil pusing, yang jelas ia tak akan diam saja jika Devan sampai berhubungan dengan wanita lain kecuali dengan istrinya sendiri, Anaya.


Arvin melempar bantal ke kepala Robby yang sedang menunduk melihat layar ponselnya, "Robb, kau benar-benar tak menyukai Anaya, kan? "


"Apa maksud mu? "Robby menatap heran Arvin yang tiba-tiba bertanya seperti itu kepadanya.


"Tidak, hanya saja seperti kata Devan. Kau terlalu ikut campur dengan masalah yang berkaitan dengan Anaya. "Bukannya apa-apa, Arvin hanya penasaran saja dengan perasaan Robby yang sebenarnya kepada Anaya, mungkin saja Robby diam-diam menyukai istri temannya.


"Tentu saja aku suka, mana mungkin aku tak menyukai wanita sebaiknya. "


Arvin menggaruk kepalanya yang tak gatal mendengar jawaban Robby, yang seperti tak terlalu paham dengan pertanyaannya. "bukan suka yang seperti itu, maksudku lebih suka seperti cinta begitu. "Jelasnya lagi.


"Tenang saja, rasa sukaku tidak sampai seperti itu. Aku hanya merasa bersalah, dan karena itu aku merasa bertanggung jawab untuk membantu membuatnya bahagia. "Dan salah satu caranya, Robby tak akan membiarkan Devan melakukan sesuatu dibelakang Anaya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan.


Arvin melihat Robby yang duduk tertunduk menatap lantai, Arvin tahu diantara mereka bertiga hanya Robby lah orang yang paling baik dan perduli.


Padahal, jika dipikirkan kembali Robby tak perlu merasa bersalah, karena yang benar-benar bersalah adalah dirinya dan juga Devan. Tetapi, Robby malah bersikap seakan-akan semua terjadi karena kesalahannya. Lihat saja seberapa keras usahanya untuk membuat wanita itu bahagia, demi bisa menebus kesalahan yang bahkan tak ia lakukan.


Robby memang paling muda diantara mereka. Tetapi, cara pikirnya selalu lebih dewasa.


..


"Hai, Dev. "Amanda yang baru tiba menyapa Devan yang duduk disebuah sofa menghadap ranjang dengan kaki bersilang.


Amanda sungguh sangat bersemangat sekali, karena tiba-tiba mendapat telpon dari seorang Devan yang kini sedang mengajaknya bertemu disebuah hotel.


Ia bahkan sudah berdandan secantik mungkin dengan pakaiannya yang cukup terbuka, untuk menggoda pria yang kini sedang duduk didepannya dengan gaya yang terlihat sangat angkuh.


Wanita itu mendekati Devan yang sedang menatapnya dari atas sampai bawah dengan begitu percaya diri. Ia sangat yakin, pasti Devan sudah tergoda akan kecantikannya.


"Ada apa, Dev ...? "Bisiknya yang sudah duduk disebelahnya, dengan tangan yang menyentuh paha Devan.


"Ada apa, bukankah kau mengajakku kesini karena ingin melakukannya denganku? "


Devan memberikan tatapan menghina dan merendahkannya pada Amanda, "percaya diri sekali, punyamu bahkan tak mampu memuaskan ku! "


Amanda membelalakkan matanya mendengar kalimat yang baru saja Devan ucapkan, "benarkah? Lalu, untuk apa kau mengajak ku bertemu disini? "Amanda masih sangat yakin jika Devan ingin tidur dengannya.


"Anaya, "satu kata dari mulut Devan yang membuatnya menjadi agak gugup mendengarnya.


"Apa yang kau lakukan padanya? "Tanya Devan dengan wajahnya yang terlihat menyeramkan.


"A-apa maksudmu? "Amanda memundurkan langkahnya ketika melihat Devan menatapnya dengan begitu tajam.


"Devan, apa yang ingin kau lakukan ...?! "Amanda terlihat sangat ketakutan karena Devan mulai mendekatinya dengan langkah panjangnya.


"Kau pikir bisa lolos begitu saja, setelah melakukan perbuatan buruk mu pada Anaya, hah? "Wajah Amanda menjadi sangat pucat, melihat Devan yang menyeringai begitu menyeramkan.


Devan menarik rambut tergerai Amanda dengan begitu kejam, ketika wanita itu sudah terpojok dan jatuh diatas ranjang, "apa kau melakukannya seperti ini? "Ucapnya membuat wanita itu berteriak kesakitan.


Amanda menggelengkan kepalanya, "T-tidak, aku tidak melakukannya! "


"Benarkah ...? "Devan melepaskan tangannya dari rambut Amanda, "sepertinya aku memang salah, karena kau melakukannya seperti ini, kan?! "Devan mencengkram erat dagu wanita itu lalu menamparnya. Tenang saja, Devan tak melakukannya dengan sekuat tenaga, tapi meskipun begitu tetap saja itu cukup menyakitkan.


Wanita itu menyentuh wajahnya yang terasa panas, dengan matanya yang sudah basah.


"A-apa yang kau lakukan?! Apa kau memang sekasar ini?! "Wanita benar-benar terlihat ketakutan, dan Devan sangat menikmatinya melihat ketakutan yang terpancar dengan begitu jelas diwajahnya.


"Bukannya kau menyukaiku? Masa kau menyukaiku tanpa mengetahui bagaimana sifat asliku! "Saat ini Devan terdengar seperti seorang psikopat, dengan tatapannya yang terlihat sangat mengerikan. Amanda benar-benar tidak tau jika Devan memiliki sisi yang sangat menakutkan seperti ini, bahkan tubuhnya sampai merinding dibuatnya.


Devan sama sekali tidak masalah jika ada yang mengatakannya tidak gentle dan ringan tangan, karena memang benar dirinya seperti itu. Dirinya kan memang seorang bajingan dan kurang ngajar.


"Apa yang kau lakukan pada tangannya? "Devan kembali mencengkram wajah wanita itu, ketika mengingat luka yang ada di tangan Anaya yang terlihat sangat menyakitkan. Bahkan, sampai sekarang tangannya masih belum bisa digunakan seperti biasanya.


Bahkan Devan pernah beberapa kali melihat wanita itu meringis kesakitan ketika menggerakkan tangannya.


"Apa sebaiknya ku patahkan saja tanganmu yang sudah menyakitinya! "Andai saja yang di depannya saat ini seorang pria, pasti Devan sudah melayangkan beberapa tinjunya.


Tapi sekarang ia harus menahan diri, untuk tak menjadi terlalu keterlaluan. Devan menyisir rambunya dengan jari secara kasar, ia masih belum merasa puas. Rasanya Devan ingin sekali mematahkan pergelangan tangan wanita itu, karena rasa sakit yang ia dapatkan masih belum sepadan dengan apa yang wanita itu perbuat kepada Anaya.


Tapi rasanya tak terlalu benar juga jika harus memukul, karena yang ia hadapi sekarang seorang wanita.


.


.


.


.


.