Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-34


Bagas yang baru saja selesai mandi teringat akan sesuatu.


"Tumben banget, kenapa makanan aku gak sampai-sampai ya?" gumam Bagas lalu meraih ponselnya di atas nakas untuk segera memeriksa status pemesanan makanannya itu.


"Hah? sudah diterima setengah jam yang lalu?" gumam Bagas. Karena tidak merasa menerimanya, Bagas segera menghubungi nomor kurir yang mengantar makanan tersebut.


Kurir mengabarkan jika makanan tersebut memang sudah di antar, dan yang menerimanya adalah seorang wanita cantik. Seketika bulu roma Bagas bergidik karena berpikiran yang bukan-bukan.


"Apaan sih kamu Bagas, mana mungkin ada hantu di rumah ini yang menerima makanan itu, apa mungkin kurirnya salah alamat ya?" ucap Bagas yang bermonolog dengan hatinya.


Lalu Bagas pun memeriksa alamat pengiriman yang dibuatnya pada aplikasi pesanan online tersebut. "Astaga, ini sih alamat apartemen sebelah, kenapa bisa sampai salah kirim gini sih," gerutu Bagas. "Tunggu! Bukannya di sebelah itu gak ada orang ya? Memang sih enam bulan yang lalu waktu aku baru saja pindah apartemen di sini, kata pemiliknya apartemen itu sudah disewa oleh orang lain yang saat ini tinggal di Jakarta. Apa dia udah kembali?" gumamnya.


Akhirnya karena penasaran, Bagas pun memutuskan untuk membuktikan sendiri alibinya itu.


Tok ... tok ... tok ... Bagas mengetuk pintu apartemen sebelahnya.


Vina yang baru saja selesai makan dan kekenyangan, langsung saja merebahkan tubuh lelahnya itu di atas kasur. Akan tetapi suara ketukan pintu itu sangat mengganggu dan membuatnya kesal.


"Kali ini siapa lagi? Baru aja mau istirahat," oceh Vina lalu bangkit dari tempat tidurnya dan segera membuka pintu.


Pintu terbuka, Vina dan Bagas saling berhadapan dan menatap satu sama lainnya.


"Ternyata benar, yang tinggal di sini adalah wanita cantik," gumam Bagas.


"Mas, Mas ngomong apa?" Tanya Vina yang mendengar gumaman tersebut.


"Gak ada ngomong-ngomong apa kok Mbak," jawab Bagas.


"Oh ya? Terus Mas ada apa ya ke sini?" Tanya Vina lagi.


"Kenalin saya Bagas," ucap Bagas memperkenalkan diri dan menjulurkan tangannya.


"Vina," balas Vina dan juga menjulurkan tangan.


"Saya mau tanya Mbak," kata Bagas.


"Panggil Vina aja, kayaknya kita seumuran," kata Vina.


"Oh ya, Vin aku mau tanya, apa ada kurir yang nyasar antar makanan ke sini?" Tanya Bagas.


Vina terdiam sejenak, setelah itu ia teringat akan ayam bakar madu yang baru di makanannya tadi.


"Hm, sebentar ya Bagas," kata Vina. Ia mengambil bungkus makanan tadi yang masih ada di atas meja lalu melihat nama penerimanya adalah Bagas.


"Ya ampun Vina, begok banget sih main makan aja," gumam Vina menepuk jidatnya itu. Lalu ia kembali menemui Bagas.


"Bagas, apa makanan pesanan kamu tadi nasi dan ayam bakar madu?" Tanya Vina.


"Iya benar, memang kamu ya penerimanya?" Jawab Bagas dan bertanya balik.


"Memang iya, tapi maaf ya udah aku makan. Aku tadi laper banget karena abis bersihin apartemen ini, aku kira adik aku yang kirimin makanan kesukaan aku itu tanpa melihat lagi itu punya siapa, langsung aku makan aja deh," ucap Vina lirih, ia merasa bersalah terhadap Bagas.


"Vin gak papa kok, entar aku bisa pesan lagi. Lagian aku juga yang salah kasih alamatnya. Tapi aku lega karena penerimanya memang orang yang lagi lapar, makanan kesukaannya lagi, benar-benar kebetulan banget ya," kata Bagas.


"Emang beneran gak papa Gas? Pasti kamu lagi laper banget kan sekarang, aku ganti aja ya uangnya biar kamu bisa pesan lagi, atau aku yang pesanin," kata Vina.


"Gak usah Vin, aku gak lapar kok," tolak Bagas.


Tapi tiba-tiba ...


Vina dah Bagas sama-sama tersenyum mendengar akan hal itu.


"Mulut bisa bohong, tapi perut gak bisa tuh. Gini aja aku temenin kamu makan di luar, mau?" tawar Vina.


Deg, jantung Bagas seakan mau lepas mendengar tawaran tersebut, baru kali ini ia akan makan di luar bersama wanita selain Alexa. Bukan karena tidak ada yang mengajaknya selama ini, tentu saja wajah tampan Bagas menjadi incaran para wanita di luar sana, akan tetapi Bagas lah yang tidak ada waktu untuk meladeni mereka karena sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja kali ini dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Baiklah! aku siap-siap dulu ya," jawab Bagas.


"Iya, aku juga," kata Vina.


Setelah mereka berdua sama-sama siap, mereka berdua pun pergi untuk makan malam bersama.


*****


Alexa dan Nico sedang berada di sebuah pusat cemilan malam yang setiap standnya menyediakan jajanan yang berbeda, seperti jajanan korea dan jajanan dari berbagai macam daerah. Tempat duduknya juga outdoor, sambil menikmati cemilan bisa menikmati semilir angin yang berhembus. Apabila tiba-tiba hujan turun, jangan di tanya lagi, para pengunjung pastinya akan kalang kabut berlarian mencari tempat berteduh.


"Kak Nico, harusnya kamu gak usah ajakin aku jajan di luar kayak gini, kamu kan gak bisa makan sembarangan," kata Alexa.


"Kalau cuma makan dikit aja gak papa kok Sayang. Aku gak mau gara-gara aku, kamu jadi gak pernah jajan lagi di luar, sekali-kali boleh kok," kata Nico.


"Kok Kakak tau sih aku suka jajan makanan-makanan korea kayak gini?" Tanya Alexa.


"Tau dong, apa sih yang gak aku tau soal kamu," jawab Nico.


"Ehm ..." gumam Ara sembari melirik Nico dengan tatapan mautnya.


"Kenapa liatin aku kayak gitu?" Tanya Nico, ia jadi salah tingkah sendiri terkena lirikan maut kekasihnya itu.


"Kakak jangan coba-coba bohong ya sama aku. Thalita kan yang udah kasih tau soal aku ke kamu, bahkan dari awal," tebak Alexa.


Nico nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sikapnya kini bagaimana kucing yang tertangkap mencuri ikan.


"Ngaku gak," kata Alexa sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Nico.


"He ... He ... he ... udah tau nanya," jawab Nico yang masih saja mengeluarkan cengir kudanya.


"Hm, ngaku juga kan," gerutu Alexa.


Permisi Mbak, Mas, ini pesanannya," ucap pelayan yang mengantar pesanan mereka.


Ara memesan es coklat boba dan jajanan korea yang ditusuk menggunakan tusuk sate, sedangkan Nico hanya memesan air mineral dalam botol dan ciki-ciki dalam kemasan. Kebiasaan hidup bersih dan karena perutnya yang sensitif, membuat Nico lebih memilih untuk memesan makan dan minuman yang tertutup, ciki-ciki pun tidak selalu ia makan.


"Heum ... enak banget, Kakak mau gak?" Tanya Alexa yang terlihat sangat menikmati makanannya itu.


Nico hanya menggeleng dan tersenyum, ada kebahagiaan sendiri buatnya melihat Alexa yang begitu bahagia.


.


.


.


.


.


Bersambung.....