
Bukan hanya karena seberapa uang yang mereka terima, terlebih lagi mereka juga tahu bagaimana kondisi Andreas saat ini. Tetapi karena rasa kepedulian mereka yang sangat tinggi terhadap Andreas dan sudah menganggapnya sebagai keluarganya sendiri.
"Sama-sama Pak Andreas. Ini memang sudah menjadi tugas saya sebagai pengacara pak Andreas sekaligus orang terdekat Bapak yang sudah sangat lama," jawab Yanto.
"Iya Pak sama-sama. Apalagi saya, ini memang sudah seharusnya saya lakukan mengingat jasa-jasa yang sudah Bapak lakukan terhadap saya," kata Bagas.
"Iya Pak Andreas, apapun pasti akan kami lakukan agar Pak Andreas segera bebas dari sini," sambung Yanto.
"Ya saya percaya dengan kalian, belum sampai setahun saja kalian sudah dapat mengurus kasus saya dengan baik, sudah dapat menangkap orang tersebut padahal orang itu benar-benar sangat licik dan sangat pandai bersandiwara, juga lihai menutupi semua masalah ini," kata Andreas.
"Seperti pribahasa yang mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Ya seperti itulah Pak dalang dari kerusuhan ini, mau bagaimanapun juga dia bersembunyi, bagaimanapun juga dia menutupi segala perbuatannya, akhirnya ketahuan dan tertangkap juga kan meskipun waktunya agak lama. Untuk sekarang Bapak bersabar saja ya dulu, saya yakin sebentar lagi Bapak akan segera bebas," kata Yanto.
"Baik Pak, saya pasti akan terus bersabar menunggu seperti yang selama ini saya lakukan. Toh Saya hanya menunggu saja, kalian yang selama ini berjuang" jawab Andreas.
*****
Keesokan harinya, saat Nico hendak melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit, tiba-tiba saja ia mendengar suara Alexa yang memanggilnya sehingga membuat langkahnya terhenti dan memutar badan kearah Alexa.
"Kak Nico, Kakak mau pulang ya?" Tanya Alexa dengan wajah datarnya.
"Iya, tadi kan aku udah bilang sama kamu. Kebetulan kerjaan aku juga udah nggak ada lagi, jadi mau langsung pulang aja ke rumah Bunda," jawab Nico.
"Terus Kakak mau tinggalin aku gitu aja?" Tanya Alexa.
"Terus? Bukannya kamu mau pulang ke apartemen dan biasanya kamu nggak mau aku antar, kamu maunya pulang ke apartemen sendiri biar aku gak mampir-mampir lagi," kata Nico.
"Jadi Kakak nggak mau ngajak aku pulang ke rumah Bunda malam ini?" Tanya Alexa sembari mengerucutkan bibirnya pertanda sedang ngambek.
"Memangnya kamu mau?" Tanya Nico.
"Iya, aku mau lah Kak, kenapa Kakak nggak ngajak aku," jawab Alexa.
"Maaf ya Sayang, aku pikir setelah kemarin aku sampaikan bahwa Bunda ingin kita segera menikah dan kamu bilang nggak bisa menghadapi Bunda untuk saat ini, jadi kamu belum mau ke rumah Bunda," ucap Nico.
"Kok Kakak bisa berpikiran seperti itu sih. Harusnya Kakak tanya lagi dong aku mau atau nggak, pemikiran orang itu bisa aja langsung berubah Kak," kata Alexa.
Nico mengerutkan kening seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, rasanya menjadi serba salah jika menghadapi wanita yang sedang uring-uringan di depan matanya.
"Jadi sekarang kamu mau ikut aku pulang kan? Kalau iya dengan senang hati dong aku mau membawa kamu pulang. Yuk kita pulang sekarang," ajak Nico sembari memberikan senyuman manisnya sehingga Alexa pun luluh serta membalas senyuman itu.
Lalu Alexa mengikuti Nico yang menggandeng erat tangannya menuju ke parkiran mobil.
"Kamu mau pulang ke apartemen dulu ambil baju atau kita langsung aja ke rumah Bunda?" Tanya Nico.
"Pulang ke apartemen dulu lah Kak, aku kan nggak ada baju di sana," jawab Alexa.
"Kan bisa pakai baju Bunda atau baju aku," ujar Nico.
"Gak mau, baju Kakak kebesaran. Segan kalau harus pakai baju Bunda. Terus buat besok ke rumah sakit aku juga perlu baju ganti Kak," kata Alexa.
"Iya juga ya. Kamu sih udah aku bilang tinggalin aja baju kamu di rumah Bunda, karena kita bakalan sering pulang ke sana," kata Nico.
"Nggak mau, nggak papa kok Kak aku bolak-balik ke apartemen aja ambil baju," kata Alexa.
*****
Anggi sangat senang karena ia dapat bertemu dengan Alexa. Ternyata apa yang dikatakan Nico tidak bohong, bahwa malam ini Alexa akan ikut pulang ke rumahnya.
"Alexa, Bunda seneng banget karena hari ini kamu nginep di sini lagi. Udah dua malam lho kamu nggak dateng, Bunda kangen sama kamu," ucap Anggi seraya memeluknya.
"Iya Bunda, maaf ya Alexa kemarin itu lagi banyak banget kerjaan. Jadi baru hari ini sempat ke sini lagi," ucap Alexa.
"Iya, nggak apa-apa Sayang," kata Anggi.
"Bunda gimana keadaannya?" Tanya Alexa.
"Bunda baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatir ya," jawab Anggi.
"Oh ya, syukurlah Bunda. Udah makan belum?" Tanya Alexa lagi.
"Udah, Bunda makannya sore-sore disuapin sama Rika," jawab Anggi.
"Bagus deh Bunda, kalau minum obatnya udah belum?" Alexa terus saja bertanya seperti sedang menginterogasi anak kecil, akan tetapi Anggi sangat senang karena itu adalah bentuk kepedulian Alexa terhadapnya.
"Belum, ntar mau tidur baru Bunda minum obat seperti biasa," jawab Anggi.
"Iya Bunda," ucap Alexa.
"Alexa, Bunda mau tanya sama kamu boleh?" Tanya Anggi.
Nico yang saat itu sedang tersenyum karena melihat perhatian Alexa terhadap ibunya, mendadak menjadi merasa khawatir. Nico sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh ibunya itu kepada Alexa. Setelah ini sudah pasti akan merusak mood Alexa, bisa saja Alexa akan pulang malam ini juga meninggalkan kediaman Anggi.
"Boleh dong Bun, Bunda mau tanya apa?" Tanya Alexa.
"Apa Nico udah ngomong sama kamu tentang keinginan Bunda melihat kalian segera menikah?" Tanya Anggi.
Benar seperti dugaan Nico, Anggi pasti akan menanyakan soal itu. Alexa sendiri sebenarnya sudah tahu jika malam ini ia menginap di rumah Anggi, sudah pasti masalah ini akan dibahas. Akan tetapi karena Alexa telah menyetujui untuk pulang ke rumah Anggi malam ini, sudah pasti karena ia juga sudah mempunyai jawabannya.
"Soal itu ya Bun, Kak Nico udah sampaikan kok sama Alexa," jawab Alexa.
"Oh ya? Terus menurut kamu gimana? Maaf ya kalau Bunda kesannya memaksa. Tapi dengan kondisi Bunda yang seperti ini, Bunda hanya ingin melihat anak Bunda bahagia, Bunda ingin melihat anak Bunda satu-satunya bisa menikah dan hidup bahagia bersama orang yang dicintainya. Bunda bukan tidak mengerti dengan kondisi kamu Alexa, Bunda sangat mengerti. Sekali lagi maaf ya kalau Bunda udah egois memaksa kalian, tapi seandainya kamu benar-benar tidak siap atau tidak mau, Bunda sama sekali tidak akan memaksakannya lagi Alexa. Mungkin memang sudah sudah takdir hidup bunda akan berakhir tanpa melihat kebahagiaan anak Bunda dulu," Kata Anggi yang terlihat sangat sedih.
.
.
.
.
.
Bersambung.....