
Akan tetapi tiba-tiba saja wajah Anggi yang tadinya tersenyum manis berubah menjadi sedih dan mengeluarkan bulir bening dari sudut matanya yang membuat Alexa dan Nico menjadi bingung.
"Loh Bunda, Bunda kenapa nangis?" Tanya Nico.
"Iya Bunda kenapa? Papa setuju Bunda, harusnya Bunda senang bukannya malah nangis," sambung Alexa.
"Bunda senang karena kalian sebentar lagi akan menikah, tetapi sesungguhnya Bunda juga sedih karena Alexa nanti akan menikah tanpa didampingi sama Papanya. Maafin Bunda ya Alexa, karena Bunda udah egois dan kalian harus mengikuti keegoisan Bunda," ucap Anggi.
"Bunda, Bunda nggak boleh ngomong kayak gitu dong. Papa udah ikhlas kok, dan Alexa sendiri juga akan ikhlas menjalaninya. Alexa cinta sama Kak Nico, jadi menurut Alexa nggak ada salahnya kan kalau Alexa menikah sekarang atau nanti. Yang penting kita doain aja ya semoga Papa bisa segera bebas," ucap Alexa lalu memeluk Anggi.
Begitu juga dengan Nico, ia pun mendekati ibu dan kekasihnya itu lalu memeluk mereka berdua dengan penuh haru.
*****
Hari-hari telah berlalu, hari pernikahan Nico dan Alexa semakin dekat. Yaitu mereka merencanakannya dua minggu lagi dan berita tersebut tentunya sudah terdengar oleh para kerabat, sahabat, dan juga teman-teman mereka termasuk juga Renata dan Vina.
Vina saat itu menjadi uring-uringan sendiri, ia merasa tidak rela dan ikhlas karena pria yang diidam-idamkannya dari dulu akhirnya akan menjadi milik orang lain seutuhnya. Sudah tidak ada harapan baginya untuk mendekati Nico, dia benar-benar marah dan tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Kak, udah dong … ngapain juga sih Kakak marah-marah mulu dari tadi, aku pusing nih dengarnya," hardik Renata.
"Ya gimana coba aku nggak marah, nggak uring-uringan dengar kabar pria yang aku cintai sebentar lagi akan menikah sama wanita lain. Gimana kalau kamu yang dengar Raka mau menikah dengan wanita lain? Apa kamu akan diam aja gitu," kata Vina.
"Ya aku nggak rela sih, tapi kalau memang itu udah pilihannya Kak Raka, mau gimana lagi," kata Renata menjawab apa adanya. Tentu saja hal itu membuat Vina menjadi bingung.
"Aku nggak habis pikir ya sama kamu, padahal selama ini kamu yang selalu memberikan aku masukan untuk selalu semangat mengejar Nico, tapi kenapa jadi kamu sendiri yang pasrah kayak gini coba. Itu apa? Pakai trik ngedeketin Raka dengan cara baik-baik, dengan lemah lembut, sekarang kamu juga bilang rela kalau misalnya Raka menikah dengan orang lain. Gimana sih kamu? Kayaknya kamu benar-benar termakan hasutan Thalita itu ya," kata Vina dengan emosi sembari menatap tajam mata adiknya itu.
Ya memang seperti itulah kenyataannya saat ini, Vina yang dulunya adalah wanita yang selalu berpikiran positif dan tidak pernah berniat membuat kecurangan-kecurangan, menjadi jahat karena hasutan dari adiknya. Tetapi di saat ini Vina benar-benar ingin mendapatkan Nico kembali dan menghalalkan segala cara, berbeda dengan Renata yang malah berbuat sebaliknya untuk mendapatkan hati sang pujaan hati.
"Kak, bukan seperti itu maksud aku. Tapi kita kan mempunyai cara yang berbeda. Aku udah ngelakuin semua cara yang aku saranin untuk Kakak tapi semuanya gagal. Aku udah lelah Kak, jadi apa salahnya kalau aku ikutin saran dari orang lain. Ya meskipun dengan apa yang aku lakukan sekarang belum membuat Kak Raka memberi keputusan untuk menerima cinta aku, tetapi responnya yang sangat baik aja udah buat aku senang Kak. Awalnya aku hanya berpura-pura baik, tapi lama kelamaan aku semakin nyaman sama diri aku yang sekarang Kak. Dan sekarang aku sadar, kalau ternyata cinta itu memang nggak bisa dipaksakan. Bisa dekat dengan Kak Raka aja udah buat aku bahagia," ungkap Renata.
"Ah terserah kamu aja lah. Kamu tuh memang udah nggak sejalan lagi sekarang sama Kakak. Mendingan sekarang kamu pergi aja deh dari sini, Kakak bisa sendiri kok. Kamu enggak perlu nemenin Kakak," kata Vina.
"Ya udah kalau memang itu maunya Kakak, tapi kalau Kakak butuh teman, ingat hubungin aku Kak. Dan satu lagi aku ingatkan sama Kakak, jangan pernah melakukan hal yang negatif lagi karena itu semua akan sia-sia," ucap Renata.
Vina sama sekali tidak lagi menggubris perkataan adiknya itu. Rasanya ia semakin kesal saja dan sangat tidak menyangka jika Renata benar-benar berubah menjadi orang yang baik.
Lalu Renata pun pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan Vina sendirian. Sedangkan Vina saat ini masih memikirkan suatu cara untuk menggagalkan pernikahan Nico dan Alexa. Dia benar-benar tidak rela rasanya, dia bisa gila jika melihat Alexa dan Nico bersanding di pelaminan.
*****
"Sudah mulai ada titik terangnya Pak, Bapak bersabar ya sebentar lagi," jawab Bagas.
"Syukurlah. Ya semoga saja, saya sangat berharap bisa bebas di saat pernikahan Alexa dan Nico nanti. Saya tidak mau jika Alexa akan merasa sangat sedih karena di hari bahagianya tidak ada ayah yang mendampinginya," ucap Andreas.
"Iya pak, kami sedang berusaha keras agar Bapak bisa segera bebas. Saya juga berharap bisa pergi ke Jakarta menyaksikan pernikahan Alexa dan Nico bersama dengan Bapak. Bagaimanapun juga saya kan sudah menganggap Alexa itu sebagai adik saya dan Bapak adalah orang tua saya," ucap Bagas yang membuat Andreas begitu senang mendengarnya, meskipun kata-kata ini sudah ia dengar berulang kali.
"Bagas, saya tidak tau lagi harus berkata apa sama kamu. Yang jelas kamu itu adalah orang terdekat saya selain Alexa dan Pak Yanto, kamu benar-benar sangat berjasa buat saya. Padahal kamu sama sekali nggak ada hubungan darah sama saya, tapi kamu malah dengan ikhlas melakukan ini semuanya buat saya. Saya juga sudah menganggap kamu seperti anak saya sendiri, ditambah lagi anak saya yang laki-laki sudah lama hilang dan saat ini belum juga ditemukan. Saya sudah meminta orang suruhan saya untuk mencari jejak anak saya itu, tetapi sampai sekarang belum ada kabarnya, bahkan saya sekarang sudah sangat putus asa. Saya cuma berharap semoga anak laki-laki saya itu akan selalu hidup bahagia serta hidup berkecukupan. Begitu juga doa saya untuk Alexa, anak perempuan saya satu-satunya," ucap Andreas yang begitu tulus.
"Aamin … iya Pak, mudah-mudahan Bapak cepat bertemu ya dengan anak laki-laki Bapak. Saya juga selalu berdoa untuk kebahagiaan Alexa dan juga Bapak. Saya senang karena bisa kenal dengan Bapak dan Alexa sebagai keluarga saya. Karena saya sendiri tidak tahu dimana keluarga kandung saya, sejak kecil saya dibesarkan di Panti Asuhan hingga saatnya saya keluar dari Panti dan Bapak lah Yang memungut saya dan memberi saya pekerjaan, hingga saya bisa jadi seperti ini Pak," ucap Bagas.
Rasanya tidak ada habisnya jika Bagas dan Andreas membahas tentang masa lalu dan kedekatan mereka yang memang sudah seperti anak dan bapak itu.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Yuk guys mampir di karya temen otor...
Judul karya : Aku Yang Kaubuang
Nama Author : Ayuza