Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-63


Alexa begitu geram melihat sifat angkuh yang ditunjukkan oleh Vina kepadanya. Saat ini, ingin rasanya Alexa menjambak rambut Vina itu, akan tetapi ia hanya bisa sabar karena ini semua adalah demi Bagas.


"Dokter Vina yang baik hati, tentu ini semua adalah urusan saya. Saya tidak mau orang yang sudah saya anggap sebagai keluarga akan terluka nantinya," kata Alexa dengan suaranya yang lemah dan lembut, beharap Vina akan mengerti akan maksudnya itu.


"Kamu begitu menyayangi Bagas …?" Tanya Vina.


"Ya, tapi hanya sebagai seorang Kakak aja," jawab Vina.


"Kalau gitu aku punya penawaran khusus untuk kamu," kata Vina.


"Penawaran khusus …? Penawaran khusus apa?" Tanya Alexa yang tidak mengerti akan maksud dari Vina itu.


"Tinggalkan Nico, maka aku tidak akan pernah menyakiti Bagas. Karena untuk saat ini percuma kalau aku menjauhi Bagas, Bagas tidak mungkin mau menjauh dariku, yang aku lihat dia sangat menyukaiku," kata Vina dengan percaya diri.


Alexa mengepal erat kedua tangannya, "Apa-apaan sih ini cewek, sok ngasih aku penawaran, memangnya kamu siapa?" batin Alexa sembari menahan emosinya.


"Sepertinya ngomong sama Dokter Vina itu hanya membuang waktu saya aja ya. Dokter Vina camkan ini ya, saya tidak akan pernah melepaskan Dokter Nico apalagi hanya untuk Dokter Vina. Tapi itu bukan berarti saya membiarkan Dokter Vina menyakiti Mas Bagas, oh tentu aja enggak, saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Satu hal yang perlu saya ingatkan kepada Dokter Vina, Dokter Vina akan menyesal jika nantinya Dokter menyakiti hati Mas Bagas, karena orang baik seperti Mas Bagas tidak akan pernah Dokter Vina temui dimanapun," kata Alexa lalu pergi meninggalkan ruangan Vina.


Hal yang baru saja Alexa lakukan berhasil membuat Vina terdiam dan tercengang. Benar kata Alexa jika Bagas itu memang orang baik, Vina juga awalnya tidak ada niat untuk menyakiti Bagas, akan tetapi karena dendamnya kepada Alexa yang dianggapnya telah merebut Nico darinya, membuatnya ingin mempermainkan Bagas agar Alexa ikut merasakan sakit hati.


"Akh ...!" teriak Vina sembari mengacak-acak perkakas di atas meja-nya. Beraninya dia mengancamku, emang kamu siapa? Alexa, liat aja kamu, aku pastiin kamu akan hancur," gumam Vina sambil mengeratkan gigi-gigi kecil miliknya.


Drt … drt … drt … drt …


Ponsel Vina tiba-tiba bergetar, ada panggilan telepon dari seorang pria yang baru saja tadi ia bahas bersama Alexa. Vina mengatur nafas dan menstabilkan emosinya lalu menjawab telepon tersebut.


"Halo," ucap Vina.


"Halo juga, selamat siang menjelang sore Dokter Vina," ucap Bagas dari sebrang telepon.


"Iya Selamat sore juga, kamu ada apa nelpon aku Bagas?" Tanya Vina.


"Kamu masih sibuk nggak, atau udah mau pulang?" Tanya Bagas.


"Bentar lagi pulang," jawab Vina. "Ada apa?" Tanyanya.


"Gini, sekarang kan aku masih ada di Jakarta. Mau nggak kamu temenin aku jalan-jalan? Aku pengen ketemu sama kamu dan ada yang mau aku omongin juga," kata Bagas menyampaikan tujuannya menelpon Vina.


"Kenapa kamu belum balik ke Jakarta? Bukannya kamu bilang cuma satu hari ya?" Tanya Vina.


"Iya belum, aku masih ada urusan di Jakarta," jawab Bagas.


"Oh … kalau gitu ya udah, kita ketemu nanti malam gimana?" Ujar Vina.


"Boleh, ya udah nanti malam aku jemput kamu ya," kata Bagas.


"Oke aku tunggu," jawab Vina.


"Oke, bye … sampai ketemu nanti malam," ucap Bagas.


"Bye …," ucap Vina pula.


Lalu panggilan telepon terputus.


*****


"Nah, itu dia Alexa Dok," kata Arya sembari menunjuk ke arah Alexa saat dia sedang berjalan berdua dengan Nico yang sedari tadi juga mencari keberadaan Alexa.


Nico memutar kepalanya menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Arya. Benar saja, ia melihat Alexa dengan ekspresi wajah kesalnya.


"Alexa!" Panggil Arya.


Alexa yang mendengar namanya dipanggil langsung saja menoleh ke arah sumber suara. Langkahnya terhenti, Nico dan Arya pun segera menghampirinya.


"Sayang, kamu dari mana aja sih?" Tanya Nico.


"A-a-aku dari … dari toilet, ya dari toilet," jawab Alexa gugup.


Nico membungkukkan tubuhnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Alexa dengan tatapan yang tajam, menandakan bahwa ia tidak percaya dan curiga terhadap Alexa.


"Jujur kamu dari mana?" Tanya Nico.


"Aku udah jujur Kak, aku memang dari toilet," jawab Alexa.


Lalu Nico pun kembali pada posisinya dengan berdiri tegak.


"Ya udah, kalian berdua ikut saya sekarang ke ruangan Anyelir," ajak Nico. Lalu Alexa dan Arya pun mengikuti Dokter Nico.


"Memang kalian udah nyariin aku ke mana aja Ar?" Tanya Alexa saat mereka masih melangkahkan kaki menuju ke ruang Anyelir.


"Cari sekitaran sini aja sih, kita juga nggak ada ke toilet," jawab Arya.


"Oh …," ucap Alexa.


Lalu mereka pun tiba di ruangan Anyelir dan langsung memeriksa pasien.


*****


"Sayang, kamu kenapa? Aku tau ada yang lagi kamu sembunyiin kan dari aku?" Tanya Nico saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Aku nggak papa Kak, aku cuma kecapean aja," jawab Alexa beralasan. Ia tidak mungkin memberitahu Nico tentang percakapannya dengan Vina tadi, ia yakin Nico akan marah jika tahu Vina memintanya untuk meninggalkan Nico.


"Maafin aku Kak, mungkin lebih baik aku nggak cerita sama Kakak," Gumam Alexa dalam hati.


"Ya udah kalau kamu memang nggak kenapa-napa, syukurlah. Kamu mau makan malam apa? Mau makan di luar atau aku masakin?" ucap Nico dan bertanya.


"Terserah Kakak aja deh, kalau mau makan di luar boleh, mau Kakak masakin juga boleh," jawab Alexa.


"Kalau gitu mumpung masih sore kita belanja bahan-bahan masakan dulu ya, nanti biar aku aja yang masak," kata Nico.


"Iya Kak boleh," jawab Alexa.


Lalu mereka pun pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan dan setelah itu mereka pulang ke apartemen.


Setibanya di apartemen, Alexa dan Nico melihat Bagas yang sedang berdiri di depan apartemen mereka sedang mondar-mandir kebingungan.


"Mas Bagas!" Panggil Alexa, lalu ia dan Nico berjalan menghampiri Bagas.


"Alexa, akhirnya kamu pulang juga, tadi aku barusan aja ke rumah sakit tapi nggak ada kalian. Mas juga hubungin kamu tapi hp kamu nggak aktif, aku coba hubungi Nico juga nggak diangkat," kata Bagas yang terlihat sangat panik.


"Oh ya maaf, HP saya di silent," ucap Nico setelah melihat ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab.


"HP aku lowbat, ada apa Mas?" Tanya Alexa yang kini pun ikut-ikutan panik karena melihat wajah panik Bagas.


"Papa kamu masuk rumah sakit Lex, kita harus pulang ke Jogja sekarang," kata Bagas.


"Apa?" Alexa terkejut mendengar kan hal itu, ia pun kini menjadi sangat khawatir dan menangis sejadi-jadinya.


.


.


.


.


.


Bersambung....