Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-101


Setelah mendapatkan izin, Thalita pun kembali bersemangat melanjutkan pekerjaannya. Karena esok hari ia akan melakukan perjalanan menuju ke Jakarta untuk melihat Budenya. Bukan hanya itu saja yang membuatnya senang, tetapi karena dia juga akan bertemu dengan sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Alexa.


"Semangat banget kerjanya. Tadi kenapa coba bisa nggak konsen kayak gitu?" Tegur Dona, ia merupakan rekan Thalita yang juga berstatus sebagai Dokter Magang Spesial Jantung sama sepertinya.


Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang Dokter magang membuat laporan masing-masing.


"Ya tadi aku lagi ada masalah aja sih, jadi nggak konsen. Tapi sekarang aku udah lebih baik kok, karena gimana pun juga aku harus tetap profesional dong sama kerjaan," kata Thalita.


"Bagus deh kalau begitu," ucap Dona.


"Oh ya Don, besok kamu kerjanya berdua aja bareng Dokter Dion," kata Thalita.


"Loh memangnya kamu mau ke mana?" Tanya Dona.


"Aku cuti mau ke Jakarta, soalnya Bude aku lagi sakit serius Don," jawab Thalita.


"Oh … jadi itu ya yang buat kamu dari tadi enggak konsen," ucap Dona.


"Iya kamu benar. Makanya hari ini aku mau siapin semua kerjaan aku, karena besok pagi aku bakalan berangkat ke Jakarta langsung," kata Thalita.


"Ta, aku cuma bisa doain semoga Bude kamu cepat sembuh ya," ucap Dona tanpa tahu apa penyakit yang sedang diderita oleh Bude dari rekannya itu.


"Aamiin … makasih banyak ya doanya Don," ucap Thalita.


"Iya Ta sama-sama," jawab Dona.


"Ya udah yuk lanjutin kerjaan kita, aku mau ke ruang laboratorium dulu," kata Thalita.


"Oh gitu, ya udah kamu duluan aja Ta, aku masih harus buat laporan pasien yang barusan aku periksa tadi, mau langsung aku kasihkan ke Dokter Dion," kata Dona.


"Ya udah kalau gitu," ucap Talita, lalu mereka pun berpisah.


*****


Alexa dan Nico berjalan menuju ke ruang rawat inap Anggi. Saat mereka tiba di dalam, mereka berdua sama-sama terkejut melihat Vina yang saat ini berada di dalam ruangan tersebut. Terlebih lagi melihat Anggi yang saat ini menatap Nico dan Alexa dengan tatapan yang sangat serius membuat keduanya bergidik. Sedangkan Siska dan Handoko hanya tertunduk di samping Anggi.


"Ada apa ini?" Tanya Nico, jantungnya begitu berdebar karena melihat tatapan yang tidak biasa dari sang ibu.


"Nico, Alexa, sekarang bisa kalian jelaskan sama Bunda, apa benar yang dikatakan sama Vina?" Tanya Anggi to the point.


"Ma-maksudnya, memang Vina bilang apa sama Bunda?" Tanya Nico. Ia merasa khawatir jika saat ini Anggi sudah mengetahui tentang penyakitnya dari Vina. Tapi dari mana Vina tahu?


"Jadi, kamu beneran belum bilang soal penyakitnya Ibu kamu?" Tanya Vina yang membuat Nico begitu terkejut. Padahal ia dengan susah payah mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan tentang kondisi ibunya itu, tetapi malah orang lain yang menyampaikannya terlebih dahulu.


Tanpa menggubris perkataan Vina, Nico pun langsung saja mendekati Anggi dan memeluknya. Sedangkan Alexa saat itu hanya dapat berdiam diri dengan perasaannya yang sangat kalut.


"Bunda maafin Nico Bunda, Nico enggak bermaksud buat menyembunyikan ini semua dari Bunda, Nico hanya nggak tega menyampaikan ini semua Bunda. Tolong maafin Nico," ucap Nico sembari memeluk ibunya. Tak perduli jika saat ini Anggi terus saja memberontak meminta Nico untuk melepaskan pelukannya itu.


Nico menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Enggak Bunda, Nico nggak mau lepasin Bunda," Kata Nico yang tak kalah sedihnya dengan sang ibu.


"Kamu begitu tega menyembunyikan ini semua dari Bunda. Yang buat Bunda lebih sedih lagi kenapa Alexa juga ikut menyembunyikannya? Bunda kecewa sama kalian berdua. Atau jangan-jangan kamu dan istri kamu juga tahu ya tentang penyakit Mbak ya," kata Anggi beralih menuduh adik dan adik iparnya.


Handoko dan Siska hanya bisa terdiam, mereka tidak sanggup untuk mengatakannya kepada Anggi jika sebenarnya memang mereka sudah mengetahuinya.


"Sudah, kalian tidak perlu menjawabnya. Aku yakin kalian semua pasti memang sudah tau kan? Aku benar-benar nggak nyangka," ucap Anggi lalu ia pun menangis tersedu-sedu. "Tolong kalian pergi semua dari sini, tinggalkan aku sendiri," pintanya dengan begitu tegas.


"Bun, kami semua nggak akan pergi tinggalin Bunda. Kami akan tetap ada di sini untuk temenin Bunda," kata Nico.


Anggi sama sekali tidak menggubris ucapan Nico, dia lebih memilih membuang muka sembari menahan sesaknya di dada.


Karena melihat usaha Nico untuk membujuk bundanya saat itu tidak berhasil, Alexa pun selangkah lebih maju mendekati Anggi. Ia ingin mencoba untuk membujuk Ibu dari kekasihnya itu.


"Bunda, Bunda harus kuat ya. Maafin kami Bun, bukan maksud kami untuk menyembunyikan ini semua dari Bunda. Tapi alasan Kak Nico kuat, dia nggak mau melihat Bunda terpuruk setelah mengetahui semuanya. Bunda jangan marah ya sama kami, kami semua di sini ingin yang terbaik buat Bunda. Sekarang Bunda udah tahu kan tentang penyakit Bunda? Bunda harus melakukan pengobatan ya supaya Bunda sembuh. Bunda ingat kan janji Bunda akan menjaga Alexa, akan menyayangi Alexa seperti anak Bunda sendiri? Bunda sendiri yang mengucapkannya, Bunda mau menebus semua kesalahan Bunda terhadap Mama aku di masa lalu," ucap Alexa.


Alexa terpaksa mengeluarkan ucapan yang sebenarnya sudah sangat enggan ia bahas. Tapi itu semua semata-mata agar Anggi saat ini bisa tenang dan mendengarkan apa kata mereka. Benar saja Anggi saat itu langsung terpikir apa kata-kata Alexa, ia menatap wajah Alexa dan langsung saja menghamburkan pelukannya. Alexa dengan sangat senang membalas pelukan tersebut sembari mengusap pelan pundak ibu paruh baya itu.


Semuanya ikut merasakan bahagia, tetapi tidak dengan Vina, dia merasa kesal karena melihat Anggi saat itu begitu sangat dekat dan akrab dengan Alexa. Padahal niatnya ingin membuat Anggi simpati dan mempercayainya, tetapi ternyata usahanya itu hanya sia-sia, ia merasa saat ini dirinya diabaikan. Tanpa berpamitan dengan siapapun, Vina segera keluar dari ruang rawat inap Anggi dengan perasaan yang sangat jengkel.


*****


"Eh ada Dokter Vina, apa kabar Dokter?" Tanya Arya yang kebetulan bertemu Vina saat sedang berjalan dengan wajah kesalnya. Ditambah lagi dengan teguran Arya membuat Vina semakin kesal saja.


"Mau ngapain kamu tanya-tanya kabar saya? Emang kamu nggak bisa liat kalau sekarang ini saya baik-baik aja," jawab Vina dengan nada tinggi.


"Ya santai aja dong Dok, siapa tau kan kabar Dokter gak baik setelah dipecat dari sini, ups … ," ledek Arya sembari menutup mulutnya.


Vina begitu sangat kesal mendengar ucapan Arya, akan tetapi menurutnya meladeni Arya hanya membuang-buang waktunya saja. Tanpa menggubris Arya lagi, Vina melanjutkan perjalanannya untuk keluar dan segera meninggalkan Rumah Sakit Hospital Hutama.


"Sialan! Dasar perempuan licik, bisa banget ya ngambil hati nya Tante Anggi. Udah jelas-jelas aku yang datang duluan untuk ambil hati Tante Anggi, tapi dia malah merusak segalanya. Alexa, kamu liat aja, aku nggak akan ngebiarin kamu begitu dekat dengan Tante Anggi, apalagi Nico. Aku bakalan merebut Nico dari kamu," gumam Vina dengan tatapan sinis penuh dendam saat dia berada di dalam perjalanan.


.


.


.


.


.


Bersambung.....