Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-18


"Aw panas," keluh Alexa saat meneguk minumannya.


"Lex pelan-pelan dong, itu baru aja di buat. Masih panas banget, di tiup dulu dong Lex," kata Arya.


"Hehe, gak sabar aja pengen minun," ucap Alexa beralasan, berusaha menutupi kegelisahannya.


Arya meletakkan minumannya di atas meja lalu mengambil minuman dari tangan Alexa dan meniupnya.


"Ar, gak usah," Tolak Alexa.


"Gak papa, aku liat kamu lagi gelisah, ada apa Lex...?" Tanya Arya.


"Keliatan banget ya Ar kalau aku lagi gelisah...?" Tanya Alexa pula.


"Keliatan Lex, tapi udah biasa kok kalau kamu gak mau cerita sama aku," kata Arya.


Alexa menatap Arya dengan seksama, sebenarnya Arya adalah sosok pria yang sangat baik kepadanya, selalu ada buatnya.


"Mungkin ada baiknya aku cerita sama Arya," gumam Alexa dalam hati.


"Lex, kenapa malah bengong...?" Tanya Arya.


"Ar, aku pengen cerita sama kamu," kata Alexa.


"Nih minum dulu," kata Arya sembari menyerahkan minuman Alexa yang tadi ditiupnya.


"Makasih ya Ar," ucap Alexa menerimanya.


"Jadi kamu mau cerita apa? Cerita dong," tanya Arya.


"Gini Ar," baru saja hendak bercerita, tiba-tiba Vina datang menghampiri mereka.


"Alexa," panggil Vina.


"Iya Dok, ada apa...?" Tanya Alexa.


"Saya mau ngomong sama kamu," jawab Vina.


"Ya udah ngomong aja Dok," kata Alexa.


"Saya cuma mau ngomong empat mata sama kamu, saya tunggu di ruangan saya!" Kata Vina lalu pergi.


"Arya, maaf ya aku tinggal dulu," ucap Alexa.


"Iya Ar, hati-hati ya," ucap Arya.


"Tenang aja, Dokter Vina gak akan berani macam-macam sama aku," kata Alexa tersenyum.


"Aku percaya kok," ucap Arya yang juga tersenyum.


*****


"Kamu bisa kan jangan ganggu Nico, Nico itu calon suami saya,"


Kata-kata Vina terngiang jelas di pikiran Alexa. Ucapan yang pernah didengarnya pada waktu co-*** dulu kini terulang kembali.


"Kenapa selalu aja ada wanita yang meminta aku jangan menganggu calon suaminya. Tapi kenapa kali rasanya aku gak rela ya...? Tapi, bukannya Dokter Vina itu cuma mantan Dokter Nico ya, akh... kenapa jadi mikirin Nico sih," gumam Alexa.


Ting.. tung.. suara bel apartemen Alexa, segera saja Alexa melangkahkan kaki menuju pintu.


Ceklek... pintu terbuka.


Nico dengan setelan piyamanya berdiri tegak di hadapan Alexa. Pria berbadan tinggi, hidung mancung, berkulit putih, sungguh pria tampan yang sangat sempurna, itulah yang ada di dalam pikiran Alexa yang saat ini sedang menatap pria di depannya itu tanpa berkedip.


"Kak mau ngapain?" Tanya Alexa sembari menelan saliva.


"Lex, kenapa kamu melakukan ini terhadapku? Kamu udah berhasil mengobrak-abrik perasaan aku. Kalau kamu memang udah punya pasangan, kenapa dari awal kamu harus kasih aku perhatian? Aku gak bisa tidur Lex mikirin ini semua," kata Nico.


Alexa menatap Nico tidak mengerti, terlihat jelas dari mata Nico bahwa ia menaruh rasa kecewa pada Alexa.


"Kak, aku gak ngerti apa maksud Kakak," kata Alexa.


Tanpa basa-basi Nico langsung menempelkan bibirnya pada bibir Alexa, sontak saja Alexa terkejut, akan tetapi Nico semakin berani dengan ******* dan menggigit tipis bibir mungil Alexa sehingga ia membuka sedikit mulutnya dan memberi akses untuk lidah Nico menjelajahi rongga mulutnya. Alexa yang menikmati permainan Nico itu mencoba untuk membalas. Nico menarik tengkuk Alexa, sementara Alexa melingkarkan tangannya di leher Nico, mata keduanya terpejam yang membuat ciuman tersebut terasa semakin panas.


"Lex, maaf ya udah lancang," ucap Nico yang menyudahi ciuman tersebut.


Bukan menjawab apalagi marah, justru Alexa malah mencium bibir Nico dengan lembut sehingga ciuman panas itu kembali terjadi, hingga bibir keduanya terasa kebas barulah ciuman itu benar-benar berakhir.


Ini adalah pertama kalinya bagi Alexa, perasaanya campur aduk. Meskipun ia telah memberikan ciuman pertamanya kepada pria yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya, tapi sama sekali tidak keberatan, malah menjadi kebahagiaan sendiri buatnya.


"Maaf Lex," ucap Nico lagi sembari mengusap lembut bibir Alexa yang sedikit bengkak karena ulahnya.


"gak papa Kak," jawab Alexa yang malu.


Kini Alexa dan Nico berada di kamar mereka masing-masing, keduanya saling memikirkan dan terbayang yang baru saja mereka lakukan.


"Ya ampun Lex, kenapa begok banget sih," gumam Alexa sembari membayangkan saat ia mencium Nico duluan yang membuat ciuman itu terulang kembali.


"Sumpah demi apa, ini adalah yang pertama kalinya buat aku, tapi kenapa dengan PD-nya aku malah membalas ciuman dari Kak Nico, pasti Kak Nico ketawa ngejek deh karena ciuman yang buruk, tapi bibir Kak Nico manis banget sih, bikin candu. Wait! Apa maksud dari ciuman tadi ya? Duh... gawat, pasti Kak Nico menganggap aku murahan banget karena mau aja diajak ciuman sama cowok yang tidak punya hubungan apa-apa," Alexa terus bermonolog dengan hatinya sambil berguling-guling di atas kasur.


Begitupun dengan Nico, ia masih saja memikirkan Alexa, membayangkan wajah cantiknya, bibir merah meronanya yang membuat Nico merasa rindu padahal mereka baru saja bertemu dan saling bertukar saliva.


"Kenapa aku harus melakukannya tadi? Pasti Alexa sekarang merasa kalau aku menganggap dirinya wanita gampangan karena membiarkan aku menciumnya,bahkan dia juga membalasnya. Aku juga tidak menjelaskan bagaimana perasaanku terhadapnya, apa aku benar-benar telah jatuh cinta sama wanita yang udah punya pasangan? Kenapa Alexa membalas ciumanku? Bukankah sama aja dia telah mengkhianati pasangannya, akh... ini semua salah aku, andai saja aku bisa mengontrolnya tadi," gumam Nico yang sedang duduk bersandar di sofa dalam kamarnya. Dalam hatinya terbesit sedikit rasa penyesalan.


*****


Keesokan hari saat sedang memeriksa pasien, Nico dan Alexa tampak canggung dan saling menjauh. Arya yang melihat gerak gerik mereka berdua itupun menjadi curiga dan memutuskan untuk menanyakannya langsung nanti.


Tidak ada pembahasan apapun selain pekerjaan oleh Nico dan Alexa hingga jam kerja berakhir.


"Loh Mas Bagas? Bukannya Mas bilang mau pulang ke Jogja ya?" Tanya Alexa yang melihat Bagas datang ke rumah sakit tempatnya bekerja.


"Ya memang, tapi sehabis jemput dan antar kamu pulang," jawab Bagas.


"Ya ampun Mas gak perlu, kamu bisa kesorean," kata Alexa.


"Gak kok," jawab Bagas.


Saat itu juga Alexa melihat Nico dan Arya yang akan menuju ke parkiran mobil.


"Dokter Nico, Arya, sini deh," panggil Alexa dan langsung saja dihampiri oleh mereka berdua.


"Ada apa Lex?" Tanya Arya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....