Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-103


Enam bulan kemudian...


Setelah beberapa kali melakukan kemoterapi, kini Anggi memilih untuk pulang ke rumahnya. Meskipun rumah sakit itu adalah milik keluarganya, tetap saja ia merasa tidak betah dan merasa jika di rumah lebih baik daripada di rumah sakit. Terlebih lagi saat ini kondisi Anggi juga tidak membaik dan malah semakin parah. Yang jelas Anggi terkadang merasakan sakit yang luar biasa sehingga membuatnya terus berada di tempat tidur. Sesekali Nico, Alexa atau Rika akan membawanya keluar untuk menghirup udara segar dengan menggunakan kursi roda. Tetapi Anggi juga tetap berusaha untuk sembuh meskipun harapannya itu sangat tipis.


Karena kondisi ibunya saat ini, Nico pun memilih untuk pulang ke rumahnya setiap hari. Terkadang Alexa juga ikut, tetapi terkadang juga ia lebih memilih di apartemennya sendiri. Karena bagaimanapun juga mereka belum menikah, jadi Alexa juga merasa segan jika selalu berada di rumah Anggi.


Hari ini Alexa tidak ikut pulang ke rumah Anggi, hal ini menjadi kesempatan bagi Rika untuk menjaga Anggi serta mendekati Dokter tampan idamannya sejak lama.


"Mas Nico baru pulang?" Tanya Rika yang melihat Nico baru saja masuk ke dalam kamar Anggi, sementara Rika saat ini sedang menjaga Anggi dan menyuapinya makan.


"Iya, maaf ya agak terlambat. Tadi ada pasien yang konsultasi," jawab Nico.


"Oh … nggak apa-apa Mas, Ibu hari ini baik-baik aja kok. Ini lagi saya suapin makan, makannya juga lahap loh," kata Rika.


"Bunda," panggil Nico sembari menghampiri ibunya itu.


"Iya Nico. Kamu nggak perlu terlalu khawatir gitulah sama Bunda, Bunda baik-baik aja kok. Oh ya Alexa mana? Kok nggak ikut?" Tanya Anggi yang membuat wajah Rika seketika menjadi muram.


Rika paling tidak suka jika Anggi selalu menanyakan Alexa. Padahal sudah jelas-jelas Alexa itu adalah calon menantu yang sangat diidamkan Anggi, bahkan Anggi selalu bercerita soal Alexa di depan Rika, ia sangat ingin melihat Nico dan Alexa segera menikah dan hidup bahagia. Apakah Rika egois? Tapi menurutnya tidak, karena ia sangat ingin mendampingi dokter Nico, ia sangat tidak rela jika Alexa yang akan menjadi istri Nico.


"Tadi Alexa udah pulang duluan Bun, aku yang suruh Alexa untuk istirahat di apartemen aja dulu hari ini. Kasian dia lagi banyak banget kerjaan di rumah sakit, Alexa juga butuh istirahat," kata Nico.


"Oh … gitu, iya nggak apa-apa kok. Memang sih Bunda juga kasian liat Alexa kalau harus bolak-balik ke sini, kamu juga tuh, kamu nggak perlu lah setiap hari pulang ke rumah. Nggak apa-apa kamu pulang aja ke apartemen seperti biasa. Di sini kan ada Rika yang menemani Bunda," kata Anggi.


"Bunda gimana sih, kemarin anaknya jarang pulang disuruh pulang. Sekarang anaknya udah pulang setiap hari, malah disuruh nggak usah pulang," hardik Nico.


"Sayang, bukan gitu maksud Bunda. Tapi Bunda tau kok gimana capeknya kamu, gimana kerjaan kamu saat ini. Ditambah lagi kamu ngurusin Bunda, gimana coba enggak makin capek?" Kata Anggi yang sangat mengerti dengan kondisi anaknya itu.


"Nggak apa-apa Bunda, lagipula Nico dan Alexa nggak pernah kok ngerasa susah atau ngerasa capek hanya gara-gara menemani Bunda. Justru aku sangat senang, begitu juga dengan Alexa," kata Nico.


"Ya udah, kamu mandi dulu gih sana! Terus kamu makan ya. Nanti ada yang mau Bunda bicarakan sama kamu," kata Anggi.


"Kenapa harus nunggu nanti? Kenapa nggak sekarang aja Bun?" Tanya Nico.


"Nanti aja, sekarang kan kamu baru pulang, bawa keringat lagi, sana mandi dulu gih! Kalau udah siap makan baru kamu temui Bunda lagi ya," kata Anggi.


"Ya udah deh Bun. Rika, saya titip Bunda dulu ya. Nanti biar gantian saya yang jaga Bunda," kata Nico.


"Baik Mas, tenang aja. Kan memang udah tugas saya jaga Ibu," kata Rika tersenyum. Lalu Nico pun segera saja keluar dari kamar Anggi.


*****


Satu jam kemudian, Nico telah kembali ke kamar Anggi, dia sudah selesai mandi dan juga makan malam. Nico menghampiri sang ibu yang dilihatnya saat itu sudah tertidur pulas dibalik selimut tebalnya. Rika yang melihat Nico masuk ke kamar Anggi, langsung saja izin keluar dari kamar tersebut. Karena memang Nico yang biasa menemani ibunya pada malam hari.


Nico membelai lembut rambut sang ibunda, dia merasa bersyukur karena saat ini masih dapat melihat ibunya itu meskipun dalam kondisi yang kurang baik. Dalam hatinya telah berjanji, bahwa ia akan melakukan apapun untuk kesembuhan ibunya. Karena sentuhan dari tangan Nico membuat Anggi yang belum tidur nyenyak itu pun terbangun.


"Bunda, maaf ya Nico jadi ganggu bunda," ucap Nico.


"Nggak kok Sayang, kan Bunda memang nungguin kamu. Ada yang mau Bunda omongin sama kamu," kata Anggi.


Anggi mencoba membangunkan tubuhnya hendak duduk, akan tetapi agak kesulitan karena tubuhnya yang begitu lemah tak berdaya.


"Bun … Bunda baring aja ya, nggak usah duduk," sergah Nico.


"Bunda bosan, boleh ya kalau Bunda mau duduk aja," kata Anggi.


"Ya udah, Nico bantu ya," kata Nico. Ia pun membantu ibunya itu untuk duduk menyandar agar posisinya lebih rileks.


"Bunda mau ngomong apa sama Nico?" Tanya Nico.


Anggi menghirup nafas dalam-dalam lalu mengembuskan nafasnya kembali secara perlahan seraya menatap mata anaknya itu.


"Kamu kan tau kalau sekarang Bunda sakit dan penyakit Bunda ini udah parah. Sebelum Bunda pergi, Bunda punya satu keinginan," kata Anggi.


"Bunda ngomong apa sih? Nggak, siapa bilang Bunda mau pergi? Nggak Bunda. Bunda akan tetap ada di sini bersama Nico," kata Nico sembari menggenggam erat kedua tangan ibunya.


Anggi menggelengkan kepalanya, "Nggak Sayang, Bunda nggak akan bisa sembuh lagi, penyakit Bunda udah sangat parah," kata Anggi dengan tatapan sendu.


"Apa yang Bunda inginkan dari Nico? Sebisa mungkin Nico akan turuti," kata Nico.


"Simple, kamu dan Alexa kan pacaran sudah hampir satu tahun, boleh nggak kalau Bunda mau melihat kalian berdua menikah," kata Anggi.


Nico tertegun, sebenarnya keinginan Bundanya itu memanglah sangat sederhana hanya memintanya untuk menikahi Alexa. Kenapa tidak? Karena Nico sangat mencintai Alexa dan dia memang ingin Alexa menjadi istrinya. Tetapi bagaimana dengan Alexa? Alexa berniat ingin menikah saat masa magangnya telah berakhir dan ayahnya sudah keluar dari penjara.


"Bun, sebenarnya itu bukan masalah buat Nico, karena Bunda meminta aku buat menikah dengan wanita yang aku cintai. Tapi Bunda tau kan kondisi Alexa saat ini seperti apa? Dia mau menikah dengan didampingi ayahnya, sedangkan ayahnya belum keluar dari penjara. Biar Nico omongin dulu ya sama Alexa," kata Nico.


Nico sangat tak tega menolak keinginan ibunya yang terlihat sangat berharap, Tetapi dia juga tidak mungkin memaksa Alexa. Tapi bagaimanapun juga ia pasti akan membicarakan soal ini kepada Alexa, ia berharap jika Alexa dapat mengerti dan mau segera menikah dengannya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....