Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-37


Keesokan harinya, Alexa terbangun merasakan ada sesuatu yang berat telah menindih perutnya, perlahan Alexa membuka matanya itu dan melihat ke sampingnya.


"Akh …," teriak Alexa. 


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Nico yang ikut terbangun karena mendengar teriakan Alexa.


"Kak Nico," gumam Alexa.


"Iya Sayang aku Nico, memangnya siapa lagi, hantu ...?" Tanya Nico.


"Tadi malam kita jadi tidur berdua ya Kak?" Tanya Alexa.


"Ya iya lah Sayang, kamu sendiri yang setuju," jawab Nico.


Alexa terdiam, padahal dia ingat jelas bahwa tadi malam dirinya dan Nico memang tidur bersama, tidak melakukan apapun selain berpelukan, tapi kenapa rasanya mimpi?


"Maaf ya Kak, aku gak terbiasa tidur sama orang lain, cowok lagi. Jadi agak sedikit kaget aja tadi karena lupa," ucap Alexa.


"Berarti harus sering-sering dong biar kamu terbiasa," goda Nico.


"Ih Kak Nico mulai deh, masih pagi loh ini Kak," kata Alexa.


"He ... he ... he... ya udah Sayang, aku pulang dulu ya mau mandi," kata Nico.


"Iya Kak, aku juga mau mandi," kata Alexa.


"Nanti kita sarapan terus pergi kerja bareng ya," kata Nico lagi.


"Iya Sayang, ya udah sana gih mandi, entar kesiangan loh," ucap Alexa.


"Oke Sayang," jawab Nico sembari mencium sekilas bibir Alexa. Sedangkan Alexa hanya tersenyum saja mendapat perlakuan itu dari sang kekasih.


Lalu Nico pun kembali ke apartemennya dan Alexa juga beranjak dari tempat tidurnya untuk segera mandi dan bersiap-siap.


*****


Brak ...


Arya dan Maya saling bertabrakan karena sama-sama terburu-buru.


"Aw," rintih keduanya. Peralatan medis yang sedang di bawa oleh Maya terjatuh di lantai, begitu juga dengan file yang dibawa oleh Arya, semuanya bertebaran di atas lantai.


"Maaf, Suster Maya gak papa kan?" Tanya Arya.


"Saya gak papa kok Dok, Dokter Arya juga gak papa Kan?" jawab Maya dan bertanya pula.


"Iya, saya juga gak papa kok Sus," jawab Arya.


Kini mereka berdua sama-sama menunduk untuk memungut barang mereka yang berserakan di lantai itu. Saat Arya hendak membantu Maya dengan memungut jarum suntik, tanpa sengaja Maya malah memegang tangan Arya bermaksud akan mengambil jarum itu juga hingga keduanya saling bertatapan.


"Ehm, Dok maaf," ucap Maya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain karena malu.


"Iya gak papa kok," jawab Arya.


Setelah semuanya selesai, kini Arya dan Maya pun kembali dengan kesibukannya masing-masing.


Arya segera saja menemui Dokter Nico yang berada di ruangannya untuk mengantar berkas. Akan tetapi baru saja hendak mengetuk pintu, tanpa sengaja Arya mendengar senda gurau antara Alexa dan Nico yang membuatnya mengurungkan niatnya dulu.


Memang Arya sudah merelakan hubungan antara Alexa dan Nico. Tapi entah kenapa rasanya kadang terasa sakit jika mendengar atau melihat langsung keduanya sedang bersenda gurau apalagi bermesraan.


Arya pun melangkahkan kakinya berniat akan kembali ruangannya.


*****


"Kak cepat kasih tau aku, tadi malam Kakak sama siapa?" Tanya Renata.


Dari tadi malam Renata terus saja mendesak menanyakan soal itu tetapi Vina bilang dia mengantuk dan akan memberitahunya pagi hari, akan tetapi sampai siang pun Vina belum juga memberitahunya sehingga membuat Renata semakin penasaran. Saat ini, Vina malah terlihat sangat sibuk dengan ponselnya sambil kadang-kadang senyum-senyum sendirian.


"Kak, jawab dong pertanyaan aku," pinta Renata.


"Ih Kakak, oke jadi Kakak sekarang main rahasia-rahasiaan ya sama aku," kata Renata sembari mengerucutkan bibirnya.


Vina yang melihat adiknya itu cemberut merasa jadi tidak enak hati, lebih baik ia menceritakannya kepada adiknya. Toh tidak ada salahnya kan? Selama ini dia juga selalu terbuka dengan Renata.


"Iya-iya Kakak cerita deh," kata Vina.


Dalam hati Renata merasa sangat puas karena senjata pamungkasnya itu berhasil menarik simpatik Vina. Memang Vina paling tidak bisa jika melihat adik semata wayangnya ngambek atau marah padanya.


"Jadi dia itu tetangga kita di sebelah dek," kata Vina.


"Loh bukannya tetangga kita di sebelah itu cewek ya," kata Renata.


"Ya udah gak ada Dek, cowok ini namanya Bagas dan baru enam bulan dia tinggal di apartemen sebelah," jelas Vina.


"Oh ... tapi kok bisa sih Kakak langsung akrab gitu aja sama dia? Langsung dinner bareng lagi. Kakak gak takut apa kalau dia bukan orang baik?" Tanya Vina.


"Kalau masalah itu, Kakak yakin kok kalau dia orang baik. Ini semua itu berawal dari kesalahpahaman," kata Vina. Renata melirik seakan menanyakan apa yang di maksud dengan kesalahpahaman itu, lalu segera saja Vina pun menceritakannya.


"Ha ... ha ... ha ... Kakak sih main makan makanan orang aja," ledek Renata dengan tawanya.


"Ya mana Kakak tau kalau itu makanan salah alamat, kebetulan lagi laper ya Kakak makan langsung lah. Kakak pikir kan kamu yang ngirim buat Kakak," terang Vina.


"Aku beli makanan buat Kakak tapi tuh gak Kakak sentuh," kata Renata sembari menunjuk makanan di atas meja dengan muncungnya.


"Maaf ya deh, Kakak memang kenyang banget Dek," ucap Vina.


"Iya Kak, aku juga yang salah gak pakai nanya dulu. Kirain Kakak aku ini kelaparan nungguin aku, eh ternyata ...," ucap Renata.


"Dari kamu pergi aja Kakak udah ngerasa laper banget Dek, makanya terjadi tragedi salah makan pesenan orang," ungkap Vina.


"Kebetulan juga makanan itu makanan favorit Kakak lagi kan, sepertinya semua itu memang takdir buat Kakak deh, seperti udah di setting gitu Kak," kata Renata.


"Hm ... mungkin," jawab Vina.


"Cakep gak Kak?" Tanya Renata.


"Hm ... cakep sih," jawab Vina.


"Cakep mana sama Dokter Nico, hayo ... jangan-jangan Kakak langsung move on dari Dokter tampan beralih menjadi CEO tampan," ledek Renata.


"Apaan sih Dek, ya enggak lah. Dari dulu tetap Nico my prince. Lagian Kakak sama Bagas juga baru kenal, jadi mana mungkin Kakak langsung suka sama dia Dek, kita cuma temenan kok. Lagian bagus dong, Kakak jadi ada temennya di saat kamu lagi sibuk sama urusan kamu sendiri," kata Vina.


"Cieh ... Kak Vina ngambek, maaf ya Kak urusan aku ya cuma Raka aja Kak yang belum kelar dari dulu," ucap Renata.


"Kamu yang yang sabar ya Dek, pepet terus. Dia bakalan nyesal kalau nolak adik Kakak yang cantik ini," ucap Vina.


"Iya Kak, aku juga gak bakalan menyerah kok Kak," kata Renata.


"Good! Ya udah Kakak mau siap-siap dulu ya," kata Vina sembari beranjak dari kasur.


"Mau kemana Kak?" Tanya Renata.


"Jalan-jalan dong keliling Jogja," jawab Vina.


.


.


.


.


.


Bersambung.....