Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-38


"Kak Vina ... kasih tau gak," teriak Renata pula.


Tidak ada sahutan dari Vina karena ia sudah berada di dalam kamar mandi.


Ting ... tung ... suara bel apartemen terdengar, Renata pun bergegas membuka pintu untuk tamunya itu.


"Siapa ya ...?" Tanya Renata saat melihat seorang pria ada di depan apartemennya.


"Hai, aku Bagas," sapa Bagas dan memperkenalkan diri.


"Bagas?" Gumam Renata. Ia menatap Bagas dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan sinis yang membuat bulu kuduk Bagas merinding.


"Vina-nya ada?" Tanya Bagas memberanikan diri.


"Ada, lagi mandi. Tunggu aja dulu," jawab Renata dengan ketus. Tanpa mempersilahkan Bagas untuk masuk, ia kembali menutup pintu apartemen dengan kasar.


Brak ...


Bagas terkejut mendengar suara pintu terbanting, jangankan Bagas, Renata saja terkejut karena ulahnya sendiri.


"Galak banget sih, beda banget sama Kakaknya," gumam Bagas.


Renata menatap tajam Vina yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sedang bersiap-siap.


"Kenapa kamu Dek? Kok gitu sih liatin Kakak," Tanya Vina.


"Kakak ngaku, Kakak mau pergi sama si Bagas itu kan?" Tanya Renata.


"Ya memang benar," jawab Vina mengangguk dan tersenyum.


"Udah nungguin tuh di luar," kata Renata.


"Hah? Seriusan kamu Dek, duh gawat! Mana belum siap lagi," ucap Vina.


"Hm ... siapa suruh lama, atau aku bilang aja ya kalau Kakak gak jadi keluar sama dia," kata Renata.


"Eh jangan dong, suruh masuk aja dulu. Kamu temenin dia ngobrol aja sebentar, bisa kan Dek," kata Vina meminta tolong.


"Males ah," tolak Renata sembari memutar bola matanya malas.


"Dek tolong dong, kali ini aja," pinta Vina.


Akhirnya dengan sangat terpaksa Renata pun mengikuti permintaan Kakaknya itu, ia segera menyuruh Bagas masuk dan menemaninya mengobrol di ruang depan.


Suasana tampak hening dan canggung, bukan menemani Bagas mengobrol, lebih tepatnya Renata hanya menemani Bagas duduk dan asyik menonton televisi.


"Maaf, kamu adiknya Vina kan?" Tanya Bagas memecah keheningan.


"Udah tau nanya," jawab Renata ketus.


"Jutek banget nih cewek, bagai langit dan bumi sama Kakaknya, sabar Gas," gumam Bagas dalam hati.


*****


"Dok, pasien di ruang rawat 02 kritis, keluarga pasien meminta segera melakukan operasi," kata Arya memberi laporan kepada Dokter Nico.


"Bukankah keluarganya kemarin gak setuju, mereka sendiri yang bilang pasrah menunggu ajal menjemput orang tua mereka," kata Nico.


"Iya Dok, saya hanya menyampaikan apa yang diinginkan keluarga itu. Saya juga udah bilang kalau operasi itu juga ada prosedurnya, terlebih lagi satu Minggu kedepan kita udah punya jadwal operasi, bahkan ada yang satu hari dua pasien," ucap Arya.


"Kalau gitu kamu suruh keluarganya menemui saya sekarang, biar saya yang bicara sama mereka," kata Nico.


"Baik Dok, akan saya sampaikan. Saya permisi dulu ya Dok," ucap Arya.


"Iya, silahkan!" jawab Nico.


Tidak lama kemudian, salah satu keluarga dari pasien 02 yang terkena penyakit gagal jantung, meminta Nico untuk melakukan operasi hari ini juga. Meskipun Nico sudah menjelaskan akan resikonya, keluarga yang merupakan anak dari pasien tersebut tidak peduli, ia tetap kekeh dan yakin jika ibunya itu akan selamat jika dioperasi.


Karena terus didesak akhirnya Nico pun setuju tentunya dengan memberikan surat perjanjian yang harus ditandatangani oleh keluarga pasien tersebut.


"Alexa, Arya, bersiap untuk operasi sekarang!" Perintah Nico yang menghampiri mereka di ruangannya.


"Loh, bukannya nanti jam 3 sore ya Dok ...?" Tanya Alexa.


"Iya itu tetap, ini mendadak. Sepuluh menit lagi saya tunggu di ruang operasi," kata Nico.


"Baik Dok," jawab Arya.


Lalu Nico pun pergi, sedangkan Alexa masih tampak gugup dan kebingungan karena harus menjalani operasi secara mendadak. Sungguh sepertinya mental Alexa belum siap. Tapi ini lah resiko yang harus ia jalani sebagai Dokter, harus siap dalam kondisi apapun.


"Ini pasti pasien yang baru aku ceritain tadi Lex. Meskipun di operasi, kemungkinan untuk selamat hanya 10%," kata Arya.


"Dokter bukan Tuhan, gak ada salahnya juga kan kita coba, apa lagi ini permintaan keluarga. Apa pun hasilnya nanti, meskipun tidak selamat paling gak keluarga tidak membiarkan orang tua mereka dengan pasrah menunggu ajal kan," kata Alexa.


"Iya Bu Dokter cantik," jawab Arya.


Alexa tersipu malu mendengar pujian dari Arya itu.


"Gak usah kebanyakan gombal, yuk buruan," ajak Alexa.


*****


Operasi sudah berjalan selama empat jam, Dokter sudah berusaha melakukan yang terbaik, akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Operasi dinyatakan gagal dan pasien sudah meninggal dunia karena tidak mampu lagi untuk bertahan.


Krek ... pintu ruang operasi terbuka, Nico, Arya dan Alexa keluar untuk menemui keluarga.


"Maaf Bu, kami sudah berusaha keras akan tetapi nyawa Ibu Anda tidak bisa diselamatkan lagi," ucap Nico.


"Apa? Enggak, ini gak mungkin, Ibu saya selamat kan Dok?" Tanya ibu itu yang tidak terima orang tuanya pergi untuk selamanya.


"Bu sudah Bu, Nenek sudah tidak ada, Nenek sudah tenang di Surga Bu," ucap anak ibu tersebut.


Alexa yang melihat ibu itu begitu histeris dengan air mata yang bercucuran membuatnya ikut merasa sedih, ia tahu betul bagaimana rasanya kehilangannya seseorang yang dicintai dalam hidup kita. Alexa pun mendekati ibu itu bermaksud ingin menenangkannya agar bisa lebih tegar menerima kenyataan.


"Bu, saya tau kok gimana rasanya kehilangan Ibu yang kita cintai, saya juga pernah mengalami hal yang sama dengan kondisi seperti ini. Awalnya saya tidak terima, syok, tapi saya sadar ternyata Tuhan lebih sayang sama Ibu saya. Ibu yang sabar ya Bu, berusaha untuk ikhlas," kata Alexa sembari menepuk pelan pundak ibu itu.


Sejenak ibu tersebut menatap Alexa, wajahnya yang tadinya sangat sedih kini berubah menjadi murka dan dengan kasar menepis tangan Dokter cantik yang ada di depannya itu.


"Diam kamu, gak usah sok peduli sama saya ya. Ini semua gara-gara kamu," bentak ibu itu yang membuat Alexa, Nico, Arya dan beberapa orang yang berada di situ terkejut.


"Maaf, maksud Ibu apa ya menyalahkan Dokter Alexa?" Tanya Arya.


"Iya memang ini semua gara-gara dia," kata ibu itu sembari menunjuk Alexa. "Kalau waktu itu dia tidak membujuk saya untuk segera menyetujui operasi dengan iming-iming akan ada harapan sembuh, pasti sekarang ini Ibu saya masih hidup, gak seharusnya saya percaya sama Dokter magang," ucap ibu itu.


"Bu, saya minta maaf, tapi itu dua bulan lalu saya membujuk Ibu karena Ibu menolak saat Dokter Nico menyarankan untuk operasi," ucap Alexa.


"Tetap aja ini semua salah kamu," teriak ibu itu lalu mendorong Alexa dengan kuat hingga Alexa terjatuh.


.


.


.


.


.


Bersambung.....