Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-102


Keesokan harinya, Thalita telah siap akan berangkat ke Jakarta. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari Bagas, kakak angkat dari Alexa itu. Tanpa menunda-nunda Thalita pun segera mengangkat telepon tersebut.


"Halo Mas Bagas," Ucap Thalita.


"Halo Ta," ucap Bagas pula dari seberang telepon.


"Ada apa Mas?" Tanya Thalita.


"Aku dengar dari Alexa katanya kamu hari ini mau ke Jakarta ya? Udah pergi belum?" Tanya Bagas.


"Iya Mas bener, ini aku masih siap-siap jadi belum pergi. Memang kenapa Mas? Mau titip sesuatu ya buat Alexa?" Jawab Thalita dan bertanya pula.


"Oh bukan gitu Ta. Kebetulan Mas hari ini mau ke Jakarta juga, kamu mau bareng sama Mas aja nggak?" Tawar Bagas.


Ya Bagas memang berniat akan pergi ke Jakarta hari ini. Selain ada urusan pekerjaan, ia juga ingin menjenguk Anggi setelah mendapat kabar dari Alexa.


"Beneran Mas? Aku mau lah Mas mau banget malahan. Bagus dong kalau kita bisa sama-sama, biar aku lebih cepat sampainya juga daripada harus naik bus," kata Thalita.


"Yap, benar sekali. Ya udah kalau gitu biar Mas jemput kamu ya ke rumah," kata bagas.


"Iya Mas, aku tunggu ya," kata Thalita.


"Tapi kamu ngomong dulu dong sama Dokter Dion, aku nggak mau ntar Dokter Dion jadi salah paham," kata Bagas.


"Iya Mas tenang aja. Lagian Kak Dion nggak mungkin ngelarang kok, malahan pasti dia senang deh karena aku ada temennya ke Jakarta, ya daripada aku sendirian," kata Thalita.


"Ya udah kalau gitu sampai ketemu nanti ya Ta, bye … ," ucap Bagas.


"Iya Mas, bye … ," balas Thalita.


Lalu Bagas pun mengakhiri panggilan telepon.


*****


Beberapa jam kemudian, tepatnya pada siang hari, Thalita dan Bagas telah tiba di Jakarta. Bagas terlebih dahulu mengantar Thalita ke rumah sakit, barulah setelah itu ia pergi menemui kliennya.


Setelah tiba di rumah sakit, Thalita sangat senang karena dapat bertemu dengan budenya dan melihat kondisinya secara langsung, ia juga senang karena bisa bertemu dengan Alexa sahabat yang sangat dirindukannya itu. Sementara hari ini orang tua Thalita akan kembali ke Jogja karena ada pekerjaan ayah Thalita yang tidak dapat ditunda lagi.


"Bude, gimana kabar Bude sekarang?" Tanya Thalita.


"Ya seperti inilah Sayang, seperti yang kamu liat. Terkadang Bude merasakan sakit, kadang juga merasa baik-baik aja," jawab Anggi.


"Bude yang sabar ya, yang kuat. Bude harus cepat melakukan kemoterapi supaya Bude bisa cepat sehat," kata Thalita.


"Iya Sayang, kamu tenang aja ya, Bude udah siap kok jika harus menjalani kemo," jawab Anggi.


"Ya Bude, syukurlah. Lita senang dengarnya," ucap Thalita.


Thalita dan Alexa juga semua orang yang ada di situ ikut tersenyum bahagia mendengarnya. Lalu Thalita pun mendekati Alexa yang saat ini duduk di sofa tidak jauh dari brankar tempat Anggi terbaring.


"Alexa, kayaknya tadi kita belum pelukan deh," kata Thalita lalu mereka berdua pun berpelukan melepas rasa rindu.


"Lex, makasih ya kamu udah jagain Bude aku. Kamu itu memang sahabat aku yang paling the best," ucap Thalita dengan sangat terharu.


"Iya sama-sama Lita, lagian kamu apa-apaan sih ngomongnya kayak gitu, kayak sama siapa aja. Bunda itu kan Bundanya Kak Nico, jadi kamu nggak perlu sungkan kayak gitu lah," kata Alexa.


"He … he … he … iya juga ya. Benar kata kamu," cengir Thalita.


"Oh ya, Mas Bagas-nya mana Ta?" Tanya Alexa yang sejak tadi memang belum melihat Bagas, sedangkan yang ia tahu Bagas hari ini ke Jakarta bersama dengan Thalita.


"Mas Bagas tadi katanya mau ketemu dulu sama klien, tapi abis itu dia bakalan langsung ke sini kok," jawab Thalita.


"Oh … gitu ya. Oh ya Ta kamu izin kan sama Kak Dion mau ke sini bareng Mas Bagas?" Tanya Alexa.


"Iya dong, tenang aja Lex Kak Dion orangnya enggak pencemburu berat kok, apalagi dia kan udah kenal sama Mas Bagas," jawab Thalita.


"Iya, iya. Syukurlah kalau memang kayak gitu," ucap Alexa.


Benar saja setelah bertemu dengan klien, Bagas pun segera datang ke rumah sakit untuk menjenguk Anggi, Ibu dari Dokter Nico itu. Anggi merasa sangat tenang dan juga senang karena begitu banyak orang-orang yang peduli dengannya. Keinginannya untuk sembuh begitu kuat, ia ingin segera melakukan pengobatan agar cepat pulih meskipun ia tahu betul jika harapannya itu sangatlah tipis. Yang penting setidaknya Anggi tidak menyerah dan tetap berusaha demi orang-orang yang mencintai dan dicintainya.


*****


Karena mendapat bujukan dan dukungan dari orang-orang yang mencintai dan dicintainya, Anggi langsung saja menyetujui untuk melakukan pengobatan. Nico pun dengan senang hati telah mengatur semuanya.


Kini telah tiba saatnya Anggi menjalani kemoterapi yang pertama. Alexa dan Nico selalu setia mendampinginya, meskipun rasanya sangatlah sakit, tetapi Anggi tetap berusaha kuat demi kesembuhannya. Anggi ingin tetap hidup agar dapat melihat Nico dan Alexa menikah serta hidup berbahagia, ia tidak mau jika sampai melewatkan momen bahagia itu.


Selesai kemoterapi, Anggi kembali dibawa ke ruang rawat inap. Nico memang sengaja meminta ibunya untuk tetap berada di rumah sakit agar dia dapat mengawasinya, terlebih lagi rumah sakit itu adalah milik keluarganya sendiri.


Nico juga jarang kembali ke apartemen karena di rumah sakit itu juga sudah ada ruangannya beserta perlengkapan dirinya sendiri. Sedangkan Alexa sering bolak-balik ke apartemen, kadang juga dia ikut tidur di rumah sakit untuk menjaga Anggi.


Saat ini Nico sedang menangani salah satu pasien yang akan dioperasi. Hanya Nico dan Arya yang mengambil alih operasi hari ini. Sedangkan Alexa yang sedang tidak memiliki banyak pekerjaan memilih menemani Anggi di ruang rawat inapnya.


"Sayang, makasih ya karena kamu selalu menemani Bunda. Pasti kamu capek banget ya karena harus kerja sambil jaga Bunda, bahkan kamu jadi sering nginap di rumah sakit. Maaf ya Bunda hanya menjadi beban kalian aja," ucap Anggi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bunda, nggak usah ngomong kayak gitu dong. Alexa enggak pernah kok ngerasa Bunda itu beban. Alexa senang bisa melakukan ini semua. Lagian menjaga Bunda ini kan bisa Alexa anggap sebagai pekerjaan juga di rumah sakit ini, jadi Bunda nggak usah terlalu memikirkannya ya. Yang penting Bunda harus sembuh. Aku tau kok kalau kemo itu pasti rasanya sangat nggak enak ya Bun, sangat sakit, tapi Bunda sabar ya, Bunda harus bertahan," ucap Alexa.


"Ya Sayang, Bunda janji akan bertahan. Bunda akan kuat demi kalian, demi orang-orang yang menyayangi Bunda," ucap Anggi.


.


.


.


.


.


Bersambung.....