Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-115


Bak tersambar petir, tubuh Alexa tiba-tiba gemetar dan lemah tak berdaya. Isak tangisnya pun terdengar mengisi ruangan. Hatinya perih bagaikan tersayat pisau silet. Anggi benar-benar bingung dengan sikap Alexa saat ini. Ia yang penasaran segera menanyakannya kepada calon menantunya itu, "Sayang ada apa?"


Alexa tidak menjawabnya, hanya suara tangisan yang keluar dari mulutnya seraya menunjukkan foto yang ada di ponselnya itu.


Deg …


Sama halnya dengan yang di rasakan oleh Alexa, Anggi merasa sangat terkejut dan tak dapat mempercayai jika anaknya yang ia kenal sebagai anak yang baik akan berbuat hal hina seperti itu.


"Alexa, Bunda nggak percaya. Ini pasti ada yang salah," kata Anggi.


"Alexa juga nggak mau percaya ini Bun, tapi dimana Kak Nico sekarang? Bahkan sampai sekarang Kak Nico belum pulang dan gak ada kabarnya. Dihubungi juga nggak bisa," kata Alexa.


Ia tak ingin mempercayai ini semua, tetapi apa yang dilihatnya dirasa cukup jelas dan menjadi bukti bahwa semuanya adalah benar. Ia tak pernah menyangka jika Nico yang terlihat begitu mencintainya tega melakukan ini semua terhadapnya, bahkan mereka sebentar lagi akan menikah. Kenapa Nico tega mengkhianati cintanya? Apa maksud dari ini semua? Hal itu benar-benar membuat Alexa tertekan.


Sebagai orang tua yang sudah hafal betul dengan sifat anaknya, Anggi tak bisa percaya begitu aja. Ia harus mencari tahu kebenarannya. Tapi dengan kondisinya saat ini membuatnya tak tahu harus berbuat apa. Sejujurnya dia juga kecewa melihat foto tersebut, tapi di dalam benaknya sangat yakin jika Nico tak mungkin melakukan hal seperti itu, sehingga membuatnya bertanya-tanya, siapa yang mengirim foto itu dan apa maksudnya? Entahlah, yang jelas Alexa hanya dapat terdiam sambil menemani Anggi. Rasa kekecewaan terpancar jelas dari raut wajahnya saat ini.


"Sayang, apa kamu yakin tidak mengenali nomor yang mengirim foto tersebut?" Tanya Anggi.


Alexa menggelengkan kepalanya karena ia memang sama sekali tak mengetahui nomor tersebut.


"Udah jelas orang itu nggak mau kita tau tentang identitasnya. Tapi bukankah wanita di foto itu adalah Vina? Bisa aja kan kalau dia yang mengirimnya, terlebih lagi dia begitu terobsesi ingin memiliki Nico. Bisa aja sekarang ini Nico sedang berada di rumahnya Vina. Kenapa kamu nggak ke sana untuk melihatnya secara langsung, untuk membuktikan kebenarannya Sayang," kata Anggi.


Alexa tampak tertegun, ia membenarkan perkataan calon mertuanya itu. Lalu ia pun segera saja berpamitan untuk pergi ke rumah Vina. Benar kata ibu dari calon suaminya itu bahwa ia tidak boleh mempercayainya begitu saja sebelum melihatnya secara langsung.


*****


Jalanan terlihat begitu sunyi, Alexa dengan leluasa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya begitu tidak tenang dan tidak fokus hingga ia berhenti mendadak karena hampir saja tertabrak seekor kucing yang saat itu sedang melintas di depannya. Alexa mencoba mengatur nafasnya karena saat itu hampir saja nyawanya melayang gara-gara ketidakfokusannya itu. Alexa mencoba untuk mengatur nafas dan menenangkan diri dulu, ia benar-benar harus fokus agar selamat sampai tujuan. Setelah dirasa dirinya cukup tenang, barulah ia melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah Vina.


Vina tersenyum saat melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya berhenti di depan rumahnya. Tentu saja itu adalah mobil Anggi ibu dari pria yang sangat dicintainya yang saat ini sedang dibawa oleh Alexa. Ia segera mengatur siasatnya untuk memberikan kejutan kepada tamu yang tak diundang tetapi sangat diharapkan kehadirannya itu. Vina juga sudah memberi kode kepada ART-nya agar langsung menyambut Alexa dengan hangat dan langsung mengantarnya ke kamar dimana tempat ia dan Nico berada.


Betapa terkejutnya Alexa saat ia tiba di kamar Vina dan melihat calon suaminya sedang tertidur pulas bersama wanita lain. Ia menahan perih di dada, saat ini emosinya seakan hendak meledak tetapi ia tahan karena menurutnya sama sekali tidak ada gunanya jika saat ini Alexa melabrak mereka. Dengan air mata yang bercucuran Alexa memilih pergi meninggalkan kediaman Vina dengan membawa luka.


Vina tersenyum puas melihat Alexa yang pergi begitu saja, rencananya berjalan dengan sangat lancar untuk membuat hubungan Alexa dan Nico hancur berantakan.


"Udah aku bilang sama kamu Alexa, jangan pernah main-main sama Vina. Bukan Vina namanya kalau menyerah begitu saja. Aku pertegaskan sama kamu, kalau Nico hanya milikku, bukan kamu atau wanita manapun untuk selamanya," gumam Vina seraya tersenyum penuh kemenangan.


Alexa terus saja melajukan mobilnya yang tak tahu arah tujuannya itu. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping, tersayat, teriris sembilu, entah seperti apa rasa sakitnya, hanya Alexa lah yang tahu. Tak pernah terpikirkan olehnya jika pernikahan yang baru saja direncanakan akan batal karena sebuah pengkhianatan. Ia tidak ingin mempercayai jika Nico tega menghancurkan hatinya, akan tetapi itulah kenyataannya yang mau tak mau harus ia terima. Alexa berusaha untuk ikhlas dan tabah menghadapi ini semua meskipun terasa begitu sangat sulit.


*****


Pagi menyingsing, Nico mengerjap-mengerjapkan matanya hingga membulat sempurna, ia merasa heran melihat sekeliling yang sangat asing baginya itu. Nico pun mencoba menoleh ke arah samping dan betapa terkejutnya saat melihat sosok wanita yang sangat ia benci kini ada di sampingnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia menyadari jika dirinya saat ini sedang bertelanjang dada. Sontak Nico pun terduduk dan begitu syok dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Nico sehingga mengejutkan Vina dan terbangun dari tidurnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan sampai saya bisa berada di sini?" Bentak Nico.


"Kamu beneran nggak ingat apa yang udah kamu lakukan sama aku?" Tanya Vina.


"Apa yang saya lakukan sama kamu? Jangan mengada-ngada kamu. Saya tidak merasa melakukan apapun terhadap kamu," bantah Nico.


"Tapi kita benar-benar melakukannya tadi malam Nico," kata Vina yang terus saja mencoba meyakinkan.


"Nggak mungkin, ini pasti ada yang enggak beres. Kamu itu wanita licik, pasti kamu dan pembantu kamu itu kan yang sudah menjebak saya sehingga saya berada di sini," tuduh Nico.


"Nggak Nico, kita benar-benar melakukannya dan kamu harus tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan," kata Vina yang pura-pura bersedih dengan mengeluarkan air mata buayanya.


"Cih, omong kosong apa ini. Hapus air mata kamu itu. Kamu pikir saya bisa percaya begitu saja. Saya pasti akan mencari tau kebenarannya," ucap Nico yang begitu murka.


Ia segera saja memakai pakaiannya dan membawa barang-barangnya pergi dari rumah Vina.


Perasaannya begitu kalut, beberapa kali ia menghempaskan kepalanya ke setir mobil karena merasa kesal dan jijik terhadap dirinya sendiri. Meskipun ia sangat yakin jika tadi malam ia sama sekali tidak berbuat apapun terhadap Vina.


"Brengsek! Kenapa aku bisa dijebak kayak gini sih, pasti Bunda dan Alexa cemas karena aku nggak pulang ke rumah semalaman. Ah Vina sialan … !" Teriak Nico dengan tatapan murka dan penuh kebencian.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Sambil nunggu Otor up yuk mampir di karya baru temenku …


Judul Karya : Ternyata Dia Jodohku


Nana Pena : Sofa Marwa.