Doctor And Love

Doctor And Love
Bab-24


Nico hanya tersenyum mendengar pujian itu, ia sudah terbiasa dengan pujian yang selalu dilontarkan oleh ibunya.


"Heum, heum," ucap Alexa, ia makan dengan sangat lahap.


"Sayang pelan-pelan dong makannya, entar keselek," kata Nico.


"Abisnya ini enak banget Kak," kata Alexa yang terus mengunyah tanpa menyadari jika Nico sama sekali belum menyentuh makanannya.


Lagi-lagi Nico hanya tersenyum melihat kelakuan kekasihnya, gaya makannya yang rakus sama sekali tidak di tutup-tutupi, merasa malu atau gengsi. Alexa adalah sosok yang berbeda dan spesial bagi Nico.


"Kak Nico kok cuma liatin aja sih, makan dong Kak, atau mau aku suapin...?" Tanya Alexa.


"Ini aku mau makan kok," jawab Nico lalu menyendok makanan yang ada di piring dan melahapnya.


"Duh ... aku kenyang banget Kak," kata Alexa yang duduk bersandar seraya memegangi perutnya yang terasa sedikit buncit.


Bagaimana tidak? Semua menu makanan di atas meja telah dihabiskan oleh Alexa dengan lahapnya seperti belum makan selama tiga hari, sedangkan Nico hanya menghabiskan makanan yang ada di piringnya saja.


"Kamu sih semuanya di makan," hardik Nico.


"He ... he ... he ... maafin aku ya Kak, aku khilaf, abisnya masakan Kak Nico ini beneran enak banget, aku udah lama Kak gak makan makanan rumahan yang enak kayak gini. Bahkan masakan mbok Jum juga gak seenak masakan mama," ungkap Alexa.


"Gimana kalau besok-besok aku ajarin kamu masak?" tawar Nico, ia sengaja mengalihkan pikiran Alexa yang bersedih teringat ibunya.


"Mau! Tapi sebelum aku bisa masak, Kakak harus sering-sering masakin aku kayak gini ya," pinta Alexa.


"Iya, bahkan saat kita udah nikah nanti, aku yang akan selalu masak buat kamu," kata Nico.


"Uhuk ... uhuk ...," tiba-tiba saja Alexa yang sedang minum tersedak karena mendengar perkataan Nico.


"Sayang, kamu gak papa kan? Kenapa bisa tersedak gini sih," kata Nico yang sangat khawatir sembari menepuk pelan pundak Alexa.


"Aku gak papa Kak, aku sedikit syok aja dengar Kak Nico tiba-tiba ngomongin nikah," kata Alexa.


"Kenapa bisa syok? Memangnya ada yang salah sama kata nikah?" Tanya Nico.


"Ya enggak sih, tapi kita baru aja pacaran satu Minggu Kak, udah ngomongin nikah aja," jawab Alexa.


"Ya gak papa dong, tujuan orang pacaran itu apa lagi kalau bukan untuk menikah, atau jangan-jangan kamu gak mau ya nikah sama aku?" Tanya Nico.


"Bukan gak mau Kak, masih jauh mikirnya. Usia aku aja sekarang baru mau masuk 23 tahun," kata Alexa.


"Oh ... gitu," gumam Nico yang mengerti.


"Kak, aku mau beresin bekas kita makan dulu ya," kata Alexa.


"Aku bantuin ya," tawar Nico dan dijawab anggukan oleh Nico. Setelah membersihkan semuanya dan tampak kinclong, Alexa segera meninggalkan apartemen Nico untuk kembali ke apartemennya.


*****


Pagi-pagi sekali Bagas sudah bangun dan sedang bersiap-siap. Setelah sarapan, ia berniat akan pergi ke sel tahanan untuk membesuk Andreas.


Satu jam kemudian Bagas telah tiba di sel tahanan dan segera saja ia menuju ruang besuk menemui Andreas.


"Pak apa kabar?" Tanya Bagas dan menyalami Andreas.


"Saya baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya Bagas?" jawab Andreas dan bertanya balik.


"Saya juga baik Pak, maaf semenjak dari Jakarta saya baru sempat besuk Bapak hari ini," ucap Bagas.


"Ya gak apa-apa, terus gimana kabar anak saya ...?" Tanya Andreas.


"Alexa baik-baik aja Pak, dia hidup dengan baik tanpa kekurangan makan ataupun uang," jawab Bagas.


"Oh ya, terus gimana dengan pergi kerjanya?" Tanya Andreas lagi. Ia ingin memastikan jika anaknya benar-benar hidup dengan baik.


"Itu juga gak ada masalah, apartemen Alexa gak jauh dari rumah sakit, kadang Alexa naik taksi, kadang bareng Dokter Nico yang tempat tinggalnya dekat dengan Alexa," jelas Bagas.


"Dokter Nico ...? Siapa dia ...?" Tanya Andreas.


"Iya syukurlah, saya lega dengarnya," ucap Andreas. "Lalu bagaimana soal penyelidikan kamu?" Tanyanya.


"Soal itu, semalam saya baru aja ketemu dengan pak Joko supir pak Bram itu Pak, tapi dia sama sekali tidak bisa diajak kerja sama untuk saat ini," jawab Bagas.


"Baiklah! Lalu apa lagi rencana kalian?" Tanya Andreas.


"Saya dan pak Yanto lagi nyusun rencana pak, semoga berjalan lancar dan pak Joko mau membuka mulutnya," jawab Bagas.


"Maaf waktu besuk sudah habis," ucap sipir tiba-tiba.


"Baik Pak," jawab Bagas. "Pak Andreas, saya pasti akan kabarin ke Bapak tentang perkembangan penyelidikan kasus ini," kata Bagas.


"Iya, terima kasih Bagas," ucap Andreas.


"Sama-sama Pak," jawab Bagas lalu ia pun pergi dari sel tahanan.


*****


"Welcome to Jakarta," ucap Anggi, yang merupakan Kakak kandung dari ibunya Thalita. Thalita biasa memanggilnya dengan sebutan Bude.


"Makasih Bude udah jemput Thalita di terminal," ucap Thalita lalu menyalami Anggi dan memeluknya dengan hangat.


"Iya Sayang sama-sama, kita langsung ke rumah Bude aja ya," ajak Anggi.


"Yuk Bude," jawab Thalita.


Supir Anggi segera membantu meletakkan barang bawaan Thalita ke dalam bagasi mobil, Lalu melajukan mobilnya.


Setibanya di kediaman Anggi...


Anggi langsung mempersilahkan Thalita masuk dan menuju kamar yang telah disiapkannya untuk Thalita.


"Bude, Kakak gimana kabarnya? Masih stay di apartemen dan jarang pulang ke rumah ya Bude ...?" Tanya Thalita.


"Ya begitulah, katanya lebih dekat. Ya emang benar sih, apa lagi dia suka lembur dan pulang malam," jawab Anggi.


"Hm ... entar sore aku mau ke apartemen Kakak deh Bude," kata Thalita.


"Iya, kalau bisa kamu pujuk ya suruh pulang," kata Anggi.


"Tenang aja Bude kalau soal itu," jawab Thalita.


"Ya udah sekarang kamu istirahat aja dulu, Bude mau siapin makan siang," kata Anggi.


"Iya Bude, jawab Thalita.


Sore pun telah menjelang, Thalita kini sudah berada di depan apartemen Nico, ya Nico adalah Kakak sepupu Thalita. Ia sengaja tidak memberi tahu Nico tentang kedatangannya untuk memberi kejutan.


Tok ... tok ... tok ... Thalita mengetuk pintu apartemen Nico.


"Surprise!" Teriak Thalita saat pintu dibuka.


"Thalita," ucap Nico saat melihat adik sepupunya itu ada di hadapannya, langsung saja ia menyambutnya dengan pelukan hangat.


Saat itu Alexa yang baru saja pulang dari mini market tidak sengaja melihat mereka berdua yang sedang berpelukan, air matanya lolos begitu saja karena merasa sedang melihat penghianatan ada di depan matanya.


.


.


.


.


.


Bersambung.....