
Detak jantungnya kembali menjadi tak beraturan setelah menemukan noda lipstik dan bau parfum wanita asing pada kemeja Devan. Anaya meremas kemeja yang sudah ia lepaskan dengan air mata yang mulai merembes keluar.
Setelah menikah, Anaya merasa setiap harinya selalu di hiasi oleh rasa sakit hatinya yang kian hari kian menjadi. Padahal, baru-baru ini ia mulai berusaha menerima Devan sebagai suaminya. Meskipun, pria itu kerap mencaci makinya dengan perkataannya yang sangat kasar.
Tapi apa yang didapatkannya? Pria itu malah bermain dengan wanita lain dibelakangnya. Anaya memang sudah mengetahui betapa buruk dan bejat seorang Devan. Tapi ia mengira pria itu sudah berhenti dengan kebiasaan buruknya itu, mengingat dirinya yang kini sudah berkeluarga dan juga sudah menjadi calon ayah.
Dengan tangan yang sesekali menyeka air matanya, Anaya tetap melanjutkan membersihkan tubuh Devan yang sekarang sudah tak sadarkan diri karena efek alkohol.
Dengan begitu telaten dirinya membersihkan tubuh Devan menggunakan kain yang sudah ia basahi dengan air hangat sebelumnya.
Ditatapnya wajah pria yang kerap menyakitinya itu sambil menahan suara isak tangis. Anaya merasa malu dengan dirinya sendiri karena telah mengira pria itu sudah berubah meskipun hanya sedikit.
.
Matahari sudah naik begitu tinggi, tetapi Devan masih tetap setia bersembunyi di bawah tebalnya selimut yang menutupi tubuhnya.
Berbeda dengan Devan, Anaya sama sekali tidak bisa tidur setelah kejadian semalam. pikirannya begitu kacau, bahkan tubuhnya terasa sangat lemas membuatnya tak ingin melakukan apapun.
Anaya yang duduk di long sofa bed yang berada tak jauh dari tempat tidur, melirik sekilas ketika Devan mulai melakukan pergerakan diatas situ. Setelah itu kembali dengan tatapan kosongnya yang menatap ke sembarang arah.
"Ughh ... Sialan! Kepalaku pusing sekali! "Devan bangun dengan salah satu tangan yang memegang kepalanya yang masih pusing karena efek alkohol yang ia nikmati tadi malam.
Devan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang, "heh! Ambilkan aku air minum. "Ia memerintah Anaya yang sedang berada di sofa.
Anaya tak bergeming bukan karena wanita itu tak mendengarkan apa yang pria itu perintahkan.Tetapi, ia lebih memilih tuk pura-pura tak mendengar dan menulikan kedua telinganya.
"Kau! Apa kau mendengarkan ku?! "Seperti biasa, Devan mulai membentak dengan suara kerasnya.
"Aku bukan pembantumu, "Anaya mengucapkannya dengan suara yang pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Devan.
"Hah? Rupanya kau mulai berani melawanku, ya?!" Devan melihat Anaya dengan tatapan merendahkannya, berani sekali wanita itu mengabaikan perintahnya.
Dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya, Anaya memberanikan diri untuk menatap Devan.
"Aku bukan pembantu mu ... Aku istrimu! "Lirihnya dengan suara bercampur isak tangis.
Devan menatap sinis Anaya, "kepalaku semakin pusing melihatmu yang selalu saja menangis!! "Sungguh memuakkan bagi Devan melihatnya.
"Kau benar-benar keterlaluan, Dev! Apa yang kau perbuat ketika berada di luar tadi malam?! "Anaya sudah tak tahan dengan semua rasa sakit yang ia rasakan, Anaya melempar kemeja yang terdapat noda lipstik itu ke wajah Devan.
"Cepat katakan! "Meskipun masih menangis, Anaya sedikit menaikkan suaranya. Ia tak peduli jika nanti Devan akan mulai membentaknya dengan lebih keras atau bahkan memukulnya.
Devan mulai mengingat-ingat apa yang ia lakukan tadi malam.
.. Flashback ..
Hari ini Devan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, sehingga ia memilki cukup waktu luang untuk dinikmati.
Sebelum meninggalkan kantor, ia lebih dulu menelpon sahabat karibnya, Arvin. Dan hanya dalam hitungan detik telponnya langsung diangkat.
"Bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang malam ini?! "
Setelah telpon diangkat, Devan langsung mengatakan niatnya.
"Ok, baiklah! Pas sekali karena aku sedang merasa bosan sekarang. "Arvin begitu antusias dengan ajakan Devan.
"Kalau begitu, nanti akan ku kabari Robby!"ucapnya sebelum Devan mematikan sambungan telponnya.
.
"Dimana Robby, apa dia tidak ikut?! "Devan meninggikan suaranya karena musik di tempat itu begitu keras.
"Dia akan menyusul nanti, katanya! "Balas Arvin dengan suara yang tak kalah tinggi.
Devan dan Arvin memutuskan untuk menunggu Robby di tempat meja dan kursi yang sudah mereka pesan sebelum datang. Mereka berdua juga memesan beberapa botol minuman keras dengan kadar alkohol yang begitu tinggi.
Robby baru saja tiba, rupanya dirinya datang begitu terlambat. Dari kejauhan ia bisa melihat kalau kedua temannya itu sudah dalam kondisi setengah sadar.
Robby menghampiri mereka berdua lalu duduk di sebelah Devan. Robby juga mulai ikut meminum alkohol yang sudah terisi di gelasnya.
"Kemana saja kau?! "Arvin bertanya dengan tangan memegang botol minuman yang masih terisi penuh.
Robby kembali meminum minumannya dalam satu kali tegukan, "aku tadi masih ada urusan.
Robby sedikit memutar kepalanya untuk melihat Devan yang sedang duduk bersandar, "aku tadi bertemu dengan istrimu, "ucap Robby mengingat pertemuannya dengan Anaya ketika di supermarket tadi.
Robby tak mendapat tanggapan apapun dari Devan, sahabatnya itu terlihat tak tertarik sama sekali dengan apa yang barusan ia katakan. Karena tak mendapat respon sama sekali Robby menghentikan ceritanya sampai disitu saja.
Devan mengabaikan Robby, ia lebih tertarik melihat wanita cantik yang sedang menari mengikuti ritme musik yang dimainkan. Tubuhnya meliuk-liuk dengan begitu indah dengan pakaian yang begitu seksi, membuat tubuhnya menjadi gerah.
"Dev, sebaiknya kau segera pulang. Anaya pasti mengkhawatirkan mu!! "Robby yang sudah berteman cukup lama dengan Devan mengerti dengan tatapan yang diberikan Devan pada wanita itu.
"Diam lah! Aku tak mau mendengar nama itu disini!! "Devan kesal dengan Robby yang selalu membicarakan Anaya dari tadi.
"Kau sudah mabuk, lebih baik kau segera pulang! "Robby tak ingin sahabatnya melakukan sesuatu yang terlalu jauh, sekarang ia sudah memiliki seorang istri. Statusnya sudah berbeda sekarang, andai Devan masih lajang seperti dulu, Robby tak akan mempermasalahkannya.
"Vin! Bantu aku membujuk Devan!! "Robby meminta bantuan pada Arvin yang terlihat sedang meracau tak jelas.
Ck!! Robby hanya bisa berdecak kesal, Arvin memang tak bisa diharapkan seperti biasanya.
Wanita yang tadi sepertinya menyadari ketika Devan terus menatapnya dengan tatapan sensual, dan sekarang wanita itu menghampiri tempat duduk mereka.
Wanita itu mulai mendekati pria yang tadi menatapnya, yang tak lain Devan. Kini wanita itu mulai duduk di pangkuan Devan.
"Berhentilah, Dev!! " perintah Robby yang tak digubris sama sekali oleh Devan.
Wanita itu mulai mencium Devan dengan begitu berani dan bergairah, yang tentu saja dibalas oleh Devan yang memang menargetkan wanita itu sejak tadi.
Robby yang sudah tak tahan memilih pergi, Devan benar-benar tak waras. Ia merasa kasihan dengan Anaya yang harus menikah dengan lelaki seperti Devan.
Tak lama setelah kepergian Robby, Devan juga keluar bersama wanita tadi. Kemana tujuannya sudah begitu jelas, Devan membawanya kesebuah hotel yang berjarak tak terlalu jauh dari situ. Dan apa yang akan mereka lakukan di hotel juga sudah sama jelasnya, apalagi kalau bukan untuk memuaskan nafsu yang sudah begitu bergejolak diantara keduanya.
Flashback Off.
.
.
.
Mohon dukungannya biar tambah semangat, ya... 😉😊