
Hari ini Devan melakukan meeting dengan bagian tim pemasaran, mereka membahas taktik penjualan produk baru yang akan segera mereka keluarkan.
Devan yang baru menyelesaikan meeting setelah memakan waktu hampir dua jam, akhirnya bisa kembali ke ruangannya. Dan ternyata dalam ruangannya sudah ada sahabatnya, Arvin yang sedang tidur di sebuah long sofa yang ada dalam ruangan itu.
Devan menyadarkan tubuhnya di tempat duduk kebanggaannya, kepalanya terasa pusing setelah melakukan meeting.
Devan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lalu menghidupkan ponsel yang tadi memang sengaja ia matikan sebelum meeting dimulai, karena takut mengganggu konsentrasinya.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Anaya, tumben sekali wanita itu menelponnya. Setelah memeriksa ponselnya, Devan kembali menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan matanya yang terpejam karena merasa lelah.
Suasana dalam ruangan begitu hening, meskipun ada dua orang di dalamnya.
Clek, suara pintu terbuka.
Devan memperbaiki posisi duduknya, melihat siapa yang baru saja membuka pintu ruangannya.
"Ternyata kau, "Devan kira Bram yang datang, nyatanya Robby.
"Kenapa dia ada disini? "Robby menunjuk Arvin yang sedang tidur tak sadarkan diri di sofa itu.
Devan mengangkat bahunya, "tidak tau, aku baru saja selesai meeting. "Sahutnya.
Ugh! Arvin yang tadi sedang tidur pulas langsung bangun diiringi oleh suara lenguhan yang keluar dari mulutnya.
"Aku ingin duduk! "Robby menendang bokong Arvin yang sedang tidur tengkurap, siapa suruh memenuhi sofa itu dengan tubuhnya.
"Sialan kau! "Arvin membuat pose seakan-akan ingin balas memukul Robby sebelum dirinya bergeser sedikit.
Robby menjatuhkan tubuhnya ditempat yang sudah Arvin kosongkan, "kenapa kau ada disini? "Tanyanya pada Arvin yang masih terlihat kesal dengannya.
"Aku sedang menyembunyikan diriku, "seperti yang biasa Arvin lakukan, ia sedang menghindari pekerjaan dari ayahnya dan memilih untuk bermalas-malasan di kantor Devan.
"Ck! Kalian berisik sekali! "Suara keduanya begitu mengganggu ditelinga Devan. Padahal, ia sedang ingin beristirahat sejenak sebelum kembali mengerjakan dokumen yang begitu menumpuk di atas mejanya.
"Kau sendiri sedang apa disini?? "Arvin mengabaikan Devan, ia malah balik bertanya kepada Robby yang baru datang.
"Aku hanya ingin bercerita dengan Devan, "sahut Robby, dengan mata melirik pada Devan yang sedang bersandar di kursi kerjanya.
" ... Ingin cerita apa kau?! "Sambung Devan yang mendengar namanya ikut diucapkan.
"Istrimu, Anaya. "Sahut Robby membuat Devan dan Arvin menjadi penasaran.
"Cepat ceritakan, Robb! "Arvin sudah tak sabar, ia selalu merasa penasaran dengan cerita yang bersangkutan dengan istri temannya itu.
"Memangnya ada apa dengannya? "Devan juga menjadi ingin tahu tentang wanita itu.
Robby menceritakan ketika dirinya yang tak sengaja bertemu dengan Anaya, saat ia sedang dalam perjalanan pulang dari bengkel miliknya.
Robby juga menceritakan dirinya yang ikut menemani Anaya memeriksa kandungannya, Robby menceritakan semuanya pada Devan tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Sialan kau! "Umpatnya yang baru selesai mendengar cerita Robby, berani sekali Robby pergi berdua dengan Anaya.
"Apanya yang sialan, bukankah kau yang sialan! "Tukas Robby tak terima.
Arvin menggelengkan kepalanya, "Wah ... Keterlaluan kau, Dev. Masa kau membiarkan Anaya pergi sendiri, kalau dia bertemu Ryan tahu rasa kau! "Seru Arvin.
Untung saja Anaya hanya bertemu Robby, kalau bertemu Ryan si mantan tercintanya bagaimana, bisa-bisa mampus Devan karena termakan api cemburu.
Devan meremas rambutnya, ia baru ingat sekarang. Pantas saja wanita itu ada menelponnya tadi, ternyata karena ia sudah berjanji kemarin pada wanita itu untuk menemaninya cek kandungan.
"Aku benar-benar lupa! "Karena terlalu sibuk, Devan sudah tak ingat lagi dengan janjinya kemarin. Devan sungguh tak sengaja mengingkarinya.
"Parah sekali kau, Dev. Masa aku tahu lebih dulu jenis kelamin anakmu! "Sekarang Robby sedang cosplay menjadi Arvin yang suka menggoda Devan.
"Beritahu aku, Rob! Biarkan aku menjadi orang ketiga yang mengetahuinya!! "Arvin memasang telinganya ketika Robby membisiki jenis kelamin anak Devan.
"Benarkah?! "Heboh Arvin, membuat Devan menatap mereka kesal.
Robby sama sekali tidak memiliki niat untuk memberitahu Devan, biarkan Anaya saja yang mengatakannya nanti. Robby hanya ingin menggoda Devan saja, seperti yang biasa Arvin lakukan, ternyata cukup menyenangkan juga ketika melakukannya.
"Bahkan orang-orang mengira aku suaminya! "Ucap Robby mengingat kejadian saat di rumah sakit tadi.
Roby melirik Devan, kelihatan Devan semakin kesal sekarang. Biarkan saja, Robby tak peduli. Ia memang sengaja datang ingin memanas-manasi Devan, biar tahu rasa sahabatnya itu. Siapa suruh tidak memperhatikan istri cantiknya.
"Benarkah ...?! "Seru Arvin.
"Tentu saja, apakah kami terlihat cocok? Orang-orang bahkan banyak yang sampai salah paham! "
Brak
Devan memukul meja yang ada di depannya dengan kasar. Apa-apaan Robby, bagaimana bisa Robby menjadi begitu menyebalkan dengan mengatakan hal begitu.
"Jangan-jangan kau menyukainya! "Devan menatap Robby dengan begitu tajam.
"Menyukai siapa? "Tanya Robby yang pura-pura tak mengerti dengan maksud Devan.
"Anaya! Apa kau menyukainya?!! "Wah, sepertinya Devan sedang marah sekarang. Tapi Robby masih belum mau berhenti, dirinya masih ingin memberi Devan pelajaran.
"Tentu saja aku menyukainya, aku kan tidak membencinya! "Amarah Devan terlihat semakin menjadi, sampai-sampai ia melempar sebuah pulpen yang ada di tangannya pada Robby.
"Ada apa ini? Kau sedang cemburu, Dev?? "Bukan Robby, tapi kali ini Arvin yang mengatakannya.
"Sepertinya memang begitu, padahal aku tadi hanya bercanda. Tapi lihat saja, dia sampai melempari pulpen kearah ku "Robby menatap pulpen yang tergeletak dekat kakinya, hampir saja benda itu mendarat di kepalanya.
"Ternyata dirimu orang yang cemburuan, manis syekali ..., "Arvin berpose seperti sorang wanita yang merasa gemas ketika mengucapkannya, membuat Devan semakin terlihat tak suka.
"Pergi kalian!! "Devan mengusir Arvin dan Robby, melihat dan mendengar ocehan mereka hanya membuat Devan semakin termakan emosi.
"Awas saja kau, Rob! Kalau menyukai istriku!! "Ucapnya dengan rahang yang sudah mengeras.
Arvin dan Robby saling pandang mendengar ucapan Devan. "Istri? Istrimu yang mana?? Apa kau punya istri?? "Ucap Robby dengan mimik muka yang dibuat bingung.
"Apa dia punya istri? "Tanya Robby pada Arvin.
"Tidak tau, Devan kan tak pernah mengatakannya. "Sahut Arvin dengan bahu yang terangkat.
"Apa kalian pikir ini lucu?! "Teriak Devan.
Robby dan Arvin memutuskan tuk berhenti, Sekarang tanduk Devan sudah keluar, jika diteruskan, salah-salah mereka malah akan dihajar olehnya nanti.
"Kalau begitu aku mau pulang saja, "Robby memutuskan tuk segera melarikan diri dari ruangan itu, yang tak lama diikuti oleh Arvin.
Ketika sudah keluar dari ruangan Devan, keduanya tertawa puas. Menyenangkan sekali membuat Devan sampai emosi begitu.
"Dia bodoh sekali ..., "Ucap Robby yang menuju lift untuk turun kelantai bawah.
"Jelas-jelas dia tadi sedang cemburu denganmu, "tukas Arvin, mengingat ekspresi dan emosi yang Devan keluarkan.
Robby juga setuju dengan Arvin, bahkan kelihatan sangat jelas, jika Devan sedang cemburu padanya. Tapi meskipun begitu, Devan tidak mau mengakuinya. Bodoh sekali memang sahabat mereka itu. Entah sampai kapan kebodohannya itu berlangsung, Robby dan Arvin tidak tahu. Tapi semoga saja tidak terlalu lama Devan akan menyadari perasaannya sendiri.
.
.
.
.
.
Jangan lupa jejaknya .... 😎