Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-16


"Ra, kamu ada liat Arya gak..?" Tanya Alexa kepada salah satu Dokter magang juga, Tara.


"Tadi sih aku liat dia dihampiri Dokter Nico, terus pergi gak tau kemana," jawab Tara.


Alexa terdiam, "Apa mungkin mereka udah pergi memeriksa pasien? Tapi ini kan baru jam 8 kurang," gumam Alexa.


Alexa berjalan ke sana ke mari mencari Nico dan Arya tetapi tidak menemukannya.


"Ada ada Dokter Nico ajak saya ke sini...? Apa mau bahas soal Alexa?" Tanya Arya. Saat ini mereka sedang berada di balkon rumah sakit.


"Menurut kamu apa sangat terlihat jelas kalau saya suka sama Alexa...?" Tanya Nico langsung.


"Kelihatan banget Dok, tapi menurut saya Alexa tidak menyadari aja kalau kita berdua suka sama dia," jawab Nico.


"Lebih baik Alexa gak tau, dia juga udah bahagia sama pasangannya," kata Nico.


"Iya Dok benar. Dok, saya tau Dokter kecewa, sama kayak saya. Tapi gak seharusnya kita menghindar kayak gini dari Alexa Dok. Sekarang ini, pasti Alexa bingung banget deh cariin kita," kata Arya.


Flashback on...


"Pagi Dok, gak bareng Alexa....?" Sapa Nico dan bertanya saat mereka bertemu di parkiran.


"Ya Pagi. Gak, mungkin dia pergi sama pacarnya," jawab Nico ketus.


"Dokter Nico, ada yang mau saya bicarakan," kata Arya.


"Ya silahkan! Ucap Nico.


"Dokter suka kan sama Alexa..?" Tanya Arya begitu saja.


"Apa maksud kamu Arya? suka apanya?" Nico mencoba mengelak.


"Udahlah Dok, sesama pria saya tau itu kok," kata Arya.


"Yang saya tau, kamu yang suka sama Alexa," ketus Nico.


"Ya memang benar, tapi harapan kita sama-sama pupus kan karena ternyata Alexa udah punya pasangan," kata Arya.


"Sok tau kamu, udah lah saya malas mau bahas dia," kata Nico lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah sakit dan di ikuti oleh Arya.


Beberapa saat kemudian, Nico menghampiri Arya di ruangannya lalu mengajaknya ke balkon rumah sakit.


Flashback off.


"Siapa yang menghindar dari Alexa? Kamu aja yang berpikir secara berlebihan. Saya cuma gak tau harus bersikap gimana saat ketemu Alexa nanti," kata Nico.


"Sama Dok, saya pikir masih ada harapan buat dapetin Alexa karena masih bersaing sama Dokter Nico, ternyata harapan itu benar-benar kandas," kata Arya.


"Udahlah, sebaiknya sekarang kita kerja. Nanti siang kita harus mengoperasi pasien di ruang 12," kata Nico.


"Baik Dok," jawab Arya lalu mereka pun turun dari balkon.


"sejujurnya aku juga masih bingung harus gimana pas ketemu Alexa nanti," gumam Arya dalam hati.


Sementara itu, Alexa yang tidak menemukan Nico dan Arya dimana pun, memutuskan untuk kembali ke ruangannya mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan.


"Aneh, mereka berdua kemana sih, kenapa coba aku di tinggal gitu aja," gumam Alexa yang tampak kebingungan.


"Arya, ya ampun kamu dari mana aja sih...? Aku dari tadi cari kamu, Dokter Nico juga gak ada di ruangannya," kata Alexa.


"Kamu cari aku sama Dokter Nico...?" Tanya Arya mengulangi perkataan Alexa tadi.


"Iya, kamu sama Dokter Nico dari mana...?" Tanya Alexa lagi.


"Gak dari mana-mana kok Lex, oh ya Dokter Nico suruh kita ke ruang Anyelir sekarang, jangan lupa nanti siang kita ada jadwal operasi," kata Arya.


"Oh... Iya udah yuk," ajak Alexa, meskipun sebenarnya ia bingung kenapa Nico tidak langsung memberitahunya, malah menyuruh Arya menyampaikan kepadanya. Ah sudahlah bukankah itu sama saja, tepisnya.


*****


Operasi bypass jantung pada penderita jantung koroner sedang berlangsung. Tampak dari wajah Nico yang panik karena terdapat masalah pada pasien tersebut, keringat bercucuran pada wajahnya selalu di sapu menggunakan tisu oleh Suster yang ikut berpartisipasi dalam operasi.


"Dok, denyut jantungnya melemah," kata Arya saat melihat angka pada layar monitor.


Nico segera melakukan pertolongan, beberapa kali ia mencoba memompa jantung pasien dengan pacemaker, akan tetapi hasilnya nihil, alat itu sama sekali tidak bisa menghasilkan dekat jantung saat ini. Hingga kondisi pasien semakin kritis dan hilang keseluruhan denyut jantungnya.


Bisa dikatakan operasi yang dilakukan saat ini gagal, tampak seluruh Dokter merasa kecewa. Akan tetap inilah takdir, hidup dan mati sudah ada yang mengaturnya.


Seketika tubuh Alexa melemah, bayangan lima tahun yang lalu saat ibu tercintanya pergi karena gagal operasi jantung, masih teringat jelas di ingatannya. Alexa yang tidak kuasa menahan tangisnya itu pun segera menghindar dari keramaian saat pintu ruang operasi di buka. Sedangkan Nico dan Arya menemui keluarga pasien.


"Ma, apa kabar? Hari ini Alexa gagal Ma dalam operasi jantung, meskipun bukan Alexa yang menangani langsung, tapi Alexa yang udah ikut andil," ucap Alexa yang kini sedang berada di atas balkon rumah sakit.


Nico yang dari tadi melihat kondisi Alexa tidak baik lalu pergi begitu saja, segera mencari Alexa dan melihat Alexa yang sedang duduk sendirian di atas balkon dengan air mata yang bercucuran. Nico melangkahkan kaki memberanikan diri mendekati Alexa.


"Alexa kamu ngapain di sini...?" Tanya Nico.


"Dokter Nico," gumam Alexa lalu berusaha menghapus air matanya.


"Gak usah di hapus, kalau mau nangis ya nangis aja," kata Nico yang melihatnya.


Alexa hanya terdiam, kini Nico telah berdiri tepat di depan Alexa.


"Kegagalan dalam operasi itu biasa, kamu yang ikut serta aja bisa kecewa apalagi aku yang menanganinya langsung. Lex, hidup dan mati seseorang bukan berada di tangan Dokter, tugas kita cuma berusaha menolong orang, tapi kalau gagal itu semua udah jalannya. Awalnya aku juga sama kok kayak kamu, marah, kecewa, tapi semakin lama aku berusaha, aku bisa ikhlas menerima dan menjalani ini semua," kata Nico.


"Aku cuma teringat sama kepergian ibu aku lima tahun yang lalu Kak, mama aku meninggal juga karena gagal operasi jantung Kak," kata Alexa. Air mata yang sudah dihapusnya kembali lolos begitu saja.


Nico menatap nanar mata Alexa, tatapannya sendu. Entah kenapa ia juga merasakan kesedihan yang dialami oleh Alexa. Nico meraih tubuh Alexa ke dalam dekapannya, Alexa yang saat ini sangat membutuhkan sandaran sama sekali tidak menolaknya.


"Nangis aja Lex sepuasnya, aku siap kok mendengar tangisan kamu. Dengan menangis, mungkin beban di hati kamu akan sedikit berkurang," kata Nico.


"Hu.. Hu.. Hu.." Alexa tidak berbicara apapun, hanya tangisan yang terdengar dari mulutnya. Tubuhnya terasa nyaman, hatinya juga kini terasa lebih tenang karena berada di pelukan Nico.


Dengan spontan Nico mengelus lembut rambut Alexa, menempatkan dagunya di atas kepala Alexa serta memeluknya dengan erat.


.


.


.


.


Bersambung.....