
Alexa terdiam, ia masih tidak menyangka jika orang yang telah menyakiti ibunya di waktu dulu adalah ibu dari sang kekasih yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri. Alexa bingung, tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Ingin sekali rasanya ia marah, akan tetapi rasanya itu tidak mungkin. Tetapi Alexa juga tidak dapat membohongi perasaannya sendiri bahwa saat ini ia merasa sangat kecewa. Kenapa harus Anggi ibunda dari Nico? Kenapa bukan orang lain? Kenapa orang itu adalah orang yang Alexa kenal, orang yang Alexa sayang? Alexa benar-benar bingung, berbagai pertanyaan pun muncul dalam benaknya.
Lalu Alexa memilih beranjak dari tempat duduk yang membuat Nico dan Anggi menatap ke arahnya. Terlihat juga saat itu, terdapat butiran bening yang memenuhinya mata Indah milik Alexa.
"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Nico.
"Alexa, kamu mau kemana Sayang?" Tanya Anggi pula.
"Maaf Bunda, Kak Nico, Alexa lagi pengen sendiri. Tolong jangan halangi aku," ucap Alexa.
"Tapi Sayang kamu mau ke mana? Aku khawatir kalau kamu pergi sendirian," kata Nico.
"Kak, kota ini itu tempat kelahiran aku, Kakak tenang aja, aku nggak bakalan tersesat di sini atau kenapa-napa. Dan satu lagi, Kakak dan Bunda boleh pulang duluan, jangan tungguin aku dan jangan cari aku. Kalau Kakak memang sayang sama aku, tolong turutin permintaan aku Kak," ucap Alexa.
Nico hanya bisa terdiam, sedangkan Anggi merasa sangat bersalah. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga, ini semua sangat berdampak kepada hubungan anak dan kekasihnya itu.
"Sayang, aku nggak bisa biarin kamu sendiri. Pokoknya aku mau ikut kamu," kata Nico.
"Kak tolong, aku lagi pengen sendiri. Aku juga minta tolong izinin aku satu hari lagi untuk besok gak masuk kerja. Aku janji besok akan balik ke Jakarta," kata Alexa.
Anggi memberi gestur dengan mengangguk kepada Nico agar menuruti apa yang dinginkan Alexa saat ini. Akhirnya Nico pun menyetujuinya, setelah itu Alexa segera pergi meninggalkan restauran dan meninggalkan Nico beserta ibunya itu.
*****
Alexa memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan matanya saat itu. Setelah taksi berhenti, ia langsung saja masuk ke dalam taksi dan melakukan perjalanan. Air matanya terus saja mengalir, ia sama sekali tidak bisa terima dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Mama maafin Alexa ya Ma, Mama dulu pernah terluka tapi Alexa malah menjalin hubungan dengan anak dari seorang wanita yang udah menyakiti hati Mama. Terus Alexa harus gimana sekarang Ma? Apakah hubungan percintaan Alexa harus berakhir sesingkat ini? Alexa juga nggak mau jadi orang yang egois. Tolong ajarin Alexa untuk berdamai dengan hati ini Ma," ucap Alexa dalam hati dengan linangan air matanya yang terus saja mengalir seperti air sungai.
Supir taksi yang melihatnya pun menjadi menerka-nerka di dalam hatinya, "Sepertinya Mbak ini lagi ada masalah, sedih banget."
"Mas, kita ke sel tahanan Kantor Polisi Air Raja ya," kata Alexa kepada supir taksi.
"Baik mbak!" Jawab supir. Lalu sang supir taksi pun segera melaju ke tempat tujuan yang dikatakan oleh Alexa tadi.
Setibanya di sel tahanan, Alexa langsung saja turun dan menemui Papanya. Dia langsung bercerita apa yang baru saja di alaminya itu. Andreas menghembus nafas kasar, sebenarnya ia juga ingin merahasiakan ini dari Alexa karena takut anaknya itu merasa kecewa, akan tetapi ternyata anaknya terlebih dahulu tahu meskipun tidak diberitahukan olehnya.
"Maafkan Papa ya Sayang, memang ibunya Nico udah menemui Papa waktu itu dan meminta maaf sama Papa, Bu Anggi juga menceritakan soal ini duluan sebelum kamu tau. Papa minta maaf karena tadinya Papa berencana untuk merahasiakan masalah ini dari kamu, karena Papa takut. Papa takut hal ini akan terjadi Sayang, dimana kamu akan merasa kecewa. Tapi nyatanya kamu terlebih dahulu tau tanpa Papa yang kasih tau ke kamu," ucap Andreas.
"Memang Papa nggak ngerasa marah atau kecewa sama Bu Anggi setelah Papa tau semuanya?" Tanya Alexa.
"Sebenarnya Papa juga marah dan kecewa, Papa syok Sayang. Tapi setelah Papa pikirkan lagi, itu semua juga ada hikmahnya kan? Kalau seandainya dulu Mama kamu jadi menikah dengan pria yang dibilang sama Bu Anggi itu brengsek, kamu bisa pikir gimana kondisi Mama kamu sekarang? Dan seandainya Mama kamu menikah sama pria itu, Papa nggak akan bisa menikah sama Mama kamu dan nggak akan ada kamu Sayang," kata Andreas.
"Sayang, Papa mengerti apa yang kamu rasakan. Papa juga merasakannya, tapi belajarlah berdamai dengan hati Sayang. Kalau sekarang ini kamu belum bisa menerima kenyataan, kasih waktu untuk hati kamu menenangkan diri dan memikirkan semuanya. Kamu boleh kok kecewa terhadap Bu Anggi, kamu boleh marah tapi jangan lama-lama ya Sayang, sifat pendendam itu juga tidak baik," ucap Andreas yang membuat Alexa hanya terdiam.
*****
Setelah mengunjungi Papanya di sel tahanan, Alexa pun berniat untuk pergi menemui sahabatnya, Thalita. Ia ingin rasanya mencurahkan seluruh isi hatinya itu kepada Thalita yang sudah lama tidak ia temui.
Ting … tung …
Alexa menekan bel pintu rumah Thalita, Thalita yang saat itu sedang asik menonton TV pun bergegas membukakan pintu, karena pembantu yang ada di rumahnya sedang sibuk di dapur memasak menu makan malam untuk keluarganya.
Pintu pun terbuka, Thalita sangat terkejut melihat sahabat yang sangat ia rindukan ada di depan matanya saat ini.
"Alexa? Kamu Beneran Alexa?" Tanya Thalita sembari mengucek matanya karena tidak percaya.
"Thalita …," rengek Alexa yang langsung saja menghamburkan pelukan erat di tubuh sahabatnya itu, tangisnya pun lolos begitu saja yang terdengar sangat sumbang ditelinga Thalita.
"Alexa, kamu kenapa nangis? Ayo kita masuk dulu," kata Thalita, lalu mengajak Alexa masuk ke dalam rumahnya.
Mereka berdua kini duduk di sebuah sofa panjang yang terdapat di ruang tamu rumah Thalita itu.
"Ada apa Lex? Terus kapan kamu ke Jogja? Kok nggak bilang-bilang sama aku sih. Kemarin waktu Om Andreas sakit kamu juga nggak ngabarin kan ke aku kalau kamu ke Jogja," kata Thalita.
"Iya aku minta maaf ya soal yang kemarin. Kalau untuk hari ini aku akan cerita kenapa aku bisa ada di Jogja, aku mau cerita juga apa yang buat aku sedih," kata Alexa.
Lalu Alexa pun menceritakan kepada Thalita kenapa ia bisa sampai di Jogja dan apa yang sedang dialaminya sehingga membuatnya menangis serta kecewa seperti ini. Thalita mendengarkan dengan seksama, tentu saja Thalita sangat terkejut mendengar bahwa penyebabnya itu adalah budenya sendiri, Anggi. Ia sangat kasihan dan juga prihatin dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya saat ini. Tapi untuk sekarang Thalita hanya dapat memeluk erat tubuh Alexa agar merasa lebih tenang.
.
.
.
.
.
Bersambung.....