Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-96


Nico saat ini sedang berada di ruangan Dokter Anton, yaitu Dokter Umum yang menangani ibunya saat di ruang IGD tadi. Dokter Anton ingin memberitahu kepada Nico tentang hasil yang sudah keluar mengenai penyakit apa yang diderita oleh ibunya itu.


"Jadi bagaimana Dok hasilnya?" Tanya Nico.


"Ini, lebih baik Dokter lihat saja sendiri, hasilnya ada di sini," kata Dokter Anton sembari memberikan selembar kertas kepada Nico.


Nico pun langsung saja mengambil kertas tersebut dari tangan Anton dan melihatnya. Dia membaca seksama tulisan di atas kertas tersebut, matanya terbelalak, hatinya begitu sangat sakit setelah membaca apa yang saat ini ada di depan matanya. Nico tidak dapat mempercayainya, ia sama sekali tidak menyangka jika Anggi yang selama ini kesehatannya selalu ia jaga, selalu ia anggap baik-baik saja bahkan makanannya pun selalu Nico jaga dengan sangat baik dan teratur bisa mengalami penyakit kanker hati. Apalagi saat ini kanker hatinya itu sudah terbilang parah dan memasuki stadium akhir. Nico tidak dapat membendung air matanya, ia pun langsung saja menangis di depan Anton. Ia tidak peduli jika saat ini Anton akan meledeknya karena menganggapnya sebagai laki-laki cengeng, tapi itulah kenyataannya yang ia rasakan saat ini, ia begitu pedih, tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Jalan satu-satunya yang akan Nico lakukan kepada ibunya adalah pengobatan, tapi bagaimana ia akan menyampaikan berita buruk ini kepada Anggi? Ia sangat tidak tega jika ibunya itu tahu dan pastinya akan merasa sangat terpukul.


Setelah menerima surat tersebut, Nico pun mengucapkan terima kasih kepada Dokter Anton dan keluar dari ruangannya. Sebisa mungkin Nico menahan perasaan sedihnya, ia juga menghapus air matanya itu agar tidak terlihat oleh Anggi dan juga Alexa. Ia tetap mencoba untuk tersenyum saat sudah berada di ruang rawat inap Anggi.


"Kak Nico," ucap Alexa saat melihat sang kekasih masuk ke dalam ruang rawat inap.


"Iya Sayang," jawab Nico.


"Udah selesai kerjaannya?" Tanya Alexa.


"Udah, pasien itu cuma harus cek kondisinya secara rutin untuk memastikan keadaannya akan baik-baik aja," jawab Nico.


"Oh ya? Emang sakit apa Kak?" Tanya Alexa.


"Kena serangan jantung ringan," jawab Nico.


"Oh … gitu," ucap Alexa.


"Bunda udah lama lama tidurnya?" Tanya Nico yang melihat ibunya saat itu sedang memejamkan mata.


"Iya Kak baru aja, Kakak gimana masih banyak kerjaan?" Tanya Alexa.


"Nggak kok, udah selesai," jawab Nico.


"Terus Arya gimana? Udah balik?" Tanya Alexa lagi.


"Dia juga baru selesai tadi sama aku, katanya sih dia mau ke sini liat Bunda dulu baru balik," jawab Nico.


"Oh gitu, aku jadi nggak enak kak karena hari ini aku sama sekali nggak kerja, pasti kalian capek banget kan Kak? Harusnya tadi kita gantian," kata Alexa.


"Nggak apa-apa kok Sayang, kamu juga kan nemenin Bunda di sini," kata Nico.


"Iya Kak," jawab Alexa sembari menatap kekasihnya itu, dia dapat melihat jika saat ini ada yang disembunyikan oleh Nico darinya. Ia pun langsung saja mengajak Nico duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut dan posisinya agak menjauh dari Anggi agar tidak mengganggu istirahatnya.


"Kak ada apa? Aku tau kalau kakak lagi menyimpan sesuatu kan dari aku?" Tanya Alexa.


Nico menghembuskan nafasnya secara perlahan, ia memang paling tak bisa mengelak atau menyembunyikan masalah dari Anggi maupun Alexa orang-orang yang sangat dekat dengannya itu, mereka sudah sangat hafal dengan sifatnya jika sedang menyembunyikan sesuatu.


"Iya, kamu benar Sayang. Aku memang lagi memikirkan sesuatu, tapi aku nggak bermaksud menyembunyikannya kok dari kamu," kata Nico.


"Emang ada apa kak?" Tanya Alexa dengan tatapan mendamba, ia benar-benar ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya itu.


Nico tak mampu mengucapkan kata untuk menyampaikan apa yang saat ini menjadi beban pikirannya, akan tetapi ia langsung saja memberikan selembar kertas yang diberikan oleh Dokter Anton tadi dan langsung diserahkannya kepada Alexa.


Alexa menerima selembar kertas yang terlipat itu, dalam hatinya bertanya ini apa? Kenapa Nico tidak menjawab pertanyaannya dan malah memberikan kertas ini kepadanya?


"Itu hasil pemeriksaan penyakit Bunda," jelas Nico.


Tanpa banyak bertanya lagi, Alexa pun langsung saja membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya. Sama halnya dengan Nico tadi, Alexa begitu sangat syok melihatnya, ia sama sekali tidak menyangka jika penyakit yang diderita oleh Anggi itu sangatlah berbahaya. Terbesit dalam hatinya yang merasa sangat bersalah karena sempat marah dan mengabaikan Anggi, padahal saat ini Anggi sedang menderita penyakit yang sangat mematikan. Alexa juga yakin jika saat ini kondisi Anggi bisa ngedrop dan sampai pingsan pasti karena juga terlalu banyak memikirkan masalah dengannya, ibu dari kekasihnya itu jadi kelelahan dan kurang istirahat. Lalu Alexa pun menangis di dalam pelukan Nico, mereka berdua sama-sama menangis tersedu-sedu dan saling menguatkan hingga Arya masuk ke dalam ruang rawat inap tersebut.


"Dokter Nico, Alexa, kalian kenapa?" Tanya Arya.


Alexa dan Nico yang mendengar suara Arya itu itu pun langsung saja melepaskan pelukan mereka lalu mengusap mata mereka masing-masing yang telah basah.


"Arya," ucap Alexa.


"Arya, kamu mau liat ibu saya kan? Silahkan!" Kata Nico lalu membawa Arya mendekati ibunya.


Arya pun tidak banyak bertanya lagi dengan apa yang baru saja dilihatnya, yang jelas Arya tahu jika saat ini Nico dan Alexa pasti sedang mengalami hal yang menyakitkan sehingga membuat mereka berdua bisa menangis seperti tadi. Untungnya suara tangisan mereka tidak mengganggu istirahat Anggi yang baru saja terlelap.


*****


Thalita saat ini sedang bersantai ria di atas kasur empuk sembari mengotak-atik ponselnya. Akan tetapi tiba-tiba saja ia sontak terduduk karena sangat terkejut mendengar kabar dari kakak sepupunya bahwa budenya saat ini masuk rumah sakit. Nico juga memberitahu kepada Thalita tentang penyakit apa yang diderita oleh ibunya saat ini. Thalita segera beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri sang ibu untuk memberitahu kondisi kakak ipar ibunya itu.


Tok … tok … tok … Thalita mengetuk pintu kamar sang ibu.


"Kenapa Sayang?" Tanya Siska saat ia melihat anaknya ada di depan pintu.


"Bu, aku baru dapat kabar dari Kak Nico, katanya Bude masuk rumah sakit," ucap Thalita.


"Emang Bude kamu sakit apa?" Tanya Siska.


"Kanker hati Bu," jawab Thalita yang terlihat sangat sedih.


"Apa?! Kanker?" Tanya Siska yang mengulangi ucapan Thalita untuk memastikan apa yang di dengarnya tadi tidak salah.


"Kanker?" Tanya seorang pria baru paruh baya yang baru saja pulang kerja dan masuk ke dalam rumah itu. Dia adalah Handoko yang merupakan ayah Thalita dan adik dari Anggi ibunya Nico itu.


"Ayah?" Ucap Thalita dan Anggi secara bersamaan.


"Maksudnya kanker itu apa? Siapa yang kena penyakit kanker?" Tanya Handoko menatap sang istri dan juga anaknya secara bergantian.


"Mbak Anggi Mas," jawab Siska.


Handoko sangat terkejut mendengarnya, dia tidak percaya jika sang kakak yang sangat ia sayangi bisa terkena penyakit yang ganas seperti itu.


.


.


.


.


Bersambung...