
"Kalian jangan asal bicara!" Ucap Handoko murka, ia tak bisa mempercayainya gitu aja.
"Yah, Kak Nico sendiri yang bilang. Lagian untuk apa aku harus mengarang cerita tentang penyakit mematikan," kata Thalita.
"Yah, nggak ada yang mau hal ini terjadi," kata Siska yang mencoba menenangkan suaminya itu. Ia tahu jika saat ini Handoko pasti sangat terpukul mendengar kabar buruk tentang kakaknya.
Tubuh Handoko seketika membeku, tangisnya pecah begitu saja karena sama sekali tak menyangka jika kakak satu-satunya yang ia miliki itu mempunyai penyakit yang mengancam nyawa.
"Ayah akan ke sana sekarang juga," kata Handoko.
"Jangan Yah, ini udah malam. Apalagi di luar juga lagi hujan, bisa berbahaya Ayah," kata Siska, ia tak mau jika nantinya malah terjadi sesuatu yang tidak inginkan.
"Benar apa yang ibu bilang Yah," sambung Thalita.
"Ayo Mas sekarang kita istirahat dulu. Besok pagi-pagi kita langsung pergi ke Jogja untuk melihat Mbak Anggi," pujuk Siska.
Akhirnya Handoko hanya bisa menuruti apa kata istrinya itu. Apa yang dikatakan oleh istri dan anaknya memanglah benar, jika malam ini mereka berangkat ke Jogja itu sangatlah berbahaya, ditambah lagi semua jalan tol juga pasti sudah ditutup karena selain hari sudah malam cuaca juga sangat tidak mendukung. Saat ini kota Jogja sedang diguyur hujan deras serta angin kencang yang menerpa, sudah pasti akan sangat membahayakan untuk pengemudi yang masih berkeliaran di luar sana.
Setelah itu pun Thalita juga kembali ke kamarnya. Ia menekan nomor Nico yang ada pada WhatsApp lalu menghubunginya. Akan tetapi saat itu bukan kakak sepupunya yang menjawab melainkan Alexa yang merupakan kekasih dari kakak sepupunya itu juga sahabat terbaiknya. Karena memang saat ini Alexa sedang memegang ponsel Nico, sedangkan Nico sendiri baru saja terlelap di samping ibunya karena begitu sangat lelah.
Alexa sedikit menjauh untuk menjawab telepon tersebut, karena ia tidak mau akan menggangu Nico dan ibunya yang sedang tertidur pulas.
"Halo Kak Nico," ucap Thalita
"Halo Ta ini aku," ucap Alexa.
"Alexa?" Tanya Thalita.
Sebenarnya ia tak heran lagi jika Alexa yang mengangkat telepon Nico saat ini, karena selain tinggal di apartemen yang bersebelahan, mereka juga bekerja di rumah sakit yang sama, terlebih lagi Alexa dan Nico memiliki hubungan. jadi, sangat wajar saja jika Alexa saat ini sedang berada di rumah sakit untuk menemani Nico dan penjaga ibunya.
"Iya Ta, aku Alexa," jawab Alexa.
"Gimana keadaannya Bude Lex?" Tanya Thalita.
"Sekarang ini Bude sama Kakak kamu lagi istirahat, baru aja mereka tidur setelah tadi mengobrol berdua. Dan sekarang kondisinya Bunda masih lemah, Kak Nico juga belum kasih tau ke Bunda tentang penyakit apa yang dideritanya saat ini," kata Alexa.
"Tapi mau sampai kapan Lex Kak Nico menyembunyikannya? Kalau Bude nggak tau tentang penyakitnya, gimana Bude mau menjalankan pengobatan?" Tanya Thalita.
"Ya aku juga udah bilang kayak gitu sama Kak Nico Ta, tapi katanya Kak Nico belum siap aja untuk membuat bundanya terpukul dengan penyakit yang dideritanya," kata Alexa.
"Lex, kamu harus bujuk Kak Nico supaya kasih tau ke Bude secepatnya. Mau sampai kapan nunggu Kak Nico siap? Emangnya Kalian mau kalau kondisi Bude semakin memburuk karena tidak segera ditangani. Kalian berdua tau kan kalau penyakit yang diderita Bude itu sangat berbahaya kalau tidak segera ditangani, akan sangat membahayakan nyawa Bude Lex," kata Thalita.
"Iya Ta aku tau," jawab Alexa.
Alexa terdiam, apa yang dikatakan oleh sahabatnya memanglah benar. Sebagai dokter, mereka tahu persis jika penyakit kanker adalah penyakit yang sangat mematikan, bahkan bukan hanya dokter, semua orang juga sudah tahu jika penyakit kanker itu adalah penyakit paling ganas nomor 2 setelah HIV. Memang untuk kesembuhannya itu sangat kecil, terutama yang sudah memasuki stadium akhir. Akan tetapi jika segera dilakukan pengobatan, setidaknya dapat menambah umur seseorang, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan yang membolak-balikkan kehidupan, yang mengatur takdir seseorang.
"Lex, kamu kenapa diam?" Tanya Thalita saat tidak mendengar suara sahabatnya itu lagi. Dia takut perkataannya tadi ada yang menyinggung perasaan Alexa.
"Aku cuma memikirkan apa yang kamu ucapkan itu memang benar. Ta, besok pagi aku akan pujuk Kak Nico untuk segera kasih tau Bunda, kalau perlu aku sendiri yang akan kasih tau langsung kalau Kak Nico nggak sanggup," kata Alexa.
"Iya Ta," jawab Alexa.
"Ya udah Lex, kamu istirahat juga gih! Bude sama Kak Nico juga udah istirahat kan? Ini juga udah malam banget. Aku juga mau istirahat karena besok pagi aku ada jadwal operasi," kata Thalita.
"Iya Ta, selamat tidur ya," ucap Alexa
"Iya Lex, selamat tidur juga," ucap Thalita pula.
Lalu panggilan telepon berakhir begitu saja karena cuaca yang saat ini sangat tidak baik di Jogja. Tetapi Alexa sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Alexa hanya berpikir mungkin memang Thalita yang sudah memutuskan panggilan tersebut tanpa mengucapkan salam perpisahan dulu seperti yang biasa Thalita lakukan.
"Duh … sinyalnya tiba-tiba hilang, ini pasti gara-gara cuacanya deh. Mudah-mudahan Alexa gak bingung deh kenapa tiba-tiba teleponnya terputus. Ya udahlah, ini kan juga udah malam. Udah saatnya kita istirahat," gumam Thalita.
Lalu ia pun menuju ke tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya itu di atas kasur, lalu memejamkan mata hingga terlelap dan terbangun keesokan harinya.
*****
Alexa menggeliat saat ia merasakan sesuatu yang baru saja menyentuh pipinya. Ia pun terbangun, matanya terbelalak saat melihat wajah Nico saat ini begitu dekat dengan wajahnya dan sedang tersenyum menatapnya yang membuat jantung Alexa terasa berdebar sangat kencang. Ternyata sentuhan yang Alexa rasakan di pipinya tadi adalah kecupan yang diberikan oleh Nico.
"Kakak ngagetin aku aja sih," kata Alexa.
"Oh ya? Maaf ya Sayang, aku ganggu tidur kamu ya?" Tanya Nico.
"Nggak juga sih Kak, ini jam berapa ya?" Tanya Alexa.
"Jam 07.00 Sayang, nih aku bawain kamu sarapan. Yuk kita sarapan bareng Bunda juga," ajak Nico.
"Bunda udah bangun?" Tanya Alexa sembari melihat ke arah Anggi.
"Pagi Alexa … ," sapa Anggi sembari mengulas senyum tipis.
"Pagi juga Bunda," balas Alexa dan juga tersenyum manis.
Alexa pun melangkahkan kakinya mendekati Anggi, wajahnya memerah seperti kepiting rebus karena ia pikir jika tadi Anggi pasti melihat saat Nico mencium pipinya.
.
.
.
.
.
Bersambung...