
"Bibi lihat ini, cincin yang di kasih mas Erich buat aku dan dia juga minta aku untuk temenin dia sampai nanti dia tua." Julia berkata sambil mengangkat tangannya ke atas menunjukan cincin pernikahan yang di berikan Erich padanya.
***
"Bibi ikut senang kalau memang kalian sudah baik-baik saja, tapi kalau nanti kamu gak merasa bahagia sama pernikahanmu kamu harus bilang sama paman dan bibi." Kata bik Yani.
Hehehehehee.... Tawa kecil Julia.
"Siap bik."
"Bibi gak mau loh kamu kaya kemarin lagi menghilang gitu aja, buat bibi khawatir."
"Iya bik, maafin aku ya. Aku udah nyusahin kalian semua." Kali ini Julia berkata sambil memeluk bik Yani dari samping dan menyandarkan kepalanya dipundak bik Yani.
"Ya sudah, ayo bawah minuman sama kuenya ke depan. Kasihan loh suamimu pasti nunggu."
Setelah perbincangan kecil di dapur akhirnya teh dan kopi buatan Julia dan bik Yani pun tersaji di atas meja tidak lupa juga kue tart yang tadi si belikan Julia untuk bibinya sebagai pelengkap perbincangan mereka sore itu.
"Wah ini kue kesukaan bibimu." Kata paman Bimo saat melihat kue tart yang tertata rapi di piring.
"Iya dong kan emang sengaja aku beliin ini buat bibi." Kata Julia sambil duduk di samping Erich.
"Buk." Panggil paman Bimo pada bik Yani.
"Iya pak." Jawab bik Yani.
"Sepertinya ada yang sudah baikan." Kata paman Bimo karna melihat senyum di wajah kedua ponakannya.
Seketika tawa mereka semua pecah karna candaan paman Bimo.
"Paman bisa aja." Kata Erich, jangan ditanya seberapa merah wajah mereka berdua sekarang.
"Nak, paman sama bibimu sudah tua. Impian kita berdua cuma satu."
"Apa itu?" Tanya Julia.
"Kepingin nimang cucu, iyakan buk?"
Lagi-lagi semburat merah itu muncul di wajah Erich dan Julia.
"Iya pak." Kata bik Yani sambil tersenyum kecil.
"Ehm... Paman sama bibi doain aja." Kali ini Erich memberanikan diri untuk membuka suara.
"Ayo di minum teh nya keburu dingin." Kata bik Yani mencoba mencairkan suasana.
Sore itu di isi dengan tawa dan canda sesekali terdengar ledekan-ledekan kecil dari paman Bimo dan bik Yani.
Lama mereka berbincang-bincang hingga teh dan kopi yang ada di cangkir masing-masing tandas tak tersisa.
tanpa disadari senja mulai tampak di langit yang sebelumnya membiru, akhirnya perbincangan mereka terhenti dengan kata pamit dari Erich dan Julia.
"Hati-hati di jalan nak, jaga dirimu baik-baik." Kata bik Yani, saat Erich dan Julia berpamitan.
"Iya bik. Paman sama bibi juga jaga kesehatan nanti kapan-kapan aku sama mas Erich kesini lagi." Kata Julia.
"Kalau kalian kesini lagi, harus sudah ada kabar gembira buat paman sama bibi." Kata paman Bimo.
"Iya paman. Doain aja." Jawab Erich
Erich dan Juliapun meninggalkan rumah paman dan bibi.
"Mas persediaan makanan di kulkas udah habis." Kata Julia saat di perjalanan.
"Mau belanja?" Tanya Erich.
"Iya mas tapi jam segini pasar yang lain udah tutup." Kata Julia.
"Ya udah kita belanja ke supermarket aja atau gak ke mall." Kata Erich menawarkan.
"Kemahalan mas." Jawab Julia.
"Gak apa-apa dong, mulai sekarang aku larang kamu belanja ke pasar." Kata Erich dengan nada tegas yang di buat-buat.
"Loh kenapa?" Tanya Julia.
"Ya gak kenapa-napa. pokoknya gak boleh kamu harus belanja ke supermarket atau gak ke mall titik." Kata Erich.
"Ya udah kalau gitu." Jawab Julia.
"Gimana jadi belanja gak?" Tanya Erich lagi.
"Ya jadi dong, kalau gak belanja besok mau sarapan apa."