
"Arya!" Panggil Alexa saat melihat Arya yang baru saja keluar dari mobil bersamaan dengan dirinya dan Dokter Nico.
"Alexa? Pagi Alexa, pagi Dokter Nico," ucap Arya yang menghampiri mereka.
"Iya pagi," jawab Nico.
"Pagi Ar, kamu udah sarapan belum?" Tanya Alexa.
"Belum, kenapa Lex?" Tanya Arya.
"Nih aku bawain sarapan buat kamu," kata Alexa.
"Sarapan? Tumben banget," kata Arya, dia juga melirik wajah Nico yang sepertinya tidak keberatan saat Alexa memberikannya sarapan, berbeda dengan biasanya.
"Nih ambil nasi gorengnya," kata Alexa sembari menyodorkan sarapan tersebut.
"Dalam rangka apa Lex kamu kasih aku nasi goreng?" Tanya Arya.
"Udah ambil aja, banyak nanya banget sih. Kalau nggak mau biar dikasihkan ke orang lain," kata Nico.
"Jangan gitu dong Dok, saya mau dong," kata Arya lalu mengambil bungkusan nasi goreng tersebut dari tangan Alexa.
"Nggak dalam rangka apa-apa, kebetulan hari ini aku lagi semangat aja bikin nasi goreng, jadinya kebanyakan deh, makanya aku bawain aja buat kamu," kata Alexa.
"Oh jadi karena kelebihan, kirain memang sengaja kamu buatin sarapan buat aku," kata Arya.
"Iya karena kelebihan," jawab Alexa tersenyum.
"Mengharap banget ya Alexa buatin sarapan buat kamu?" Tanya Nico.
"Ya nggak juga sih Dok, tapi alhamdulillah banget deh dikasih sarapan kayak gini. jarang-jarang dapat sarapan dari Alexa, gratis," kata Arya yang begitu senang.
"Ya udah yuk Sayang kita masuk aja," ajak Nico.
"Yuk Kak," jawab Alexa. "Yuk Ar sekalian."ajaknya.
Arya mengangguk, lalu mereka bertiga pun beriringan masuk ke dalam rumah sakit
*****
"Kenapa kamu Ka? Aku perhatiin dari tadi kamu diam-diam aja," tanya Dion kepada Raka.
"Nggak kenapa-napa kok," jawab Raka.
"Ah masa, gak usah bohong deh. Kayak baru kenal satu dua hari aja sama aku, aku tuh tau banget lah kalau kamu lagi diem kayak gini, pasti lagi ada yang dipikirin kan," kata Dion.
"Iya-iya emang lagi ada yang aku pikirin," jawab Raka.
"Akhirnya mengakui juga, lagi mikirin apa sih Dokter Raka, kayaknya semenjak kepulangan Dokter dari Jakarta jadi galau," goda Dion.
"Apaan sih, siapa juga yang galau karena Renata," bantah Raka.
"Siapa juga yang bilang Renata? Perasaan aku nggak ada nyebut Renata," kata Dion.
"Memang nggak ada nyebut, tapi yang dimaksud Dokter dari Jakarta siapa lagi Yon kalau bukan Renata," kata Raka.
"Iya juga sih, siapa lagi kalau bukan dia," kata Dion.
Raka terdiam dan kembali dengan aktivitasnya. Saat ini, mereka sedang berada di ruang laboratorium.
"Udah lah Ka kalau mau cerita ya cerita aja, nggak usah disimpan sendirian. Kalau ada masalah itu di ungkapin, nggak baik loh dipendam sendiri," kata Dion yang membuat Raka menghentikan aktivitasnya.
"Enggak tau lah, orang kamu juga belum cerita," kata Dion.
"Dia bilang, kalau aku nggak mau terima cintanya, dia ngancam bakalan berbuat macam-macam sama Alexa. Dia tau keberadaan Alexa ada dimana saat ini, dia tau kalau Alexa kerja di Rumah Sakit Hospital Hutama," kata Raka.
"Maksa banget ya, sampai ngancam mau macam-macam sama wanita yang jelas-jelas kamu cinta," kata Dion.
"Ya itu dia Yon, aku harus kayak gimana coba sekarang? Masa iya aku harus nerima Renata sementara aku nggak cinta sama dia, tapi aku juga nggak mau kalau Alexa sampai kenapa-napa, kalau sampai Alexa celaka gara-gara aku," kata Raka.
"Alexa itu di sana punya Nico, Nico itu sayang banget sama dia dan udah pasti akan melindungi Alexa. Ada Arya juga kan sebagai sahabatnya Alexa yang selalu menjaganya, jadi kamu tenang aja lah Alexa enggak bakalan kenapa-napa kok. Lagipula Alexa itu bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik, nggak mungkin lah hanya gara-gara seorang Renata dia bakalan celaka," kata Dion.
"Dion, namanya orang jahat itu tuh bisa berbuat nekat, apapun bisa dia lakukan, dia nggak bakalan mikirin gimana kedepannya nanti, yang penting apapun yang mereka inginkan itu bisa tercapai," kata Raka.
"Jadi kamu maunya kayak gimana sekarang Ka?" Tanya Dion.
"Entahlah, aku bingung. Tapi aku juga nggak mungkin nerima Renata, aku sama sekali nggak respect sama Renata apalagi sama sifat jahatnya itu, ditambah lagi sekarang dia ngancam bakalan nyakitin Alexa, gimana coba hati aku mau tersentuh sama dia, yang ada makin benci iya," kata Raka.
"Nggak boleh benci-benci, nanti dari benci bisa jadi cinta loh," kata Dion. "Lagian kenapa nggak kamu coba aja sih terima Renata, terus kamu bimbing dia buat menjadi wanita yang baik. Aku yakin kok, kalau kamu bisa memberikan cinta yang tulus untuk Renata, Renata pasti bakalan berubah dan gak jahat lagi sama Alexa," kata Dion.
"Kata-kata kamu ini mirip banget sama Lita, pasti kamu copy paste ucapan Lita kan? Soalnya yang aku tau kamu tuh nggak sebijak ini, kalau Lita aku percaya," kata Raka.
"Enak aja, kan kita berdua memang sehati. Jadi wajar aja kali kalau kata-kata kita berdua ini sama," kata Dion yang tidak terima dengan tuduhan sahabatnya itu.
"Tau ah, kalau buat nerima Renata kayaknya sulit banget buat aku Yon. Tapi nanti deh aku pikirin lagi. Kalaupun iya aku terima Renata, itu semua demi Alexa, hanya semata-mata demi Alexa bukan karena aku benar-benar menyukai Renata," kata Raka.
"Ya dicoba aja dulu, siapa tau awalnya dari coba-coba, lama-lama kamu beneran suka sama dia," kata Dion.
"Udahlah gak usah bahas dia lagi, mendingan siapin aja kerjaan kita," kata Raka.
"Oke," jawab Dion.
*****
"Kak hari ini aku lembur aja ya," pinta Alexa.
"Enggak, kamu pulang aja istirahat. Hari ini kan udah ada aku sama Arya yang lembur," kata Nico.
"Tapi aku pengen lembur, aku pengen temenin Kakak, atau enggak aku nggak lembur tapi aku temenin Kakak lembur aja gimana?" kata Alexa.
"Enggak, aku itu nggak lemburin kamu karena aku mau kamu istirahat di rumah," kata Nico.
"Iya-iya, ya udah deh kalau gitu aku pulang. Kakak semangat ya lemburnya. Jangan lama-lama pulangnya, nanti aku kangen," kata Alexa menggoda.
Cup …
Alexa juga memberikan kecupan hangat di pipi Nico yang membuat Nico itu merasakan hatinya berbunga-bunga. Dia juga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera membalas kecupan yang diberi oleh sang kekasih, akan tetapi bukan di pipi melainkan di bibir Alexa yang selalu membuatnya candu.
.
.
.
.
.
Bersambung.....