Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-88


Nico merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya, ia pun mencoba untuk menghubungi Alexa kembali. Kali ini bukan hanya tidak mendapat jawaban dari Alexa, tetapi nomor ponsel Alexa juga tidak aktif yang membuat Nico merasa putus asa. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, apakah Alexa benar-benar sangat marah pada ibunya sehingga ia pun tidak mau lagi menjalin hubungan dengannya. Sungguh Nico tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika tanpa Alexa, akan tetapi dia juga benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. Semua memang benar salah ibunya, akan tetapi ibunya juga sudah mengakui dan menyesalinya. Apakah ibunya tidak pantas untuk menerima kesempatan kedua? Bukankah semua orang yang pernah melakukan kesalahan berhak mendapatkan kesempatan kedua termasuk ibunya, pikir Nico.


Nico merebahkan diri di atas kasur dalam kamar Alexa. Berharap jika sang kekasih kembali, maka ia akan langsung bertemu dengannya di sini. Nico yang tadi malam tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Alexa, tanpa sadar telah memejamkan matanya dan terlelap di tempat tidur Alexa itu.


Beberapa jam kemudian, Alexa telah tiba di apartemennya. Karena hari sudah malam, ia sengaja tidak meminta Raka untuk mampir agar Raka bisa langsung menuju penginapan yang dipesannya lewat online tadi dan beristirahat. Raka pun yang sadar diri itu segera saja pergi meninggalkan apartemen Alexa. untungnya sebelum mengantar Alexa ke apartemen, mereka sudah makan terlebih dahulu, jadi Raka bisa langsung ke penginapannya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.


Setelah Raka berlalu dari pandangan mata Alexa, ia pun segera naik ke unit apartemen dan langsung saja menuju ke apartemennya. Setibanya di depan apartemen, mata Alexa langsung tertuju pada pintu apartemen yang ada di sebelah, yaitu milik sang kekasih. Dia bingung apa yang harus dilakukannya saat ini, bagaimana dia harus bersikap jika bertemu dengan Nico? Tetapi dia juga kasihan melihat Nico yang terus saja menghubunginya dan menunggu kabar darinya.


Alexa menggeserkan badannya hingga kini ia tepat berdiri di depan Apartemen Nico.


Tok … tok … tok … ting … tung …


Alex mengetuk pintu dan menekan bel apartemen, akan tetapi tidak ada jawaban maupun kemunculan Nico.


"Kemana ya Kak Nico? Apa dia belum pulang dari rumah sakit?" gumam Alexa.


Alexa segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, dia ingin menghubungi Nico tetapi niatnya itu tertunda karena ternyata Alexa baru menyadari jika ponselnya itu tidak aktif karena kehabisan daya. Alexa yang mengetahui password apartemen Nico memutuskan untuk langsung masuk saja ke dalam. Sama halnya dengan Nico, Alexa telah mencari Nico ke sana kemari tetapi tidak menemukannya.


"Ternyata Kak Nico memang lagi nggak ada di apartemennya, mungkin memang masih di rumah sakit karena lagi banyak kerjaan, terlebih lagi aku hari ini nggak masuk," gumam Alexa.


Karena tidak menemukan Nico, Alexa pun keluar dari apartemen Nico dan masuk ke dalam apartemennya sendiri. Perlahan Alexa melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, tubuhnya yang sangat lelah itu pun langsung saja ia rebahkan di atas kasur yang sangat empuk tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu. Akan tetapi saat itu Alexa merasa terkejut karena menyadari ada sesuatu yang mengganjal tubuhnya, karena saat itu kamar dalam kondisi yang sangat gelap sehingga Alexa tidak melihatnya.


"Ah …," Alexa berteriak yang membuat Nico terbangun dan langsung terduduk, sehingga Alexa yang tadinya menindih tubuh Nico dibuat terjatuh dari tempat tidurnya.


"Aw," rintih Alexa kesakitan.


Nico yang mendengar rintihan Alexa pun langsung saja mendekati arah sumber suara.


"Sayang, ini aku Nico," kata Nico.


Alexa terkejut, lalu ia pun segera berdiri dan menghidupkan lampu kamarnya agar dapat melihat siapa sosok yang ada di dekatnya saat ini dengan jelas. Benar saja, saat ini Alexa telah melihat kekasih yang tadi ia cari sudah ada di depan matanya.


Alexa Hanya berdiam tak berkutik, mulutnya pun seakan terkunci tak dapat mengucapkan kata, sedangkan Nico tersenyum lebar karena melihat sang kekasih akhirnya pulang. Nico pun langsung saja menghampiri Alexa yang masih berdiri mematung.


"Sayang, akhirnya kamu pulang juga. Aku kangen banget sama kamu, aku minta maaf ya atas semua yang sudah Bunda lakukan terhadap Mama kamu di masa lalu," ucap Nico, lalu memeluk erat sang kekasih.


"Kak Nico ngapain ada di sini? Kenapa kamu bisa ada di apartemen aku?" Tanya Alexa.


"Aku nungguin kamu pulang Sayang, kamu bilang hari ini mau pulang, tapi kamu sama sekali nggak ngabarin aku," jawab Nico.


"Sekarang Kakak udah liat kan kalau aku udah pulang dan di sini, jadi bisa nggak kamu pergi dari sini sekarang. Aku mau istirahat," kata Alexa.


Nico terdiam, buliran bening dari sudut matanya pun jatuh begitu saja tanpa disadarinya, begitu pun juga dengan Alexa yang matanya mulai berkaca-kaca. Mereka berdua sama-sama merasakan pedih di dalam hati karena bingung dengan kondisi hubungan mereka yang saat ini tidak stabil, akan tetapi Nico hanya bisa menuruti apa yang menjadi keinginan Alexa saat ini, baginya dapat melihat Alexa kembali dengan selamat telah membuat hatinya tenang.


"Oke, kalau kamu memang nggak mau aku ganggu dulu, aku akan kasih kamu waktu. Tapi aku mohon pikirkan hubungan kita, aku nggak mau kehilangan kamu Sayang," kata Nico.


Lalu Nico mencium kening Alexa seperti biasa yang ia lakukan, "Selamat tidur ya Sayang."


Tanpa mendapat jawaban apapun dari Alexa, saat itu juga Nico segera saja meninggalkan Alexa dan langsung pulang ke apartemennya.


Nico pun telah berlalu, kini Alexa hanya seorang diri, ia duduk di sudut kamarnya dan meringkuk, ia menangis menahan pedihnya perasaan yang saat ini dirasakannya.


"Kenapa sulit sekali untuk menerima kenyataan ini? Kenapa aku nggak bisa berdamai dengan hati, rasanya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa orang yang aku cintai adalah anak dari seseorang yang telah menyakiti Mama. Kenapa baru pertama kali aku merasakan jatuh cinta dan menjalin hubungan yang aku kira akan bahagia tapi kenyataannya jadi seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Alexa dengan isak tangisnya.


Sementara itu Nico yang sudah berada di kamarnya pun ikut menangis merenungi nasib hubungannya saat ini. Ia juga menangis karena Alexa sama sekali tidak menginginkannya, dia hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


.


.


.


.


.


Bersambung.....