Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-105


Masih dalam keadaan tercengang, Alexa menatap lekat wajah sang kekasih yang saat itu juga sedang menatap matanya. Alexa mencoba mencari kebohongan dari mata kekasihnya itu, akan tetapi ia tidak menemukannya. Karena dari tatapan mata tersebut, Alexa dapat melihat jika Nico sangatlah serius mengajaknya untuk menikah. Tapi kenapa mendadak sekali? Itulah yang ada di pikiran Alexa saat ini. Tatapannya sekarang berubah seakan meminta penjelasan dari Nico. Nico yang mengerti akan hal itu pun segera saja menyampaikan maksud dari ucapannya tadi.


Sayang, maaf aku udah buat kamu bingung karena tiba-tiba ngajakin kamu nikah dalam keadaan seperti ini, aku juga mengerti keadaan kamu. Kamu pernah bilang kalau akan menikah setelah masa magang kamu berakhir, itu berarti masih kurang lebih satu tahun lagi lamanya. Dan yang paling terpenting, kamu ingin menikah didampingi oleh Papa kamu, sedangkan Papa kamu saat ini belum bebas. Tapi apakah aku salah jika ingin menikah karena keinginan dari Bunda?" kata Nico.


"Keinginan Bunda? Maksud Kakak?" Tanya Alexa yang tak mengerti.


"Iya Sayang, tadi malam Bunda bilang sama aku kalau umurnya udah nggak lama lagi, dia akan segera pergi dan ingin melihat kita menikah," jawab Nico, ia menjelaskan kepada Alexa tentang pembicaraannya tadi malam dengan sang ibu.


Alexa tampak terdiam dan tertunduk, hatinya mendadak pilu karena tidak bisa menuruti permintaan Anggi. Walaupun sebenarnya menikah juga bukan masalah bagi Alexa, terlebih lagi ia akan menikah dengan orang yang dicintainya, sama halnya dengan yang dipikirkan oleh Nico. Akan tetapi apa yang dibilang sama Nico tadi juga benar, bahwa ia ingin sekali menikah dengan didampingi oleh ayahnya dan juga akan berperan sebagai wali nikah. Apalagi saat ini dia sudah tidak memiliki orang tua kecuali ayah satu-satunya. Bagaimanapun juga Alexa sangat menginginkan hal itu, sama seperti yang diinginkan oleh gadis-gadis lainnya.


"Kak maafin aku ya, aku gak bermaksud buat nolak keinginan Bunda untuk menikah sama kamu. Kakak sendiri tau kan kalau aku cinta sama kamu, aku juga mau nikah sama kamu Kak. Tapi seperti yang Kakak bilang tadi, aku mau ada Papa Kak di saat aku nikah nanti, aku mau Papa yang jadi wali nikah Aku" kata Alexa.


Nico sudah tahu jika jawaban Alexa pasti akan seperti itu. Saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, menurutnya akan sangat egois jika harus memaksa Alexa untuk menikah dengannya.


"Kak aku minta maaf ya. Aku juga ngerti kok kenapa Bunda punya keinginan seperti itu, tapi-" ucapan Alexa terhenti karena tiba-tiba Nico menutup bibirnya dengan jari telunjuk.


"Hust … udah ya, kamu nggak perlu jelasin apapun lagi sama aku. Aku ngerti kok, aku yang harusnya minta maaf karena udah memaksa kamu," kata Nico.


Kini keduanya tampak terdiam dan merasa canggung, hingga keheningan itu pun berakhir karena ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Nico.


"Kak mendingan dibuka aja deh dulu pintunya," kata Alexa.


"Tapi ntar kalau orang itu curiga gimana? Kan kita di dalam ruangan ini berdua dalam keadaan pintu terkunci," kata Nico.


"Oh iya juga ya Kak, kenapa aku gak kepikiran ya," kata Alexa yang sama sekali tak kepikiran akan hal itu. Memang otaknya terasa nge-blank sejak Nico tadi mengajaknya untuk menikah.


Kalau gitu biar aku cek aja ya dulu aja ya itu siapa," kata Nico.


"Ya udah Kak, atau lebih baik aku ngumpet aja ya dulu di kamar Kakak," kata Alexa.


"Boleh juga, ya udah kamu masuk dulu baru aku buka pintunya," kata Nico.


Lalu Alexa pun bergegas menuju ke kamar yang ada di ruangan tersebut, sedangkan Nico bergegas membukakan pintu ruangannya yang ternyata adalah Arya yang mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Pagi Dokter Nico," ucap Arya.


"Iya pagi," balas Nico.


"Dokter ada liat Alexa nggak ya? Soalnya tadi saya cariin dia di ruangan nggak ada, tapi kata dokter Anita tadi udah lihat Alexa datang ke rumah sakit," Tanya Arya.


"Oh … Alexa, tadi saya juga liat. Mungkin lagi di toilet," jawab Nico asal.


"Oh … gitu, ya udah kalau gitu saya permisi ya Dok," ucap Arya.


"Oh ya Dokter Arya, kamu langsung ke ruangan Anggrek aja ya, lanjutkan pemeriksaan semalam. Karena jadwal operasinya sudah dekat," perintah Nico, ia sengaja menyuruh Arya mendadak pergi ke ruangan tersebut agar Alexa bisa keluar dari ruangannya.


"Iya benar," jawab Nico.


"Tapi bukannya itu pasien Alexa ya Dok?" Tanya Arya yang kebingungan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Padahal sudah jelas-jelas Nico sudah membagi tugas kepada mereka pagi ini, tapi kenapa tugasnya Alexa malah diserahkan kepadanya?


"Iya, tapi kamu sendiri kan tadi yang bilang nggak ketemu sama Alexa. Jadi saya minta tolong kamu aja yang gantiin, karena pasien itu harus segera diperiksa. Nanti tugas kamu biar gantian Alexa yang mengerjakannya," jawab Nico asal ceplos, karena itu yang terlintas di pikirannya saat ini.


"Oh … gitu. Baik Dok, saya permisi dulu ya," ucap Arya.


"Ya silahkan! Nanti biar saya aja yang cari Alexa dan kasih tau ke dia," ucap Nico.


"Baik Dok," jawab Arya, lalu ia pun bergegas pergi meninggalkan ruangan Dokter Kepala dan segera melakukan tugas yang baru saja diperintah oleh Dokter seniornya itu.


*****


Meskipun sudah enam bulan berlalu, tetapi entah kenapa Raka masih saja kepikiran dengan kata-kata yang diucapkan oleh Renata kepadanya tentang Alexa yang memanfaatkannya waktu itu. Seharusnya Raka sadar jika Alexa itu memang sama sekali tidak akan pernah menjadi miliknya. Terlebih lagi saat ini Raka sudah jarang menghubungi Alexa, karena Alexa yang sangat sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit dan juga harus mengurusi ibu dari kekasihnya itu, membuat Alexa sama sekali sempat untuk membalas chat apalagi mengangkat telepon darinya. Ditambah lagi Alexa juga selalu bersama dengan Nico, kekasihnya.


Raka sudah berusaha untuk melupakan Alexa, mencoba membuka hatinya untuk Renata. Tetapi tetap saja bayang-bayang Alexa selalu saja muncul dalam ingatannya. Padahal Renata akhir-akhir ini selalu bersikap baik padanya, ia tidak pernah lagi memaksa untuk Raka menerima cintanya tersebut, hanya terkadang ia tiba-tiba datang kepada Raka dan memberikan perhatiannya untuk Raka. Raka dapat melihat perubahan sikap Renata yang begitu tulus, tetapi tetap saja rasanya sangat sulit sekali untuk menerima cinta Renata.


Karena kegundahan hatinya itu, Raka pun mencoba menghubungi Dion sahabatnya untuk meminta pendapat.


"Halo," ucap Dion dari seberang telepon.


"Halo Yon, kamu sibuk nggak? Tanya Raka.


"Ya sibuk lah, lagi chat-an sama Thalita. Kenapa?" Jawab Dion dan bertanya.


"Ada yang mau aku tanyain sama kamu sekaligus minta solusi sih lebih tepatnya," kata Raka.


.


.


.


.


.


Bersambung.....