Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-57


Setelah Raka keluar dari ruangannya, Dion langsung saja mendekatkan dirinya kepada sang kekasih hati.


"Sayang, maafin Kakak ya, Kakak janji pokoknya hari ini Kakak akan kasih keputusan," ucap Dion.


"Beneran kan? Awas aja kalau Kakak bohong lagi, pokoknya kalau hari ini nggak ada keputusan aku bakalan ambil tindakan sendiri," ancam Thalita dengan sangat serius.


"Kakak gak pernah bohong kok, Kakak janji pokoknya hari ini Kakak akan urus semuanya. Nanti sore kakak akan kasih kabarnya langsung ke kamu," ucap Dion.


"Ya udah kalau gitu aku tunggu ya Kak, sekarang aku mau lanjutin kerja dulu," kata Talita.


"Kayak gitu doang? Enggak ada ninggalin kesan apa gitu," ucap Dion penuh harap.


"Kesan? Kesan apa?" Tanya Thalita sembari menaikkan kedua alis matanya.


"Ini nih," kata Dion sembari menunjuk bibirnya.


Thalita tersenyum lalu … Cup, sebuah benda kenyal saling menempel sekilas. Dion merasa sangat senang mendapatkan akan hal itu, lalu Thalita pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan Dion.


"Hayo senyum-senyum sendiri, ada apaan tuh?" Tanya Raka tiba-tiba yang mengejutkan Thalita.


"Ya ampun Kak, bikin aku terkejut aja, untung aja jantung aku gak copot," ucap Thalita sembari memegang dadanya, wajahnya juga tegang karena ia memang paling tidak bisa dikejutkan secara tiba-tiba.


"Maaf deh Ta," ucap Raka.


"Iya Kak gak papa kok. Kakak kok masih di sini?" Tanya Thalita.


"Iya, sengaja nungguin kamu Ta," jawab Raka. "Aku senang deh setelah sekian lama kamu mau juga panggil aku dengan sebutan Kakak, biasa Dokter mulu," ungkapnya.


"Loh kamu memang Dokter kan? Dokter Raka," kata Thalita.


"Iya, tapi perasaan kayak orang jauh aja panggil Dokter kalau lagi ngobrol santai," kata Raka.


"Iya Kak, sekarang aku udah panggil Kakak kan seperti yang Kak Raka mau," kata Thalita. "Jadi Kakak ada apa nungguin aku?" Tanyanya.


"Iya Ta, jadi aku ada ide sedikit mengenai surprise birthday party Alexa," jawab Raka lalu menyampaikan tentang idenya kepada Thalita. Thalita melipat kedua tangannya dan dengan serius mendengarkan dengan seksama setiap kata yang di lontarkan dari mulut Raka.


"Aku setuju Kak, kenapa aku gak pernah kepikiran ya? Ide Kakak beneran brilliance banget deh," puji Thalita.


"Makasih Ta, kamu harus kasih tau soal ini ke pacarnya Alexa karena kita membutuhkan bantuannya. Tapi jangan kasih tau ya kalau ini ide aku," ucap Raka.


"Iya Kak," jawab Thalita tanpa banyak protes. Ia mengerti akan situasinya, Thalita sangat salut kepada Dokter Raka yang tetap berbuat baik dan mencintai Alexa dengan tulus meskipun tidak bisa bersama dengan Alexa


"Semoga Kak Raka nanti akan cepat menemukan pendamping yang baiknya sama dengan Alexa, aku yakin siapapun wanita itu akan beruntung jika bersama dengan Kak Raka," doa Thalita dalam hatinya.


*****


Alexa terus mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur. Sudah pukul 12.00 malam, akan tetapi ia tetap tidak bisa memejamkan matanya. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuat perasaannya tidak tenang, akan tetapi entah apa itu Alexa juga tidak mengerti. Hingga pada pukul 04.00 barulah Alexa dapat memejamkan matanya hingga ia pun bangun kesiangan.


Pagi hari seperti biasa, setelah membuat sarapan, Nico menunggu Alexa di meja makan. Akan tetapi sampai pukul 07.00 pagi Alexa belum juga datang menemuinya. Karena takut terjadi apa-apa dengan Alexa, akhirnya Nico pun memutuskan untuk menghampiri Alexa di apartemennya. Karena password apartemen yang diketahui oleh Nico, tentunya dengan mudah Nico masuk ke dalam apartemen Alexa dan langsung saja mencari keberadaan kekasihnya itu.


Karena tidak menemukan di ruangan depan, akhirnya Nico pun langsung mencari Alexa di dalam kamarnya. Nico membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci, saat pintu terbuka ia tersenyum melihat Alexa yang masih terpejam di balik selimut tebalnya itu. Nico menghampiri sang pujaan hati, dipandanginya wajah imut Alexa sambil tersenyum sesekali mengelus tipis pipinya, ia juga menciumi wajah polos Alexa.


"Ehh …," Alexa menggeliat saat merasakan sentuhan di bibirnya. Perlahan ia mengerjap-ngerjapkan mata hingga matanya terbuka sempurna saat menyadari ada seseorang di depannya saat ini.


"Akh …!" Teriak Alexa histeris.


"Sayang, ini aku Nico," kata Nico sembari memegang pundak Alexa.


"Kak Nico? Ngapain Kakak ada di sini?" Tanya Alexa.


"Aku mau bangunin kamu lah, ini udah jam berapa Sayang," jawab Nico.


"Jam tujuh lewat, aduh … aku kok kesiangan gini sih," gerutu Alexa dengan wajah paniknya.


"Kamu kenapa? Gak bisa tidur lagi ya?" Tanya Nico dan dijawab anggukan pelan oleh Alexa.


"Ya udah kamu siap-siap dulu gih sana! Abis itu kita langsung sarapan ya, nanti sarapannya aku bawa ke sini aja biar kamu nggak buru-buru," kata Nico.


"Makasih ya Kak. Ya udah Kak aku mandi dulu," kata Alexa lalu bergegas beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi.


Selalu saja Niko dibuat geleng-geleng kepala dan tersenyum gemas melihat kelakuan wanita yang sangat dicintainya itu selain ibunya.


Selesai mandi dan bersiap-siap, Alexa menghampiri Nico yang sudah menunggunya di meja makan.


"Kak kayaknya nggak perlu sarapan deh, ntar kita kesiangan," kata Alexa.


"Nggak bisa gitu dong, ini masih jam setengah delapan, kita masih sempat kok buat sarapan sebentar," ujar Nico. "Ayo sini duduk!"


Alexa pun menurutinya lalu duduk di dekat Nico. Langsung saja mereka menikmati sarapan yang telah dibuat oleh Nico tersebut.


Sayang, kalau kamu lagi kurang sehat, kamu izin aja dulu. Nggak papa kok kamu istirahat, lanjutin tidur dulu sampai kamu benar-benar fit," kata Nico.


"Aku nggak papa kok Kak, ya udah yuk kita pergi sekarang," jawab Alexa dan mengajak Nico untuk segera pergi. lalu Nico dan Alexa pun bersama-sama pergi ke rumah sakit seperti biasanya.


*****


"Welcome back Dokter Vina, gimana seru nggak liburannya?" Tanya Maya yang bertemu dengan Vina.


"Seru dong, ini semua juga berkat Alexa. Aku jadi bisa menikmati liburan di Jogja dan mendapatkan kabar yang sangat menghebohkan," jawab Vina tersenyum smirk.


"Oh ya, ada berita heboh apa Dok emangnya?" Tanya Maya.


"Saya nggak mau kasih tau kamu," kata Vina.


"Dokter Vina kayak gitu deh, padahal saya nggak pernah tuh main rahasia-rahasiaan sama Dokter," ucap Maya.


Vina melirik Maya dengan penuh arti yang membuat Maya bergidik melihatnya.


"Eh Dok, maaf bukan itu kok maksud saya. Kalau Dokter nggak mau kasih tahu saya juga nggak papa kok," kata Maya.


"Kamu beneran mau tahu?" Tanya Vina.


Maya menatap Vina dengan mata berbinar seakan penuh harap seraya menganggukkan pelan kepalanya.


"Ya udah sini saya bisikin," kata Vina lalu membisikkan sesuatu di telinga Maya.


"Apa …?!" Ucap Maya dengan ekspresi wajah yang sangat syok.


.


.


.


.


.


Bersambung.....