
Alexa dan Bagas melepaskan pelukan mereka.
"Mas, kok gak bilang sih kalau kamu ke Jakarta," protes Alexa.
"Aku sengaja mau kasih kejutan buat kamu," kata Bagas.
"Jadi sekarang kamu nginap dimana Mas?" Tanya Alexa.
"Di hotel dekat sama apartemen kamu," jawab Bagas.
"Oh ya, tapi ngomong-ngomong Mas ngapain di sini...? Papa baik-baik aja kan Mas...?" Tanya Alexa.
"Alhamdulilah baik, Mas cuma mau liat kondisi kamu aja kok," jawab Bagas. Mas antar kamu pulang ya, tapi kita makan dulu," ajak Bagas.
"Boleh," jawab Alexa tersenyum. Sejenak ia melupakan Nico dan sama sekali tidak melihat Arya karena memang Arya yang bersembunyi.
"Dasar wanita murahan, padahal udah punya pasangan, tapi masih aja menggoda pria lain," gumam Vina kesal yang juga melihat Alexa bersama Bagas.
Nico mengepalkan tangannya menahan amarah, kenapa Alexa meninggalkannya begitu saja dengan pria lain, pikirnya. Sedangkan Arya pergi dengan kecewanya setelah melihat Ara berlalu dari pandangan matanya.
"Alexa, kamu pikir kamu bisa seenaknya gitu mengobrak-abrik perasaan aku. Aku gak bisa diam aja kayak gini, akh....." Teriak Nico sembari memukul stir mobilnya saat dalam perjalanan pulang.
"Eits tunggu, kenapa juga aku harus marah, memangnya dia siapa? Tapi, kenapa hati ini rasanya sakit, kecewa, apa jangan-jangan aku memang udah suka sama Alexa? Entahlah," gumam Nico lagi.
*****
Alexa dan bagas sedang berada di sebuah warung sate tepi jalan. Alexa yang meminta untuk makan malam di sana, tujuannya tentu untuk menghemat, karena saat ini Alexa harus memulai lagi hidupnya dari nol, begitu juga dengan Bagas yang sekarang ini belum mendapat pekerjaan setelah perusahaan milik ayahnya bangkrut.
"Lex, kamu yakin kita makan di sini...?" Tanya Bagas.
"Yakinlah, memang kenapa Mas...? Sekarang itu kita harus belajar hidup hemat Mas," jawab Alexa.
"Tapi Lex, Mas masih bisa kok bayarin kamu makan di restauran," kata Bagas.
"Lebih baik kamu simpan uang itu Mas, aku tau saat ini kamu juga belum ada kerjaan kan? Jadi kita sama-sama harus berhemat," kata Alexa.
"Kamu tenang aja Lex, aku masih ada uang kok," kata Bagas.
"Mas, aku tau kok kalau kamu juga ikut andil kan menyerahkan sebagian harta kamu buat papa aku," kata Alexa.
"Kamu tau dari mana Lex...?" Tanya Bagas.
"Gak penting aku tau dari mana, yang penting aku mau terimakasih sama kamu Mas karena udah nolong aku dan papa," ucap Alexa.
"Kamu gak usah sungkan sama aku Lex. Papa kamu yang udah nolong aku dari masa keterpurukan sampai aku bisa punya segalanya. Yang aku lakuin ini sama sekali gak ada apa-apanya dibandingkan kebaikan pak Andreas dan bu Delisa yang udah diberikan ke aku, aku udah menganggap kalian keluarga aku sendiri Lex. Bukankah sudah seharusnya saling membantu sesama keluarga," kata Bagas yang berhasil membuat Alexa terharu.
"Mas, aku juga udah anggap kamu kayak Kakak kandung aku sendiri. Kamu tau kan waktu kecil aku kehilangan Kakak kandung aku yang hilang entah kemana, kamu hadir membuat aku merasakan kasih sayang seorang Kakak lagi," ungkap Alexa yang tanpa sadar mengeluarkan air matanya.
"Lex, kamu kenapa jadi sedih gitu sih. Maaf ya Mas udah buat kamu nangis," ucap Bagas lalu menyapu air mata Alexa dengan jarinya.
"Aku pikir masih ada harapan karena hanya menganggap Dokter Nico saingan aku, ternyata kamu udah punya pacar Lex, gak ada harapan lagi buat aku," gumam Arya yang ternyata dari tadi mengikuti Alexa, lalu melajukan mobilnya dan pulang ke rumah.
Selesai makan, Bagas mengantar Alexa pulang ke apartemen lalu pulang ke hotel.
Saat keluar dari lift dan hendak melangkahkan kaki menuju ke apartemen, Alexa melihat Dokter Nico yang sedang berdiri di depan apartemennya.
Dengan langkah perlahan, Alexa pun mendekati Nico.
"Dari mana aja kamu...?" Tanya Nico dengan ketusnya.
"Kak, aku minta maaf ya soal tadi," ucap Alexa.
"Minta maaf kenapa...?" Tanya Nico.
"Karena tadi aku udah ninggalin Kakak gitu aja," jawab Alexa.
"Sebenarnya kamu itu anggap aku ini apa sih? Kenapa kamu bersikap sesuka hati kamu?" Tanya Nico dengan amarahnya.
"Maksud kamu...?" Tanya Alexa, ia tidak mengerti apa maksud Nico dan kenapa Nico bisa semarah itu kepadanya.
"Ah sudahlah, awas aja kalau besok sampai telat gara-gara ini, pulang kerja bukannya langsung pulang malah keluyuran, gak ada kata telat apa lagi alasannya karena tidak bisa tidur," kata Nico lalu masuk ke dalam apartemennya.
Begitupun dengan Alexa, meskipun ia masih tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Nico, ia lebih memilih diam dan masuk ke dalam apartemennya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.
"Ada apa sih sebenarnya dengan perasaan aku. Kenapa aku malah jadi keliatan kayak orang bodoh di depan Alexa? Ngapain juga aku mesti marah gak jelas kayak tadi, padahal apa pun yang di lakukan Alexa, mau punya pacar atau bahkan suami sekalipun sama sekali gak ada hubungannya sama aku," gumam Nico.
"Ini semua gara-gara adik aku, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa kayak gini sekarang, ini gak bisa di biarin," gumam Nico lagi.
Hingga pukul 3 dini hari, Nico dan Alexa sama-sama gelisah hingga tidak bisa tidur karena memikirkan satu sama lain.
*****
Keesokan hari, Bagas yang sudah berjanji akan mengantar Alexa itu sudah berada di depan apartemen. Dengan tergesa-gesa Alexa menghampiri Bagas yang berdiri dan bersandar di mobilnya itu.
"pagi Lex," sapa Bagas.
"Pagi, Mas maaf aku bangun telat, bisa kan kita langsung pergi sekarang," kata Alexa.
"Iya Lex, sekarang aku antar kamu ya," jawab Bagas. Mereka masuk ke dalam mobil lalu segera melaju ke rumah sakit.
"Makasih ya Mas, bye.." Ucap Alexa saat tiba lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Bye..." Balas Bagas sembari menatap punggung Alexa yang telah menjauh, setelah itu ia pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah mengganti pakaian dinasnya, Alexa segera menuju ke ruang Dokter Nico untuk menanyakan tugasnya hari ini, akan tetapi ia tidak melihat Nico ada di ruangannya. Setelah itu, Alexa pun langsung saja ke ruangan Dokter magang untuk menemui Arya, namun ia juga tidak melihat Arya di ruangan tersebut.
Alexa yang kebingungan itu pun memutuskan untuk bertanya kepada temannya yang ada di ruangan itu juga.
.
.
.
.
.
Bersambung.....