Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-98


"Bunda, gimana keadaannya hari ini?" Tanya Alexa.


"Ya seperti inilah Sayang, Bunda merasa baik-baik aja kok," jawab Anggi.


"Alexa menatap Anggi dengan sendu, perasaannya sangat pedih. Alexa ingin sekali menyampaikan penyakit apa yang sedang diderita Anggi saat ini, tapi entah kenapa rasanya ia sangat tidak tega seperti apa yang Nico rasakan. Akan tetapi, menurut Alexa Anggi tetap harus tahu tentang penyakitnya agar dapat ditangani lebih lanjut.


Mereka bertiga pun sarapan bersama, sambil Alexa menyuapi Anggi, Nico juga menyuapi Alexa bubur yang telah dibelinya tadi, sambil sesekali Nico menyuapi dirinya sendiri. Ketiga orang itu terlihat sangat romantis dan harmonis karena saling suap menyuap.


"Kalian berdua nggak kerja?" Tanya Anggi.


"Iya Bun, kita mau kerja kok abis sarapan ini. Nico mau ke ruangan sebentar, mandi, ganti baju terus gantian sama Alexa," jawab Nico.


"Oh … gitu. Oh ya Bunda udah boleh pulang belum ya? Bunda nggak sakit apa-apa kan?" Tanya Anggi yang membuat Alexa dan Nico pun terdiam serta menahan sesak di dada.


"Bunda, soal kepulangan Bunda nanti biar Nico urus ya Bunda. Nico tanyain dulu sama Dokter Anton," jawab Nico dengan ragu.


Alexa menatap kekasihnya itu yang tampak penuh dengan kebimbangan. Tiba-tiba saja Nico menyudahi sarapannya dan akan segera beranjak pergi. Rasanya ia tidak sanggup jika terus-terusan berada didekat ibunya itu.


"Aku mandi dulu ya, Bunda dijaga dulu sama Alexa," kata Nico.


"Iya Sayang," jawab Anggi. Ia dapat merasakan jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh anaknya itu.


Lalu Nico pun segera keluar dari ruang rawat inap.


"Bunda kalau Alexa tinggal sebentar nggak apa-apa kan? Cuma mau ke toilet sebentar aja," kata Alexa.


"Ya boleh dong, kalian ini memangnya Bunda ini anak kecil apa, harus ditungguin terus sama kalian berdua 24 jam. Nggak apa-apa kok, setelah ini pun kalian berdua harus kerja, jangan sampai kalian berdua nggak kerja hanya buat menemani Bunda," kata Anggi.


"Iya Bunda, ya udah kalau gitu sebentar ya," kata Alexa, lalu ia pun segera keluar dan menyusul Nico yang sudah agak menjauh darinya. Alexa setengah berlari agar dapat mengejar sang kekasih.


"Kak Nico!" Panggil Alexa yang membuat langkah Nico terhenti.


Lalu Nico membalikkan badannya menghadap ke arah kekasihnya itu.


"Ada apa Sayang?" Tanya Nico.


"Aku mau ngomong sebentar sama Kakak bisa nggak?" Tanya Alexa.


"Ya bisa dong Sayang, yuk kita ngobrol di dalam aja," ajak Nico dan disetujui oleh Alexa. Mereka berdua pun langsung saja ke ruangan Dokter kepala yang memang sudah di depan mata.


"Kamu mau ngomong apa? Kok nggak ngomong di depan Bunda tadi?" Tanya Nico.


"Kalau bisa ngomong di depan Bunda, ngapain juga aku kejar Kakak sampai ke sini," kata Alexa.


Nico mengerutkan keningnya, lalu ia menatap wajah sang kekasih yang begitu serius. Dia tahu pasti ada sesuatu hal yang serius yang ingin disampaikan oleh kekasihnya itu.


"Kak, mau sampai kapan sih Kakak sembunyiin tentang penyakit Bunda? Kakak nggak kasian ya sama Bunda, Bunda itu harus segera melakukan pengobatan Kak. Kalau Bunda nggak tau, gimana caranya Bunda mau melakukan pengobatan? Coba dong Kakak pikir," kata Alexa yang penuh dengan pertanyaan.


"Jadi kamu mau ngomongin masalah ini? Bukan aku nggak mau kasih tau Bunda, tapi aku tau apa yang akan Bunda rasakan nanti. Pasti Bunda bakalan sangat terpuruk," kata Nico.


"Ya aku juga tau pasti itu alasan Kakak. Tapi apa gunanya kita Kak? Tugas kita untuk menguatkan Bunda supaya Bunda bisa kuat, kita terus dampingi Bunda untuk menjalani pengobatannya. Jadi Kakak mau diam aja gitu tanpa melakukan apa-apa?" Kata Alexa.


"Ya nggak gitu juga lah. Aku lagi pikirin cara, gimana caranya supaya Bunda mau melakukan pengobatan tapi tanpa Bunda tau apa penyakitnya," kata Nico.


"Memangnya bisa? Bunda bukan anak kecil Kak, sekarang aja Bunda udah minta pulang karena merasa dirinya baik-baik aja," kata Alexa.


Nico tertunduk memikirkan apa yang dikatakan Alexa memang benar. Tetapi untuk saat ini Nico benar-benar ingin mencari cara terlebih dahulu.


"Ya udahlah Kak, mendingan Kakak langsung mandi aja terus siap-siap. Biar aku temenin Bunda dulu. Aku juga nggak enak ninggalin Bunda sendirian," kata Alexa.


"Iya Kak," jawab Alexa dan berlalu dari pandangan Nico menuju ke ruang rawat inap Anggi kembali.


*****


"Arya, tolong kamu tangani dulu pasien ruangan 15 ya. Alexa saat ini sedang menangani pasien yang ada di ruang Anyelir. Saya mau menemui saudara saya dulu yang baru datang dari Jogja, sebentar saja. Sekarang ini mereka sudah berada di ruang rawat inap Ibu saya," kata Nico.


"Iya baik Dok," jawab Arya, Lalu Arya pun segera melakukan perintah dari seniornya itu.


Setelah menyelesaikan tugas dari Nico, Arya pun kembali ke ruangan Dokter magang dan bertemu dengan Alexa.


"Loh Lex, kamu udah siap? Bukannya tadi kata Dokter Nico kamu lagi menangani pasien di ruang Anyelir?" Tanya Arya.


"Ya memang, baru aja selesai. Ini aku cuma duduk sebentar aja. Soalnya aku harus ke ruangan Anggrek," kata Alexa.


"Oh … kebetulan aku udah nggak ada kerjaan, biar aku bantuin ya. Aku temenin kamu ke ruangan Anggrek," kata Arya.


"Iya boleh. Oh ya Kak Nico-nya mana?" Tanya Alexa.


"Katanya sih saudaranya dari Jogja ada yang datang. Jadi sekarang Dokter Nico lagi menemui mereka di ruang rawat inap Bu Anggi," jawab Arya.


"Oh … itu pasti orang tuanya Thalita," kata Alexa.


"Iya aku lupa kalau orang tuanya Thalita itu dari Jogja ya? Dan ayahnya Thalita itu adiknya Bu Anggi," kata Arya.


"Kok kamu tau?" Tanya Alexa.


"Iya, kemarin sempat ngobrol-ngobrol sebentar sama Thalita," jawab Arya apa adanya.


"Oh … gitu. Kamu mau minum dulu nggak? Setelah ini kita langsung ke ruangan Anggrek," kata Alexa.


"Boleh," kata Arya.


Lalu Alexa memberikan sebotol minuman mineral kepada Arya. Arya langsung meneguknya dengan sangat cepat karena ia memang merasa sangat haus, karena sejak tadi pagi, Arya sama sekali belum menyentuh minuman. Setelah istirahat sejenak, mereka berdua pun kembali melanjutkan aktivitas.


*****


Alexa dan Arya berjalan menelusuri koridor rumah sakit, setelah memeriksa pasien di ruangan Anggrek, mereka akan kembali ke ruangan dokter magang. Saat itu Arya melihat wajah Alexa yang tampak murung.


Arya yang penasaran memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita yang ada di sampingnya saat ini.


"Kamu kenapa Lex? Kayak lagi memikirkan sesuatu," Tanya Arya.


"Aku cuma lagi kepikiran aja sama penyakitnya Bu Anggi," jawab Alexa. Menurutnya Tidak ada salahnya jika ia bercerita kepada Arya, karena selain Arya adalah sahabatnya, Arya juga kenal baik dengan Nico.


.


.


.


.


.


Bersambung.....