Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-114


Hari ini Vina merasakan tubuhnya begitu gemetar, mungkin karena semalaman ia tidak dapat tidur dan juga tidak berselera untuk makan setelah mendengar kabar berita pernikahan Nico dan Alexa. Ia pun memilih untuk segera pulang dari rumah sakit agar dapat beristirahat di rumah.


Setibanya di rumah, setelah meminum obat Vina langsung saja merebahkan tubuhnya di atas kasur. Akan tetapi setelah melewati beberapa jam kemudian, rasanya tubuhnya itu semakin gemetar dan tubuhnya panas hingga 38° celcius. Entah apa yang ada di dalam pikiran Vina saat ini, tiba-tiba ia tersenyum karena muncul ide ingin menghubungi dan meminta tolong Nico mengobatinya. Apalagi ia tahu jika saat ini Alexa sudah pulang terlebih dahulu, sedangkan Nico masih lembur di rumah sakit. Tentu saja berita itu ia dapatkan dari mata-matanya yang berada di rumah sakit, siapa lagi kalau bukan Suster Maya.


Vina pun menekan nomor Nico yang ada pada WhatsApp-nya dan segera menghubunginya. Setelah telepon itu tersambung, Vina merasa begitu gugup, ia mempersiapkan diri untuk berakting agar Nico iba kepadanya dan mau menolongnya.


Satu kali … dua kali … dan tiga kali … Vina mencoba menghubungi Nico tetapi sama sekali tidak ada jawabannya. Entah sengaja entah memang saat ini Nico sedang sibuk. Tetapi tak membuat Vina menyerah begitu saja, ia pun berinisiatif mengirim pesan kepada Nico dan entah pesan apa yang dikirim olehnya sehingga membuat Nico menelepon Vina. Dengan sangat senang, Vina segera saja mengangkat telepon tersebut.


"Halo Dokter Nico," ucap Vina dengan suara tertatih yang dibuat-buat.


"Halo, kamu benar-benar sakit? Kalau kamu sakit kenapa kamu nggak berobat? Bukannya tadi kamu ada di rumah sakit ya, kenapa juga kamu harus minta tolong sama saya?" Tanya Nico.


"Dokter Nico, aku tahu mungkin kamu udah benci sama aku. Tapi apa kamu sama sekali nggak ada perasaan sebagai dokter untuk menolong aku yang saat ini sedang sakit, anggap aja aku bukan Vina yang ada di masa lalu kamu. Bisa kan kamu anggap aku hanya sebagai orang lain, sebagai pasien yang saat ini sangat membutuhkan dokter, aku benar-benar udah lemah, aku nggak berdaya lagi mau keluar apalagi menuju ke rumah sakit. Sekarang aku udah ada di rumah, tadi waktu di rumah sakit keadaan aku tidak separah ini, aku nggak tau kalau sekarang semakin parah. Sedangkan aku di rumah saat ini cuma sama Bibi aja. Kamu enggak perlu khawatir, kalau kamu ke sini kan kita nggak berdua, ada Bibi di sini," kata Vina.


Memang saat ini jam kerja Nico sudah berakhir, ia akan segera pulang dan segera sampai ke rumah untuk menemui ibu dan calon istrinya. Akan tetapi ia pun merasa tidak enak hati jika mengabaikan Vina begitu saja. Nico yang pada dasarnya memang pria yang baik, tidak mungkin tega mengabaikan seseorang yang membutuhkan pertolongannya, terlebih lagi ia adalah dokter, memang sudah tugasnya untuk menyembuhkan pasien. Akhirnya dengan sangat terpaksa Nico pun menyetujui permintaan Vina. Ia langsung saja menuju ke kediaman Vina yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


*****


Setibanya di rumah Vina, Nico langsung mengetuk pintu dan dengan sangat cepat sang bibi membukakan pintu untuknya. Bibi segera mengantarkan Nico ke kamar Vina yang sudah menunggunya sedari tadi, bibi juga mengatakan kepada Nico jika Vina sama sekali tidak bisa bangun karena tubuhnya begitu lemah. Akhirnya Nico pun menyetujui saja permintaan bibi dengan syarat bibi ikut ke kamar Vina dan dalam kondisi pintu kamar Vina yang dibuka.


Nico segera saja mengobati Vina dan memberikannya resep obat untuknya. Meskipun saat ini Vina sedang sakit tetapi hatinya begitu sangat tenang dan nyaman karena berada di dekat Nico. Sedangkan asisten rumah tangga itu permisi ke dapur sebentar membuatkan minuman untuk Nico.


"Kamu baik-baik saja, setelah minum obat dan istirahat kamu juga akan segera sembuh," kata Nico.


"Makasih ya Dokter Nico, aku nggak tau gimana jadinya kondisi aku kalau nggak ada Dokter," ucap Vina.


"Iya sama-sama, lagipula ini memang udah tugas saya sebagai seorang dokter," jawab Nico begitu datar tanpa memberikan senyuman sedikitpun untuk pasiennya saat ini. Akan tetapi bagi Vina Nico tetap tampan meskipun seperti itu.


Setelah mengemasi barang-barangnya, Nico segera beranjak dari kursi dan hendak melangkahkan kaki pergi meninggalkan kamar Vina tanpa berpamitan dengannya, akan tetapi tiba-tiba Vina memanggilnya hingga langkahnya itu pun terhenti.


"Dokter Nico sebentar!" Panggil Vina.


"Ada apa?" Tanya Nico ketus tanpa melihat ke arah Vina.


"Karena Dokter Nico udah menolong aku dan Dokter juga nggak mau aku bayar, bisa nggak Dokter menghargai satu aja tanda terima kasih aku, itu Bibi udah buatkan Dokter Nico minuman. Bisa kan Dokter duduk dulu dan minum," kata Vina.


Nico pun melihat segelas minuman yang memang saat itu ada di atas nampan dan baru saja dibuat oleh bibi. Karena ia menghargai bibi yang sudah membuatkannya, akhirnya Nico menyetujui untuk duduk kembali dan meminum minuman tersebut. Setelah minuman itu habis tak tersisa, Nico pun langsung saja pamit pulang kepada Bibi.


Akan tetapi saat hendak beranjak, mendadak kepalanya terasa pusing dan ia langsung ambruk begitu saja di sofa dalam keadaan tidak sadarkan diri. Vina tersenyum puas menatap sang bibi, lalu segera menjalankan semua rencananya yang telah ia atur secara matang-matang.


Dengan susah payah, Vina yang dibantu oleh pembantunya mengangkat tubuh Nico ke atas tempat tidurnya. Setelah itu Bibi pun langsung saja keluar dari kamar sesuai perintah dari Vina.


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Alexa dan Anggi tampak cemas karena sadari tadi menunggu kepulangan Nico yang belum juga menampakkan batang hidungnya. Yang membuat Alexa bertambah khawatir, Nico sama sekali tidak menjawab teleponnya, padahal Nico mengatakan jika ia akan lembur sampai jam 07.00 malam, tetapi kenapa sampai jam 09.00 malam Nico belum juga sampai ke rumah?


"Aku khawatir Bun sama Kak Nico," ucap Alexa.


"Bunda juga Sayang, tapi kita coba bersikap tenang aja ya, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Coba kamu hubungi Nico lagi," kata Anggi.


Dan pada saat Alexa hendak menghubungi Nico kembali, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di ponsel Alexa melalui WhatsApp. Alexa langsung saja membuka pesan tersebut yang isinya adalah sebuah foto yang dikirim oleh seseorang. Alexa menutup mulutnya tidak percaya dengan foto yang baru saja dilihatnya, mendadak hatinya perih dan begitu sakit melihat apa yang ada di depan matanya saat ini. Tanpa sadar air matanya pun menetes dan membuat Anggi merasa khawatir terhadap Alexa.


.


.


.


.


.


Bersambung.....