Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-49


Deg, jantung Vina terasa sakit seperti tertusuk pisau tajam. Ternyata apa yang dikhawatirkan benar-benar terjadi, Nico sebenarnya sudah tahu, hanya pura-pura bertanya saja padanya, pikirnya.


"Nico aku benar-benar minta maaf, aku benar-benar gak nyangka semuanya bakalan jadi kayak gini, aku gak tau kalau bu Tuti bakalan ajak ibu-ibu lain buat nyerang Alexa," ucap Vina.


"Oh ya? Ini kamu lagi ngaku sama perbuatan kamu? Padahal saya gak ada nanya, tapi syukurlah jadi saya gak perlu repot-repot cari tau, karena dalangnya udah menyerahkan diri.


"Hah? Apa? Nico bilang apa? Apa iya Nico emang sebenarnya belum tau?" Vina bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Nico apa artinya itu kamu benar-benar gak tau kalau aku dalang dibalik ini semua? Apa Bu Tuti gak kasih tahu ke kamu? Terus waktu aku nelpon kamu dan bilang ada keluarga pasien yang mau ketemu, apa kamu gak ingat kalau itu suara aku?" Tanya Vina


"Hm … soal nelpon ya, saya agak curiga sih kalau ada yang gak beres waktu itu, makanya saya gak terlalu peduli. Tapi soal suara saya benar-benar tidak tau kalau itu suara kamu. Bu Tuti bilang kok siapa yang memprovokasi dia, karena jika dia tidak mau mengatakannya kepada saya, maka saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum," jawab Nico.


"Kamu benar-benar udah lupain aku Nico, kita yang dulunya begitu dekat, kini seakan menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal. Bahkan suara aku aja kamu udah gak ingat," gumam Vina dalam hati. Hatinya begitu sedih dan sakit karena benar-benar tidak ada harapan lagi untuk bersama dengan Nico, bahkan Nico menganggapnya tidak pernah ada.


"Oh ya, karena kamu udah mengakuinya di depan saya, saya harap kamu juga bisa mengakuinya di depan polisi. Saya akan laporkan kamu atas perbuatan penganiayaan, kamu masih ingat kan waktu kamu menyerang Alexa di depan toilet? Ingat lah, gak mungkin lupa, belum lagi surat ancaman yang kamu kirim ke apartemen Alexa," kata Nico yang membuat Vina terdiam.


"Apa? Jadi Nico juga tau tentang surat ancaman itu?" batin Vina.


"Kamu gak usah heran, saya pasti akan mencari tau apapun yang bersangkutan dengan keselamatan orang yang sangat saya cintai," kata Nico.


"Bahkan Nico pun tau apa isi hati aku saat ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Vina dalam hatinya lagi.


"Nico, tolong jangan laporin aku ke polisi, aku udah ngakuin semuanya ke kamu, apa kamu sama sekali gak bisa maafin aku, aku janji gak akan lakuin ini lagi Co, tolong jangan kayak gini," ucap Vina.


"Udah kayak gini aja baru menyesal, apa kamu pernah berpikir sebelum melakukannya?" Tanya Nico. "Gini aja, kamu mau aku laporin ke polisi atau kamu keluar dari rumah sakit ini.


Vina membelalakkan matanya, dia tidak tau harus berbuat apa sekarang ini. Ia tidak menyangka jika Nico akan melaporkan ke polisi bahkan memecatnya.


"Nico, aku minta maaf, aku juga gak mau keluar dari rumah sakit ini," ucap Vina.


"Selama ini saya diam, tapi lama kelamaan sifat kamu itu semakin jadi. Sebagai Dokter kepala dan pemilik rumah sakit, saya tidak mungkin terus mempertahankan Dokter yang kelakuannya tidak terpuji kayak kamu," kata Nico.


"Tapi Nic, aku menyesal dan benar-benar minta maaf," ucap Vina.


"Maaf, maaf, maaf, hanya itu yang dapat kamu ucapkan sekarang. Seharusnya kamu minta maaf sama Alexa bukan sama saya," ucap Nico.


"Aku akan minta maaf sama Alexa, bila perlu aku akan bersujud di bawah telapak kaki Alexa," kata Vina.


"Heh, pastinya Alexa dengan mudah memaafkan kamu, karena hatinya lembut, gak jahat kayak kamu. Jadi gak perlu sampai berlutut," kata Nico.


"Iya aku tau, Alexa lah yang saat ini paling terbaik di mata kamu, aku akan minta maaf sama Alexa sekarang," kata Vina.


"Bukan hanya di mata saya, tapi di mata semua orang," kata Nico.


"Aku permisi," ucap Vina karena tidak ingin berlama-lama mendengar Nico terus memuji Alexa di depannya, hatinya begitu sedih saat Nico membandingkan dirinya dengan orang lain. Padahal saat mereka bersama dulu, Nico sama sekali tidak pernah menyanjung dirinya berlebihan seperti itu.


"Apa-apaan sih Nico segitunya banget ngebelain Alexa, apa sih bagusnya wanita itu. jelas-jelas aku lebih baik dari wanita manapun. Sabar Vin, mengalah aja dulu. Tapi kamu ingat ya Alexa, aku gak mungkin tinggal diam gitu aja, aku akan balas semua, aku gak rela kalian berdua bahagia di atas penderitaanku," gumam Vina dengan emosi yang menggebu sembari mengepalkan kedua telapak tangannya.


*****


"Lex, ada nenek lampir di belakang," bisik Arya yang duduk bersebelahan dengan Alexa.


"Heh, maksudnya ...?" Tanya Alexa sembari mengerutkan keningnya.


"Dokter Alexa, bisa kita bicara ...?" Tanya Vina.


Alexa langsung menoleh ke arah sumber suara, ia sangat terkejut melihat Vina ada di depannya saat ini, apalagi Vina yang biasanya emosi jika berbicara dengannya, kini sangat sopan memanggilnya Dokter Alexa.


"Boleh Dok, silahkan! Langsung ngomong aja," jawab Alexa.


"Maaf, tapi saya mau berbicara empat mata aja sama kamu, gak mau ada tukang kepo yang suka ikut campur," ucap Vina sembari melirik Arya.


"Heh, mak lampir ini nyindir aku kayaknya, siapa juga yang kepo dan suka ikut campur," gumam Arya dalam hati.


"Lex, ingat satu jam lagi Dokter Nico minta laporannya," ucap Arya mengingatkan.


"Iya Ar aku ingat kok," jawab Alexa.


"Dokter Vina, saya minta maaf ya karena sekarang ini saya lagi ada kerjaan. Gimana kalau nanti tunggu saya selesai," ucapnya.


"Iya gak papa kok, kalau kamu udah siap sama kerjaan kamu, tolong ke ruangan saya aja ya, biar lebih privasi," kata Vina.


"Baik Dok," jawab Alexa menyetujui.


Lalu Vina pun keluar dari ruangan Dokter Magang.


"Lex, kamu yakin mau ngomong berdua aja sama mak lampir itu ...?" tanya Arya.


"Yakinlah, emang kenapa Ar …?" Tanya Alexa.


"Kamu gak takut apa kalau dia bakalan nyakitin kamu lagi? Aku khawatir sama kamu Lex, aku gak percaya sama Dokter Vina itu," kata Arya.


"Arya, kamu gak boleh su'uzon gitu dong sama orang lain," kata Alexa.


"Kamu yang terlalu baik percaya sama orang lain Lex, padahal orang itu udah berkali-kali nyakitin kamu," kata Arya dan hanya ditanggapi senyuman oleh Alexa.


.


.


.


.


.


Bersambung.....